Murtadha Muthahhari; Tentang Ideologi (Bagian 1)*
)
)
Malam itu, saya tidur lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena lelah. Habis pulang shalat Isya dari masjid, saya langsung tertidur. Kemudian, saya terbangun tengah malam, kira-kira pukul dua dinihari. Karena masih mengantuk, saya coba hidupkan TV untuk menghilangkan rasa kantuk. Saya mau tuju channel favorit saya, Discovery atau National Geographic. Tapi, saya terhenti di channel Cinemax. Judul film-nya menarik perhatian saya; “The Last Man On Planet Earth”.
Anda mungkin sudah pernah menontonnya. Lagian, ini mungkin bukan film baru. Hanya saja, tidakkah anda merasa, bahwa judul film itu menyimpan makna yang padat. “Laki-laki Terakhir di Planet Bumi”. Padat akan realitas dan padat akan prediksi. Padat akan realitas, karena memang jumlah wanita hari ini lebih banyak dibandingkan jumlah laki-laki. Padat akan prediksi, karena hal itu bisa saja terjadi di suatu waktu di masa depan.
Oh, tunggu dulu! Saya tidak sedang membicarakan sentimen gender. Bukan, bukan itu maksud saya. Saya justru sedang membicarakan keseimbangan.
Sejarah menunjukkan, bahwa ada kecenderungan masyarakat, bahkan dunia, untuk “menekan” kelahiran anak perempuan dan “menganjurkan” kelahiran anak laki-laki. Ini karena alasan tertentu. Saya tidak perlu ceritakan kenapa dan mengapa begitu. Anda sudah tahu. Dan ini, sebenarnya, sebuah “kejahatan sejarah”.
Menariknya, yang terjadi hari ini, tetap saja yang lebih banyak jumlahnya di dunia ini adalah jumlah perempuan. Saya tidak tahu persis, apakah jumlah perempuan ini lebih banyak akhir-akhir ini saja, atau memang sudah banyak dari dulunya. Terus terang, soal ini saya tidak punya data. Dan bukan ini yang ingin saya fokuskan pada pembicaraan ini.
Kita kembali ke cerita film itu. Kenapa terjadi “kekurangan” laki-laki di film itu? Karena laki-laki “dimusnahkan” oleh perempuan. Perempuan, memandang laki-laki sebagai sumber kekerasan di muka bumi ini. Laki-lakilah sumber kekacauan di dunia. Laki-laki dengan sifatnya yang kasar, dan cenderung ingin mendominasi, telah menyebabkan cita-cita akan tatanan dan peradaban dunia yang damai sukar untuk diwujudkan. Laki-lakilah yang merampok. Laki-lakilah yang memperkosa. Perang-perang besar yang terjadi di dunia adalah ide kaum laki-laki.
Pendek kata, bila ingin sebuah tatanan dunia yang damai, peradaban yang benar-benar beradab, tak pelak lagi, jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah “memusnahkan” kaum laki-laki. Dari sisi ini, terlihat jelas, laki-laki dipandang sebagai subjek realitas, bukan objek realitas.
Saya yakin, hampir semua anda, laki-laki ataupun perempuan, tidak setuju dengan pandangan ini. Karena, pada dasarnya, laki-laki dan perempuan adalah makhluk yang saling membutuhkan. Pada kasus lain, laki-laki dan perempuan, adalah dua subjek yang saling berhubungan terhadap objek tertentu.
Bukankah karena semakin tingginya (maaf) rok perempuan, mempengaruhi tingginya jumlah kejahatan seksual. Bukankah, kadangkala, perempuan sebagai salah satu alasan laki-laki melakukan kejahatan; perampokan, korupsi, penipuan, perkelahian, pembunuhan, dan sebagainya. Dalam konsep Islam, sejarah terjadinya pembunuhan pertama manusia oleh manusia, ikut membenarkan bahwa laki-laki dan perempuan adalah dua subjek yang berhubungan terhadap objek tertentu.
Tapi, sebaliknya, bukankah juga banyak kasus yang menunjukkan, bahwa akibat egoisme dan kasarnya perangai laki-laki, yang menyebabkan terjadinya keretakkan rumah tangga; perceraian, perselingkuhan, dan lain sebagainya. Lalu, dimana sebenarnya letak persoalan ini?
Film itu, secara tersirat, akhirnya juga menjawab bahwa kehadiran laki-laki adalah sebuah kebutuhan bagi perempuan, begitu pula sebaliknya. Laki-laki sangat banyak menjadi sebab dari akibat yang dilakukan perempuan, sebagaimana perempuan juga sangat banyak menjadi sebab dari akibat yang dilakukan laki-laki. Laki-laki dan perempuan adalah sebuah entitas dari sifat kemanusian yang sudah semestinya ada. Tegasnya lagi, ini sudah merupakan takdir Tuhan.
Oleh sebab itu, eksistensi laki-laki dan eksistensi perempuan itu bukanlah sebuah persaingan. Tapi, sebaliknya, eksistensi laki-laki itu melengkapi eksistensi perempuan, sebagaimana eksistensi perempuan itu melengkapi eksistensi laki-laki. Keseimbangan inilah yang mesti dijaga dan dihormati. Tampak klise memang. Tapi inilah yang sering terlupakan. Agama, bahkan sejarah (sebagai takdir Tuhan) banyak mengajarkan hal ini kepada kita.
Perkembangan terakhir, di China, ekses dari kebijakan “keluarga berencana” dengan satu anak, yang pada gilirannya masyarakatnya lebih banyak “mengusahakan” untuk melahirkan anak laki-laki, telah menimbulkan kekhawatiran baru dari pemerintah. Bila ini terus berlanjut, maka akan terjadi kekurangan perempuan di negara itu, yang berakibat terjadinya kekacauan dalam negara karena memperebutkan perempuan.
Akhirnya, pemerintah China melahirkan kebijakan baru. Yakni, apabila sebuah keluarga melahirkan anak perempuan, biaya pendidikannya dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi ditanggung oleh pemerintah. Ini bertujuan mendorong masyarakatnya untuk “berusaha” melahirkan anak perempuan.
Hal ini, semakin menunjukkan bahwa keseimbangan itu perlu. Walaupun pada lain sisi, dari segi persentase jumlah laki-laki dan perempuan di dunia, hal ini akan berakibat semakin menambah banyaknya jumlah perempuan.
Dalam pemahaman Islam, fenomena banyaknya jumlah perempuan ini, sebenarnya tidaklah mengherankan. Karena Nabi pun, beberapa ratus tahun yang lalu, telah mengatakan bahwa hal ini akan terjadi. Banyaknya jumlah perempuan, ketimbang jumlah laki-laki, adalah salah satu tanda dari tanda-tanda semakin dekatnya kiamat. Dan kiamat, bagi orang yang percaya, bukanlah sebuah berita duka. Sebaliknya, kiamat merupakan berita gembira. Karena saat itulah keadilan yang sejati ditegakkan.
Hati nurani yang ingin saya kupas di artikel itu adalah tentang sendi-sendi hati nurani berdasarkan tafsir Buya HAMKA dalam Al-Azhar tentang ayat-ayat yang membicarakan hati. Tapi, artikel itu urung diterbitkan karena masalah pertama tadi. Kalau saya terbitkan sekarang, rasanya tidak relevan lagi. Itulah susahnya kalau blog bertema ekonomi, politik, dan kebangsaan ini.
Saya tertarik, karena ini adalah ajang debat para calon pemimpin negeri ini, yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta beberapa hari yang lalu. Saya tertarik, karena ini adalah salah satu “hiburan” yang cukup menyenangkan. Tapi, saya tidak tertarik karena saya ingin melihat dan mencermati tentang fakta dan data yang mereka ungkap tentang bangsa dan negara, yang seharusnya ini yang paling perlu, karena pengungkapan mereka soal ini (betul kata Goenawan Mohamad) sangat dangkal. Dan saya yakin, ini bukanlah tujuan utama penyelenggaraan acara tersebut oleh sang tuan rumah.
Saya geli, karena debat para tim suksesnya setelah itu sudah hampir mirip dengan pertengkaran anak-anak. Hampir tidak lagi menggunakan logika dan penuh dengan emosi. Saya risau, karena karena perdebatan itu sudah jauh dari standar etika yang santun. Emosi lebih dikedepankan dalam mematahkan argumen lawan ketimbang berbicara realitas kebangsaan. Pada saat itu argumen lawan, yang mungkin sedikit bermuatan logika dan fakta, tidak lagi menjadi masukan yang bisa diterima. Saling potong dan bagaimana membungkam lawan dengan cara apapun menjadi halal. Sehingga ajang itu sudah menjadi ajang bunuh membunuh opini, bukan lagi menghidupkan opini. Ajang itu telah menjadi saling bunuh membunuh logika, bukan lagi menghidupkan logika.
Socrates, dulunya, ketika ia bertanya dan meminta jawab. Ketika ia membantah dan dibantah. Pada saat itu ia tidak bermaksud mematahkan lawan bicaranya hingga takluk. Teknik ini yang kemudian dikenal dengan teknik eclenchus. Dengan teknik ini ia bermaksud untuk menggugah orang untuk berpikir, mengoreksi hidup, dan menjadi lebih bijaksana. Ia tidak hanya mengoreksi orang. Ia juga mengoreksi dirinya dan meminta orang mengoreksi dirinya. Ia menghidupkan logika, bukan membunuh logika.
Namun, “luar biasa” hari ini apa yang terjadi pada debat calon presiden dan calon wakil presiden kita, terutama debat para tim suksesnya. Logika dan rasionalitas tertutup rapat di bilik-bilik besi emosi dan nafsu. Saat logika dan rasionalitas tertutup, saat itulah kesadaran akan diri sendiri dan orang lain menjadi hilang. Pembicaraan-pembicaraan yang keluar pun menjadi pembicaraan-pembicaraan yang tidak sadar. Maka, hampir dapat disimpulkan, debat yang terjadi ketika itu adalah debat yang tidak sadar.
Saya tidak tahu apa yang ada di benak masyarakat yang menyaksikan debat itu. Apakah juga sama dengan apa yang ada di benak saya? Entahlah…!
Dan yang lebih “menarik” lagi, para pemandu debat, yang notabene para penyiar televisi yang menayangkan acara tersebut, mencoba mengejar, memancing, menambah panas, dan menambah arah pembicaraan menjadi semakin tak berlogika. Mereka tidak lagi menjadi “moderator” yang asal katanya adalah “moderat”, yang berarti bijaksana. Sesekali mereka bertepuk tangan untuk sebuah argumen yang dangkal, yang disambut pula riuh tepuk tangan dan sorak para pendukung yang hadir di acara tersebut. Acara itu pun menjadi lebih mirip sebuah pertandingan, bukan lagi debat calon pemimpin bangsa. Pada saat itu, pendangkalan itu semakin terasa.
Maaf, kawan. Saya “risau” melihat acara itu. Saya jadi teringat apa yang dikatakan Pak Enceh di facebook, “Katakan pada rakyat, demokrasi harus berganti aturan main. Yang menang bukan suara terbanyak. Tapi, yang mendapat suara paling sedikit. Agar setiap kandidat dapat berkampanye dengan santun. Jangan pilih saya. Pilihlah si anu, pilihlah si polan, dia baik, dia memiliki kemampuan… Saya mendukung dia.”