Filed under Masalah Bangsa
“Terpaksa Melahirkan Seorang Presiden”
Saya baca facebook-nya Pak Husnu Abadi, saya menemukan hal yang menarik di sana. Disitu Pak Husnu menulis,
Jumat malam (19 Juni 2009), saya hadir dalam acara pameran seni rupa dari pematung Sjamsul Makruf di Taman Budaya Mataram, Lombok. Ada sebuah patung, berupa ibu yang kurus kering yang sedang hamil. Dan hamilnya memang besar.
Judul patung itu adalah “Terpaksa Melahirkan Seorang Presiden”. Dalam keterangannya Sjamsul menulis, “bahwa untuk jembatan Suramadu, memerlukan Rp.5,5 triliun, dan akan kita nikmati selama 100 tahun bila negeri ini mampu merawatnya. Sedangkan untuk menghasilkan seorang presiden, yang hanya selama 5 tahun, APBN harus menganggarkan Rp.9 triliun atau Rp.10 triliun. Oh, nasib negeri yang miskin yang punya selera besar dalam berdemokrasi ……..”
Pendapat Sjamsul Makruf, bila mau kita nilai lebih jauh, masih terasa abstrak memang. Bahkan, bisa saja cenderung paradoksal, apabila presiden yang “dilahirkan” dari pesta demokrasi dengan biaya yang sebesar itu adalah benar-benar presiden yang berkualitas, yang mampu mengantarkan bangsa ini kepada cita-citanya. Biaya sebesar itu akan terasa kecil dan tidak sebanding. Tapi, Sjamsul akan menjadi benar, apabila yang terjadi adalah sebaliknya.
Nah, bagaimana penilaian kita? Tentunya berbeda-beda pula. Tidak dapat dipaksakan sama. Karena penilaian dipengaruhi persepsi, dan persepsi dipengaruhi oleh faktor personal dan faktor situasional. (Lihat Jalaluddin Rakhmat, 2004:51 atau lihat juga David Krech dan Richard S. Crutchfield, 1977:235)
Lupakan perbedaan penilaian kita. Mari lihat kenyataan bangsa ini. Mulai dari jumlah penduduk yang terus membengkak mencapai 240 juta jiwa, angka kemiskinan yang masih tinggi, korupsi, pengangguran, kriminalitas, kesehatan dan pelayanan kesehatan, kejahatan seksual, penurunan moral, tayangan TV yang tidak berkualitas, utang luar negeri yang meningkat Rp.400 triliun dalam empat tahun terakhir (walaupun dari sisi ratio utang terhadap GDP hal itu tidak jadi masalah), sampai kepada persoalan PLN, adalah sebagian dari sekian banyak dereten agenda yang harus diselesaikan.
Masih persoalan lama memang. Tapi, inilah yang terus mendera bangsa ini. Anda sudah tahu itu. Sebagian anda mungkin sudah malas mendengarnya. Dan saya tidak bermaksud untuk membahas masalah itu satu persatu saat ini.
Saya dan anda telah menentukan pilihan beberapa hari yang lalu. Terlepas dari pilihan saya dan pilihan anda itu menjadi pemenang atau tidak, presiden dari hasil “persalinan demokrasi” tahun 2009 ini telah (atau hampir) “dilahirkan”. Mari, kita semua jangan sampai mematikan sesuatu yang tidak boleh mati dalam diri kita, yaitu harapan.
Ya, harapan tidak boleh mati dalam diri kita. Kita juga sadar, menyelesaikan masalah bangsa ini tidak semudah membalik telapak tangan. Oleh karena itu, saya dan anda, terus berharap pemimpin yang “dilahirkan” adalah pemimpin yang punya niat baik dan dibantu oleh orang-orang yang punya niat baik pula, membentuk bangsa yang punya niat baik, menuju negara dalam situasi yang baik.
Kalau tidak, ritualitas “persalinan demokrasi” kita setiap lima tahunnya, benar kata Sjamsul, hanya akan membuat kita terus “terpaksa melahirkan seorang presiden”…
pertamax neh, jadi bisa koment meski dikit tapi salut judulnya punya makna yang dalam jadi penasaran membaca sampe habis, terpaksa sepertinya lahir premature dan musti ditangani sama orang2 yg ahli…begitukah…??
[Reply]
Hehe… Tergantung bagaimana cara anda menterjemahkannya, Riel. Silakan saja… Ini forum merdeka. It's Okay!
[Reply]
artikelnya keren bgt euy,,,,,,,,,,,
bakalan sering mampir dah !!!!!!
main ke blog saya juga ya !!!
[Reply]
@Andry: Ok, bozzz… Thanks, ya…
[Reply]
hehe sy suka sekali judulnya "terpaksa melahirkan seorang presiden"mantabb nih artikel mengupas secara mendalam, trims infonya kawan.sukses selalu
salam
[Reply]
[...] “luar biasa” hari ini apa yang terjadi pada debat calon presiden dan calon wakil presiden kita, terutama debat para tim suksesnya. Logika dan rasionalitas tertutup [...]
[...] rasial, kebangsaan, dan kesukuan menguasai masyarakat-masyarakat manusia. Semangat ini, kemudian, melahirkan serangkaian ambisi – sekalipun tidak manusiawi – yang mempersatukan masing-masing masyarakat dan memberinya [...]
[...] lima belas janji Presiden Terpilih (kembali) SBY yang diucapkannya ketika kampanye terakhirnya di stadion Gelora Bung Karno. Saya [...]