Filed under Ideologi
Murtadha Muthahhari; Tentang Ideologi (Bagian 1)*
Halo, teman-teman semua, pengunjung blog ini. Terlebih dahulu, saya ingin menyapa anda semua. Apa kabar anda hari ini? Saya harap anda baik-baik saja, dan senantiasa bersemangat. Walau apapun cabaran yang menghalangi jalan kehidupan anda. Oke?
Hari ini, kita akan bercerita tentang ideologi. Bagi, sebagian orang, pembahasan tentang ideologi ini “cukup berat”. Saya, sudah upayakan, pembahasan (tulisan ini) enak dan ringan untuk dibaca. Dan, mudah-mudahan juga, mudah untuk dipahami.
Tentang ideologi, yang akan kita kupas nantinya, adalah dalam perspektif salah seorang ulama dan pemikir besar Iran, Murtadha Muthahhari. So, apa yang saya tulis disini, adalah apa yang saya ambil dari pemikiran-pemikiran beliau tentang ideologi.
Tapi, saya mohon maaf, terpaksa membagi tulisan ini menjadi dua bagian. Karena, bila disatukan, tulisan ini akan menjadi sangat panjang. Oleh sebab itu, dengan rendah hati, bila ada diantara pembaca yang berpredikat pakar dalam masalah ideologi atau filsafat, kemudian menginginkan sebuah diskusi yang komprehensif, sebaiknya ditunggu terbitnya tulisan bagian kedua. Baiklah, kita mulai saja.
Ada dua jenis aktifitas manusia; aktifitas atas dasar kesenangan dan aktifitas atas dasar kepentingan.
Aktifitas atas dasar kesenangan didorong oleh naluri manusia. Sebagian orang menyebut sisi naluriah ini sebagai sisi hewani manusia. Kenapa demikian? Karena aktifitas yang menyenangkan dilakukan manusia untuk mendapat kesenangan, atau untuk melepaskan diri dari kepedihan yang terjadi akibat pengaruh langsung nalurinya. Naluri merupakan karakter pembawaan dan kebiasaan, yang merupakan kecenderungan yang terbentuk akibat lingkungan atau pengalaman.
Misalnya, kalau orang merasa haus, dia akan mengambil segelas air. Kalau seseorang melihat binatang penyengat, dia akan mengambil langkah seribu. Kalau seseorang ingin merokok, maka dia akan menyalakan rokok. Bila dia mengantuk, maka dia akan tidur. Dan kalau dia terangsang, dia akan menemui lawan jenisnya.
Sedangkan aktifitas atas dasar kepentingan, didorong oleh akal manusia. Sebagian orang, menyebut aktifitas ini, adalah aktifitas manusia yang bersifat politik. Politik merupakan aktifitas. Aktifitas politik ini tidak menarik dan tidak juga menjijikan. Naluri manusia, tidak mendorong dan tidak juga menjauhkannya dari aktifitas seperti itu.
Manusia melakukan aktifitas seperti itu, atau menghindari aktifitas seperti itu, atas dasar kehendaknya sendiri. Karena dia merasa berkepentingan untuk melakukannya atau tidak melakukannya. Dengan kata lain, dalam kasus ini, penyebab utama dan kekuatan yang mendorong manusia untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu adalah kepentingannya. Bukan kesenangannya.
Saya kira, pada tahap ini, pemikiran Murtadha Muthahhari tentang perbedaan kedua jenis aktifitas manusia ini, sudah dapat disimpulkan. Yang mendorong manusia untuk memperoleh kesenangan adalah nalurinya, sedangkan yang mendorong manusia untuk melakukan kepentingannya adalah akal. Kesenangan merangsang hasrat, kepentingan membangkitkan kehendak.
Semakin kuat akal dan kehendak, semakin kuat kendalinya akan naluri. Sekalipun kecenderungannya menghendaki sebaliknya. Semakin maju akal dan kehendak seseorang, semakin bersifat politik aktifitasnya, bukannya bersifat kesenangan. Sebaliknya, semakin dekat dia dengan cakrawala sisi hewaninya, aktifitasnya semakin bersifat kesenangan. Karena aktifitas yang bersifat mencari kesenangan, kebanyakan merupakan aktifitas hewaniah.
Dalam melakukan aktifitas politiknya, manusia pada setiap tahap, mempraktikkan teori atau rencana.
Nah, perbuatan politik tidak mendatangkan kesenangan, karena tidak memberikan hasil langsung. Namun demikian, perbuatan politik, memberikan kepuasan. Kesenangan dan kesulitan, lazim dialami oleh manusia dan binatang. Namun, kebahagian dan ketidakbahagiaan, kepuasan dan kekecewaan, hanya dialami oleh manusia. Begitu pula dengan menghasratkan sesuatu, hanya dialami oleh manusia. Kepuasan, kekecewaan, dan berkeinginan merupakan fungsi-fungsi mental. Ketiga hal ini, hanya ada dalam wilayah pikiran manusia, bukan dalam wilayah persepsi inderawi.
Sementara, kebahagiaan, yang menjadi tujuan final manusia, termasuk dalam hal (atau masalah) yang masih abstrak (atau mendua). Sekalipun konsepsi mengenai kebahagiaan sekilas tampak jelas.
Masih belum jelas, apa sebenarnya kebahagiaan, dan apa saja yang mewujudkan kebahagiaan. Manusia sendiri dan kemampuannya belum diketahui. Sepanjang manusia belum diketahui, mana mungkin kita dapat mengetahui apa sebenarnya kebahagiaan, dan bagaimana memperoleh kebahagiaan.
Ditambah lagi, manusia adalah makhluk sosial. Kehidupan sosial manusia, membawa beribu-ribu problem bagi dirinya, yang tak dapat dipecahkannya. Namun begitu, tugasnya haruslah jelas. Karena manusia adalah makhluk sosial, maka kebahagiaannya, aspirasinya, standar baik dan buruknya, jalan hidupnya, pilihannya akan sarana hidup, berkait kelindan dengan kebahagiaan sesama manusia; aspirasi mereka, standar baik dan buruk mereka, jalan hidup mereka, dan pilihan mereka akan sarana hidup.
Manusia tidak dapat memilih jalannya tanpa bergantung pada sesamanya. Manusia, harus mencari kebahagiaannya, di jalan yang membawa masyarakat ke arah kebahagiaan dan kesempurnaan. Terlebih lagi, jika (dalam konsepsi Islam) dikaitkan dengan masalah roh yang abadi, dan akal yang tidak memiliki pengalaman dengan kehidupan akhirat, maka problemnya menjadi jauh lebih sulit.
Pada tahap inilah, untuk mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan, Muthahhari memandang, perlunya manusia akan mazhab atau ideologi.
Lalu, apakah ideologi itu? Apakah defenisi ideologi itu? Alasan-alasan apakah yang lebih menguatkan bahwa manusia perlu akan sebuah mazhab atau ideologi? Bagaimana manusia bila tanpa ideologi? Apa sajakah jenis-jenis ideologi itu? Dan apakah, menurut Muthahhari, ideologi yang ideal bagi ummat manusia? Dan kenapa mesti demikian?
Baca lanjutannya di Murtadha Muthahhari; Tentang Ideologi (Bagian 2)*
*(Lihat Murtadha Muthahhari dalam “Man and Universe”, Ansariyan Publications, Qum–Iran:1997).
sip mas, mantap postnya, saya suka dengan kata-kata "Manusia tidak dapat memilih jalannya tanpa bergantung pada sesamanya"
salam sukses
[Reply]
Thanks, Mas Heru. Moga bermanfaat…
[Reply]
mantabs nih artikelnya mas..
tapi saya terkadang heran dengan ideologi.. kenapa masih banyak orang yang terlalu memaksakan ideologinya tanpa memandang akan banyaknya ideologi yang ada di dunia ini? dan tidak jarang pula akibat dari pemaksaan ideologi ini, banyak terjadi pertumpahan darah yang hanya sekedar mempertahankan/menanamkan ideologi.. mudah2an keheranan saya ini nanti bisa dibahas di postingan sampean selanjutnya.. heheheh..
salam kenal ya mas..
[Reply]
Ok, mas (saya jadi mau tertawa mau bilang "mas apa", hehe…:D)Ditunggu aja postingan berikutnya. Semuanya akan terjawab. Ok?
[Reply]
Oke deh mas aku tunggu lanjutannya……….
[Reply]
Topik yang cukup berat, tapi anda paparkan dengan jelas..
Saya menyimpulkan kita harus memiliki pengendalian diri yang baik dalam memenuhi "aktifitas atas dasar kesenangan" dan "aktifitas atas dasar kepentingan" karena segala yang berlebihan itu tidak baik..
[Reply]
@Kuliah Gratis: Mas kayaknya pakar filsafat yang saya maksud pada kata pembuka nih. Hehe…:D Thanks, mas…
@wellsen: kedua jenis aktifitas itu ada pada setia diri manusia, mas wellsen…
[Reply]
kunjungan perdana, salam kenal ya..dan sukses ya mas…bersambung nich seperti sinetron, di tunguu episode berikutnya,,heheh
[Reply]
@yanuar: terpaksa, mas. Kalo nggak bisa panjang banget. Mudah2an pengantar-nya ini dapat dipahami dan tidak rancu. Salam kenal dan sukses juga buat mas…
[Reply]
wah,pencerahan yang manis mas..
THX
[Reply]
@ajir: Thankyuuuu, mas ajir:D
[Reply]
Met pagi, di pagi yang cerah ini saya dapet pencerahan dari blog yg cerah
[Reply]
seep dah… mantap artikelnya mas…
[Reply]
@Mas Bambang 'n Mas T. Wahyudi: Trims banyak, mas…
[Reply]
another opinion
[Reply]
@suwung: Woalah, wung… wung…, yang kyk gitu aja dikomen, hehe…:D Your blog very nice, Wung… Tq!
[Reply]
wah….ta tunggu postingan kelanjutannya
[Reply]
@nur ichsan: Ok, my friend…:D
[Reply]
postingan yang keren….
saya pernah mbaca beberapa buku beliau yang diterjemahkan ke bahasa indonesia.
salam kenal,
=========
maaf,
nitip pesen buat semuanya: yuk, ikutan vote di sini: Jadikan Pulau Komodo Sebagai 7 Keajaiban Dunia Jangan sampai kita kehilangan 'Borobudur' lagi! (he.. he..)
[Reply]
@alamendah: silakan, mas. O, ya… suka juga sama Muthahhari ya, mas. Sip dah, kapan2 kali kita bisa sharing. Thanks kunjungannya, mas…
[Reply]
info yang keren mantap aku juga ingin mencapai kebahaiaan dunia
sip sip
[Reply]
@an: Thanks berats, bro..
[Reply]
satu lagi:
Manusia tidak bisa berjalan tanpa tuntunan Tuhan
[Reply]
@negeri hijau: yes, my friend…
[Reply]
nice artikel… nice pot sob..
lam kenal ya…
[Reply]
@Siais: Tq, mbak… Dibaca gak artikelnya? Hehe..:D
[Reply]
Alhamdulillah Sehat Kang…. Luar Biasa Ideologinya kang….
[Reply]
Topiknya berat bos…..masih nunggu tulisan ke dua neh untuk berkomentar….terutama soal ideologi yang ideal..
[Reply]
@Mus: Alhamdulillah, Mus. Tq, yaa…
@esha: Ok, bozz…
[Reply]
saya setuju dengan mas heru
nice artikel mas
[Reply]
@catur ariadie: Thanks, mas…
[Reply]
bentar2…. kaget juga udah sepanjang ini ternyata masih ada sambungannya….
baca ulang lagi…
owh… jadi kita harus punya ideologi.. ideologi macam apa? bersambung…. Hehehehehe
[Reply]
@ayamcinta: hehehe…, tq yam… bersambung:D
[Reply]
topik yang berat
tapi tetap ditunggu artikel berikutnya
[Reply]
trims…yah kunjungan ke blog sy,kunjungan perdana sy di blog mas cukup berkesan krn langsung disuguhi topik yg agak berat tp bermanfaat…
[Reply]
keren dan mantap artikel nya
ngomong2 soal hasrat
bahwa desakan yang paling dalam pada sifat manusia adalah hasrat untuk menjadi penting.
kalo ada yang salah dikoreksi aja mas, hehe.. ini berdasarkan buku Dale Carnegie yang pernah saya baca.
tak tunggu yang ke dua mas
[Reply]
topik artikel na bagus tuh.
mantap info ideologi na
thumbs up.
[Reply]
topik artikel na bagus tuh.
mantap info ideologi na
thumbs up.
[Reply]
mantapnya nih artikelnya…tapi belum baca nih sambungannya…thanks ya
[Reply]
@attayaya: Ok, bg. Sila ditunggu…
@ilham: Trims atas apresiasinya, mas. Dan trims juga atas kunjungan baliknya…
@candradot.com: Silakan, Mas Candra. Disini kemerdekaan dan perbedaan pendapat dihargai setinggi-tingginya (asal arahnya positif aja, hehe..:D). Yang mas sebutkan itu bagian dari aktifitas manusia yg bersifat politik. Namun, itu selaras dengan kesenangan. Pada periode tertentu, aktifitas politik bisa selaras dengan kesenangan. Soal ini, mungkin perlu penjelasan pada bagian lain disuatu saat. Tq atas opininya, mas Candra…
@sOFIa: Trims, Sofia. Sering2 aja kesini yaaa…
@angga chen: Trims, mas Angga. Ditunggu mas, yaa..
[Reply]
Mantab deh….
diunggu deh kelanjutan ceritanya…
inspiratif banget ceritanya…
[Reply]
@Pandu: Thanks, my friend. Ditunggu ya…
[Reply]
kepentingan dan keinginan itu memang ada dalam ……
untuk mencapai tujuan memang banyak yg harus…..
itu pendapat saya mas, maaf kalau ada yg berpendapat lain.
oke lanjutan komennya setelah ada lanjutan postingannya.
salam persahabatan antar sesama blogger.
[Reply]
@pengembara: wah, mentang2 postingan ini bersambung, komennya pun bersambung juga ya… Ok, mungkin diskusinya akan lebih menarik pada bagian kedua. Trims, atas opininya sahabat…
[Reply]
wah artikel yang menarik Mas. Nunggu lanjutannya aja dulu. Kunjungan Perdana. Salam kenal. Semoga sehat dan sukses selalu Ya. Salam
[Reply]
@arkasala: Thanks sob, ditunggu aja yaa…
[Reply]
mantap artikelnya brother.. nunggu part2 ah
[Reply]
Artikel yang menarik, jadi pengen nunggu kelanjutannya gimana. Oh ya thanks ya dah mampir ke blog aku.
[Reply]
@pakarnablogger: thanks, sobat…
@Penjaga Madrasah: sila ditunggu, bang. Trims juga udah berkunjung ke sini…
[Reply]
wo..berat…berat mas…Ideologi memang sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari masing-masing individu dimuka bumi ini.
salam,
Ricky
Businessman
[Reply]
@Ricky: Thankyuu, mas Ricky, udah mau main kemari. Memang demikian, mas. Saya setuju dengan pendapat anda… Salam kembali untuk anda, mas Ricky…
[Reply]
mulai paham sedikit2…
aktifitas manusia kemudian ideologi…
mohon maaf mas saya tidak berkomentar dulu…
takut gak nyambung…he…he…
[Reply]
@IwanKus: Gapapa, Mas Iwan… Kita sama2 belajar. Kalo ada yang salah dari saya, saya juga mohon dikoreksi…
[Reply]
duh, Mas Sudes bunda punya buku ini sudah lama sekali, namun nggak pernah dibaca sampai habis, krn tebal nya dan penyakit malas yg datang.
terima kasih Mas Sudes telah menurunkan tulisan ini, bunda lebih suka mebaca disini saja, krn nggak kelihatan bahwa bukunya tebal he………he…..
salam.
[Reply]
Tentang Kebenaran dan Kebaikan…
Empat hari saya terpuruk di sebuah desa di pedalaman dalam sebuah kegiatan survey, selama itu pula saya tak bersentuhan dengan komputer dan internet. Lalu, ketika saya pulang dan melihat blog ini, saya malah bingung mau update apa. Saya putuskan saja u…
[...] pergi meninggalkan tanah kelahirannya atau kampung halamannya. Kepergian tersebut akan mengubah pandangan manusia terhadap alam. Mengubahnya menjadi pandangan yang luas dan menyeluruh, menghilangkan kemerosotan [...]
[...] Mampu menyucikan tujuan, menuluskan [...]
[...] Nah, sobat-sobat semua, inilah lanjutan cerita Tentang Ideologi Bagian Pertama. [...]
[...] ini sudah jelas merupakan dampak ideologis. Saya kira, kita semua sepakat, bahwa dengan mempelajari masalah atheisme ini, bukan berarti [...]
[...] itu. Pengetahuan saya tentang ideologi tidaklah banyak. Jika dulu saya pernah posting tulisan Tentang Ideologi, itu hanyalah sebatas wacana saja. Memang, dulu semasa aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), [...]
[...] Man and Universe, Murtadha Muthahhari menyebutkan ada lima penyebab kesalahan [...]