Refleksi dan Catatan-Catatan Kecil

Filed under Ideologi

Murtadha Muthahhari; Tentang Ideologi (Bagian 2)*

Nah, sobat-sobat semua, inilah lanjutan cerita Tentang Ideologi Bagian Pertama. Kita mulai dengan apa saja jenis-jenis ideologi itu.

Pertama, ideologi kelas. Ideologi kelas didedikasikan untuk kelas, kelompok atau lapisan masyarakat tertentu. Tujuannya adalah emansipasi (atau supremasi) kelompok tertentu.

Tanpa disebutkan contohnya, saya kira, anda sudah tahu apa yang dimaksud Muthahhari dengan ideologi kelas ini. Saya tak ingin menyebutkan contohnya satu persatu. Namun, sebagai bayangan, bukankah anda pernah mendengar perjuangan kaum buruh, pergerakan kaum petani, gerakan kelas pekerja, dan seterusnya. Atau, yang lebih tragis, penindasan kelompok orang kaya terhadap kaum lemah atau miskin. Semua peristiwa itu, “digerakkan” oleh ideologi kelas tertentu.

Yang kedua, ideologi manusiawi. Ideologi manusiawi adalah ideologi yang didedikasikan untuk seluruh umat manusia, bukan untuk kelas, ras, atau masyarakat tertentu saja. Ideologi ini menganjurkan orang kaya untuk menyayangi dan menghormati yang miskin. Sebaliknya juga, ia menganjurkan untuk menghargai yang kaya atas segala usaha dan pengabdiannya. Ideologi ini, mencakup konsepsi tentang manusia dan alam semesta secara menyeluruh. Penjelasan lengkap, tentang jenis ideologi yang kedua ini, akan kita ungkap pada pembahasan topik ini selanjutnya.

Pertanyaannya sekarang, ideologi jenis manakah dari kedua jenis ideologi itu yang ideal menurut Murtadha Muthahhari? (Saya kira, anda pasti sudah tahu) tentu saja yang kedua. Mengapa?

Untuk menjelaskan pertanyaan ini, tentu saja, kita harus merujuk kepada bagaimana Muthahhari mendefinisikan ideologi.

Mazhab pemikiran atau ideologi, bagi Muthahhari, diartikan sebagai teori umum, atau sistem yang komprehensif dan harmonis, yang tujuan pokoknya adalah kesempurnaan manusia dan kebahagiaan bagi semua.

Sistem ini, harus merinci prinsip-prinsip pokok, berbagai metode, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, perbuatan baik dan buruk, tujuan dan sarana, tuntutan dan pemecahannya, tanggung jawab dan kewajiban. Dan, juga, harus menjadi sumber yang mendorong semua individu untuk menjalankan kewajiban. Sistem inilah (yang dalam terminologi Al-Qur’an) disebut dengan “syari’at” (Islam).

Lalu, timbul pertanyaan, apakah Islam itu ideologi?

Bila patokkannya adalah Muthahhari, maka jawabannya “Ya”. Nah, pendapat ini tampak sedikit (atau jelas) berbeda dengan sebagian filosof yang menganggap ideologi adalah murni semata-mata sebagai hasil pemikiran manusia. Sementara, syari’at lahir atas tuntunan Ilahiah.

Tapi, Muthahhari, bukannya tanpa alasan menyatakan Islam adalah ideologi. Sejak awal, atau setidaknya sejak perkembangan kehidupan sosial, melahirkan begitu banyak perselisihan. Di masa dahulu, kecenderungan rasial, kebangsaan, dan kesukuan menguasai masyarakat-masyarakat manusia. Semangat ini, kemudian, melahirkan serangkaian ambisi – sekalipun tidak manusiawi – yang mempersatukan masing-masing masyarakat dan memberinya orientasi tertentu.

Nah, sekarang, kemajuan ilmu pengetahuan dan akal telah melemahkan ikatan-ikatan serupa itu. Watak ilmu pengetahuan adalah cenderung kepada individualisme, melemahkan sentimen dan ikatan yang didasarkan pada sentimen.

Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian pertama, meskipun aktifitas politik manusia penting sekali bagi sisi manusiawinya, namun aktifitas itu saja (apapun kualitasnya) belumlah cukup untuk memberikan karakteristik manusiawi kepada semua aktifitas manusia. Akal, pengetahuan, dan perencanaan hanyalah separuh dari sisi manusiawi manusia. Aktifitas manusia, disamping rasional dan sadar, baru dapat disebut manusiawi apabila sesuai dengan kecenderungan yang lebih tinggi. Kalau tidak, maka aktifitas kriminal pun terkadang perencanaan dan pelaksanaannya sangat bagus. Rencana imperialisme yang jahat menunjukkan fakta ini.

Dewasa ini, lebih daripada sebelumnya, manusia membutuhkan filsafat hidup. Sebuah filsafat yang mampu menarik perhatiannya kepada realitas di luar para individu, dan diluar kepentingan mereka. Sebuah filsafat hidup yang rasional dan dipilih secara sadar. Atau, dengan kata lain, sebuah ideologi yang komprehensif dan sempurna, yang dapat mempersatukan umat manusia dewasa ini, dan malah umat manusia di masa depan. Memberi manusia orientasi, ideal bersama, dan standar bersama untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah.

Lalu, siapa yang dapat merumuskan ideologi seperti itu? Tak pelak lagi, akal para individu tak dapat merumuskannya. Dapatkah akal kolektif merumuskannya? Bayangkan saja; dapatkah manusia, dengan menggunakan segenap pengalamannya, serta informasi lama dan barunya, merumuskan ideologi seperti itu? Kalau kita akui, bahwa manusia tidak mengenal dirinya sendiri, maka mana mungkin kita berharap manusia mengenal masyarakat manusia dan kesejahteraan sosial.

Lantas, harus bagaimana? Bila saja, konsepsi kita tentang alam semesta benar, dan kita percaya bahwa dunia memiliki sistem yang seimbang, dan tak ada yang tak beres dan tak masuk akal pada dunia, maka harus kita akui bahwa mesin kreatif yang hebat ini memperhatikan masalah besar ini, dan sudah merinci skema pokok sebuah ideologi dari cakrawala yang berada di atas cakrawala akal manusia. Yakni, dari cakrawala wahyu (prinsip kenabian). Kerja akal (dan termasuk juga ilmu pengetahuan) mengikuti skema ini.

Sampai disini, menjadi jelas, tanpa ideologi manusia akan berada dalam kebingungan dan salah. Lalu, apakah arti dari mengikuti ideologi itu? Ini sekaligus menjawab pertanyaan sahabat saya Kucrit. Mengikuti ideologi adalah meyakini ideologi tersebut. Sedangkan keyakinan, tidak dapat dipaksakan. Dan, juga, tidak dapat dipandang sebagai masalah praktis. Orang dapat saja dipaksa untuk tunduk kepada sesuatu. Tapi, ideologi tidak menuntut ketundukkan. Yang dituntut ideologi adalah keyakinan. Ideologi adalah untuk diterima dan dimengerti.

Ideologi, yang bermanfaat, harus didasarkan pada konsepsi tentang dunia yang dapat meyakinkan akal dan memupuk pikiran. Dan, juga, harus mampu menangkap sasaran yang menarik dari konsepsinya tentang alam semesta. Keyakinan dan semangat, merupakan dua unsur dasar dari agama. Kedua unsur ini, secara bersama-sama membentuk ulang dunia.

So?

*(Lihat Murtadha Muthahhari dalam “Man and Universe”, Ansariyan Publications, Qum – Iran:1997).

50 Responses to “Murtadha Muthahhari; Tentang Ideologi (Bagian 2)*”

  1. kucrit says:

    biyuh…. saya perlu dua kali mbaca ulasan ini.. tinggi banget bahasanya.. tapi sedikit-sedikit saya bisa nangkap ulasan sampean. dan terima kasih atas jawaban yang telah sampean berikan..
    Setelah membaca tulisan sampean ini, jadi tahu kalo ideologi menurut murtadha ada dua…
    sebenarnya masih ada pertanyaan lagi dari saya.. tapi agaknya sekarang masih bingung ngatur kata-katanya.. ntar kalo dah oke nih otak, tak komentar lagi ya.. hihihihi.. salut…. dan salam sukses…

    [Reply]

  2. Khery Sudeska says:

    @kucrit: Silakan, Sobat… Hehehe…:D

    [Reply]

  3. an says:

    wah 2 kali aku malah 3x nich ya begitulah sebuah ideologi karena setiap pemikiran orang berbeda-beda nice poting sobat!

    [Reply]

  4. Khery Sudeska says:

    @an: dibaca aja pelan2, sob… Saya mah pertama baca di bukunya juga gak terlalu ngerti. Hehe..:D But, baca terus berulang-ulang…

    [Reply]

  5. candradot.com says:

    kucrit baca 2 X
    an baca 3 X
    aku 17 kali deh…

    [Reply]

  6. hill says:

    kunjungan perdana, salam kenal :) artikel di blog ini bgs2, thnxs ya

    salam

    hill

    [Reply]

  7. rezKY p-RA-tama says:

    numpang ngasi komen!!!

    [Reply]

  8. ruri says:

    ninggalin jejak…
    ke tempat ku ya…

    [Reply]

  9. bisnis online | heru says:

    ideologi yang dimiliki setiap manusia, selalu menjadi ukuran bagaimana manusia itu memiliki pandangan tentang bagaimana cara menjalani hidup ini dan mau kemana arah dan tujuan hidup,nice post mas salam sukses selalu

    [Reply]

  10. Wellsen says:

    Pertama, saya setuju bahwa orang yang memaksakan ideologi nya ke orang lain adalah konyol dan tidak etis. Sebab setiap orang punya keyakinan masing2, persepsi masing2, model dunia masing2. Tidak bijak untuk memaksakan semua orang mengikuti ideologi kita, apalagi sampai pertumpahan darah segala..

    Lalu, saya juga setuju dengan "ideologi manusiawi" yang dijabarkan Pak Murtadha dengan luar biasa sekali. Seandainya orang bisa berpikir berdasarkan kesejahteraan umat manusia, bukan berdasarkan golongan ataupun kelas nya sendiri, tentu dunia tempat kita hidup ini akan damai tentram :)

    [Reply]

  11. Khery Sudeska says:

    @candradot.com: Wah, masa kalah ama Kucrit dan An, hehe..:D

    @hill: salam kenal juga, sob… thanks udah kemari, moga silaturahmi kita selanjutnya langgeng. Blogmu juga sangat menyenangkan sobat… Sangat meng-inspirasi… Nice…

    @rezky pratama: silakan, my friend… Tunggu saja kunjungan saya ke rumahmu, sob…

    @ruri: asal kakinya dibesihkan dulu yaaa… hehe..:D, Ok, sob… Saya akan ke sana…

    @heru: Tks, mas Heru… U'r best my friend…

    @wellsen: Yes, mas Wellsen… Saya spendapat dengan anda, sobat…

    [Reply]

  12. nakjaDimande says:

    Sudeskaa.. bagaimana caranya bisa menulis sepanjang ini..???
    bundo nulis 1 paragraf saja sudah pusing, ujungnya bakal mengambang tak jelas.. 20 jempol buat sudeska..!!!

    [Reply]

  13. Khery Sudeska says:

    @nakjaDimande: Bundo terlalu memuji… Ini kan hanya interpretasi saya saja atas pemikiran Muthahhari, sebagaimana telah saya jelaskan pada bagian pertama. Sebagiannya, memang, saya jelaskan dalam bahasa saya…:D

    [Reply]

  14. Khery Sudeska says:

    @nakjaDimande: But, Bundo sangat OK dalam merangkai puisi… Kata2 Bundo dalam dan penuh makna bila sudah berpuisi… Saya salut…:)

    [Reply]

  15. Irwan M Santika says:

    Malam mas, sya udh berapa kali berkunjung ke blog ini ya :-) jgn2 baru pertama kali nih :)

    Jika disamperin baru saya berkunjung, duh maaf. jdi malu nih :)

    Blm comment untuk artikelnya mas, malem jumat ini saya rasanya ko lemes banget ya, jam segini udh mulai ngantuk2 he hee. bru kuat baca comment2 pendek.

    Klo maksain comment tanpa baca dulu, nanti bisa2 ga nyambung :-)

    [Reply]

  16. Khery Sudeska says:

    @Irwan M Santika: komen ini aja mah udah gak nyambung, mas Irwan. Hehehe…:D Ya, udah… nikmati tuh malam jum'atnya… hehe..:D

    [Reply]

  17. hill says:

    akhirnya setelah baca bagian 2 nya meskipun harus di ulang2 bacanya :D baru sy mulai mengerti n bisa menyimpulkan, trims kawan mudh2n artikel ini lebih banyak yg baca n mendapatkan inspirasi n manfaat

    salam

    [Reply]

  18. genial says:

    wewww SEO friendly abiss :) sayangnya yg jd sobat nya si kucrit duang :( bhueheheheheh…

    jika kaitannya erat dengan tulisan ini, maka ideologi yg dimksd termasuk menyentuh ranah 'hidayah' iia kang?!??!? klu seperti itu, saiia setuju bhwa ideologi memanglah gag bisa dipaksakan.. karena hal tersebut hanya datang dari-Nya semata… tp… hmm…

    jika kita hanya berpangku tangan sahaja, apa kita masuk kedalam kategori taklid buta??!?! hanya mencerna apa yg di cekoki orang (org tua misalnya*)??!?!

    wuaaabhhooottt iki kang… saiia nya lg gag pokuskuskus :( bhueuhehehehe…

    [Reply]

  19. kawanlama95 says:

    setiap ideologi punya ke khasan masing2 dan bagi penganutnya setiap idologi tersebut bermanfaat. Contoh para pelaku teror tsb mengangap buum yang dilakukan adalah sebuah kebaikan tapi berbeda yang tak menganut paham tsb

    [Reply]

  20. T. Wahyudi says:

    nice post mas… mantap!!!

    [Reply]

  21. Riswanto says:

    Nice artikel…
    Penting untuk berfikir dan menimbang-nimbang ideologi yang disampaikan orang kepada kita agar tidak terjerumus dalam kesesatan.

    Sukses buat Mas Khery.

    [Reply]

  22. Khery Sudeska says:

    @hill: saya juga berharap ada manfaatnya, sob… Thanks, sob…

    @genial: soalnya "g" gak komen di bagian pertama, hehe…:D (wehhh….!!! komennya ngawur tuh,… ) "g" dan semua pembaca blog ini adalah sobat saya :)

    @kawanlama95: sebagaimana telah saya sebutkan, kawan… ideologi tidak menuntut ketundukkan. Ideologi untuk diterima dan dimengerti… :)

    @T. Wahyudi: Trims, Mas Tri… :)

    @Riswanto: Setuju, Mas Riswanto… :)

    [Reply]

  23. ayamcinta says:

    Walah in lanjutannya…

    Hmmmm bingung mu komen apa….. :D

    Intinya gw sepakat klo ideologi itu untuk dipahami. Ketika kita belum memahami, apakah kita bisa disebut berideologi? Atw cuma pengikut tanpa ideologi?

    Toh setengah2 juga memahami. Memahami stengah2 :D

    [Reply]

  24. IwanKus says:

    terbiasa dgn posting2 ringan, baik baca maupun tulis membuat saya harus mengerahkan segenap kemampuan dan konsentrasi untuk membaca artikel ini…
    btw salut buat mas sudeska…
    saya baca yang bag 1 dulu ya…he…he…

    [Reply]

  25. Khery Sudeska says:

    @ayamcinta: yam, lo bingung mo komen apa… :) gw malah bingung gimana cara jawab komen lo :D , thak pikir2 dulu ya… bolehkan? Hehe…:D (Mantap pertanyaan lo yam. Insya Allah, kita bahas suatu saat pada sebuah postingan khusus soal ini. Ok?)

    @IwanKus: gak berat2 amat kok, mas… :)

    [Reply]

  26. arkasala says:

    Manusia memerlukan filsafat hidup, ideologi yang komprehensif dst seperti yang disebutkan di atas memberikan perncerahan tersendiri, sehingga saya jadi memahami, tulisan ini ditutup dengan "bahagia", ideologi harus dipahami dan diyakini dan bukan dipaksakan.
    Hiruk pikuk terjadinya pergesekan baik dalam skala kecil atau besar dimungkinkan karena salah satunya orang ingin memaksakan ideologinya untuk di anut dan diyakini orang lain. Mungkin begitu yang Kang ?
    Di luar itu semua : trims atas artikel yang mencerahkan ini. Salam

    [Reply]

  27. pelangi uang says:

    idiologi yg kita anut sekarang aja yg kita kembangkan.idiologi jangan sampai merusak/merembet ke bidang yg lain.itu yg profesional dimata kita.

    [Reply]

  28. Pasang Iklan Gratis says:

    wah.. panjang banget, masih belum paham kalo cuma baca sekali, yang nyantel cuma dikit, tapi masih banyak yang bingung.
    terima kasih ya ulasannya, saya masih kurang terbiasa baca posting yang beginian.
    salam..
    Butik Online

    [Reply]

  29. Bisnis Online says:

    Allow, balik lagi nih :)

    [Reply]

  30. Khery Sudeska says:

    @arsakala: Trims kembali, Mas Arkasala… Nitip salam sama mas Wandi-nya ya… :) Dia kesulitan komeng disini, hehe… :D

    @pelangi uang: ideologi yang mana tuh? :D

    @Pasang Iklan Gratis: dibiasain, Mas… :)

    @Bisnis Online: ya, nanti saya balik juga ke sana, Mas Bambang… he3x :D

    [Reply]

  31. Anonymous says:

    SOSIALISME donk……..

    [Reply]

  32. Khery Sudeska says:

    @Anonim: ……. :)

    [Reply]

  33. Patahati says:

    bnyak pendapat filsuf mengemukakan demikian, mgkin ideologinya tergantung situasi dan zamannya, maaf sy kurang banyak tahu ttg ilmu ini, btw sy kagum dengan pola pikir teman ttg ini.salam selalu.

    [Reply]

  34. Peluang bisnis | Ricky says:

    membaca versi yang kedua ini,serasa lebih mantap tentang ideologi mas.
    Ideologi memang sesuatu yang tidak bisa dihilangkan dari dalam diri setiap manusia ya.

    sukses buat mas khery

    [Reply]

  35. Sambengan says:

    Wah.. aku malah belum paham babar blas,
    maksudnya dari isinya belum bisa saya ambil
    yang penting berkunjunt dulu, salam…

    [Reply]

  36. Khery Sudeska says:

    @patahati: trims, sobat… :)

    @Ricky: saya setuju, Mas Ricky… :)

    @Sambengan: Gak apa2, sobat… Thanks atas kunjungannya… :)

    [Reply]

  37. rudy azhar says:

    Saya memang kurang paham baca yang ginian Mas Sudeska, jadi saya hanya bisa mengucapkan mohon maaf untuk dapat menyambut bulan Puasa yang tinggal menghitung hari ini….

    [Reply]

  38. candradot.com says:

    kemanakah sodara khery ? lama gak nongol neh hehehe…

    [Reply]

  39. Kuliah Gratis says:

    Wah salam kenal dulu aja ya………….

    [Reply]

  40. Khery Sudeska says:

    @rudy azhar: gapapa, Mas Rudy. Saya juga mohon maaf lahir dan batin dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan ini… :)

    @candradot.com: hehehe… ni nongol :D (ada sedikit kerjaan di luar, Mas Candra…)

    @Kuliah Gratis: kalau gak salah udah dua kali kesini deh, kok masih salam kenal juga, hehe… :D Ya udah, salam kenal juga :)

    [Reply]

  41. genial says:

    mampir kang.. mo bialng.. dirgahayu republik indonesia yang ke enampuluh empat sekaligus selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya… semoga amal ibadah kita di terima di sisi-Nya, amen :)

    [Reply]

  42. suwung says:

    ampyun pemahamanya itu lho

    [Reply]

  43. attayaya says:

    mohon maaf lahir bathin

    [Reply]

  44. Khery Sudeska says:

    @genial: sama2 "g", mohon maaf zahir dan batin. Amin…

    @suwung: pemahaman apa, wung? Hehehe… :D

    @attayaya: sama2, sob… Mohon maaf zahir dan batin…

    [Reply]

  45. reez says:

    thx infonya….

    [Reply]

  46. bundadontworry says:

    bunda sampai harus berulang2 membacanya, bahasanya tinggi sekali, jadi agak2 bingung, namun mungkin kalau tidak salah menyimpulkan, Murthada mengharapkan ideologi yg memikirkan kesejahteraan orang banyak bukan golongan saja.
    duh, sampai berkunang2 bunda membaca dan meresapi isi dan pengertian tulisan ini ……….he…..he..
    Mas Sudes benar2 hebat, bisa menurunkan tulisan seperti ini.
    terima kasih, Mas telah menambah wawasan saya.
    salam.

    [Reply]

  47. Yayuk says:

    waduh…!!!klo gw, bnun nh…!!!lg dsruh nyari tugas: apa pmikiran sang Murtadha Muthahhari ttg alam, manusia dg alam dan aktualitasnya…bnun,bnun,bnun…!!!!

    [Reply]

  48. [...] dalam musik ini juga terlihat pada grup band Ungu dan Nidji. Musik mereka seakan-akan bermuatan “ideologi”, menegaskan siapa mereka, dan untuk tujuan apa mereka bermusik. Sehingga, musik bagi mereka [...]

  49. [...] Murtadha Muthahhari pernah bilang; berkat pengetahuannya, manusia dapat menundukkan alam dan memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Karena memiliki kemampuan untuk membentuk diri, maka manusia membentuk dirinya sesukanya, dan dengan demikian dia menjadi penentu masa depannya sendiri. Semua lembaga pendidikan, formal atau pun non formal, dimaksudkan untuk mengajari manusia cara membentuk masa depannya. Dan peran agama, adalah menjadi “pelurus” manusia dalam mencapai masa depan yang benar. Apa yang terbersit di situ? Untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya, manusia harus bekerja keras, rajin, dan tekun. Tanpa itu semua, kecil kemungkinannya bahwa mimpi dan cita-citanya akan terwujud. [...]

  50. [...] Bersambung… >> Silakan baca Murtadha Muthahhari; Tentang Ideologi (Bagian 2)* [...]

Leave a Reply