Filed under Ideologi
Sekilas Tentang Atheis
“Tuhan itu tidak ada. Yang ada ialah teknik. Dan itulah Tuhan kita! Sebab, tekniklah yang memberi kesempatan hidup kita.” suara laki-laki itu menggema di ruangan yang tak berapa luas itu.
“Tidak!” seorang laki-laki lain, berwajah Mongol, mendebat pendapat orang itu. “Tidak! Teknik itu cuma alat.”
Dengan tangkas, sambil tertawa, laki-laki yang didebat menjawab, “Betul kata Saudara itu, ‘cuma alat’. Memang, ‘kan Tuhan pun hanya cuma alat bagi orang-orang yang percaya kepadanya. Alat yang katanya memberi keselamatan dan kesempurnaan kepada hidup manusia. Begitu pula teknik bagi kami. Alat yang memberi kesempurnaan bagi hidup manusia. Dus, apa bedanya? Teknik nyata, tegas, kongkret. Tapi, Tuhan samar-samar, kabur-kabur, melambung-lambung ke daerah yang tak tercapai oleh akal, ke daerah yang gaib-gaib, yang tidak ada bagi kami…”
“Betul.” kata laki-laki berwajah Mongol itu lagi. “Tapi, apa artinya alat kalau tidak ada manusia? Kalau tidak ada aku? Yang harus mempergunakannya? Apa gunanya mesin-mesin, kalau tidak ada tangan yang menjalankannya? Oleh karena itu, bagiku, Tuhan itu adalah aku sendiri, manusia, bukan teknik dan mesin-mesin.”
Petikan kisah ini saya ambil dari karya lama, karangan Achdiat K. Mihardja, berjudul Atheis. Walaupun dikutip dari karya lama dan lokal, tapi perdebatan orang-orang yang “tertarik magnet ajaran” semisal Karl Marx dan Nietzshce, hampir cenderung sama dari masa ke masa. Perdebatan-perdebatan serupa, juga pernah muncul di beberapa kalangan aktifis pada akhir 1990-an dan awal 2000-an.
Nah, dari petikan diatas, setidaknya kita dapat melihat bahwa ada dua jenis atheis. Apa saja itu?
Pertama, Atheisme Rasionalistik. Atheisme rasionalistik mengingkari Tuhan karena penjelasan ilmiah yang rasional tidak memerlukan Tuhan dalam menjelaskan dunia. Tidak ada “bukti ilmiah” yang meyakinkan kita akan keberadaan Tuhan. Keberadaan Tuhan dan Tuhan itu sendiri tidak masuk akal. Tuhan tidak dapat diteliti di laboratorium, tidak dapat diuji dengan metode ilmiah. Oleh sebab itu, sekali lagi, sudah sangat pasti bahwa Tuhan itu tidak ada.
Aliran atheisme rasionalistik ini diperkirakan muncul pada masa Renaissance dan pasca-Renaissance. Kemudian, mencapai puncaknya pada masa pencerahan, pada abad 18. Sebelum revolusi Perancis, banyak sekali para pilsuf mereka yang atheis, seperti Voltaire, Diderot, Baron d’Holbach, dan lain-lain.
Kedua, Atheisme Romantik. Atheisme romantik bukan atheis yang mengingkari keberadaan Tuhan. Tapi, atheis yang melihat Tuhan sebagai musuh kebebasan dan penentu moralitas. Atheisme romantik menolak Tuhan atas alasan moral. Tuhan adalah penyebab ketidakadilan, penindasan, dan penurunan nilai kemanusiaan. Agar bebas dan terbuka, manusia harus melepaskan dirinya dari Tuhan. Manusia harus meniadakan Tuhan, atau lebih ekstrimnya, manusia harus membunuh Tuhan. Dengan membunuh Tuhan, manusia memperoleh kebebasan untuk menentukan nilai, memilih baik dan buruk. Hanya dengan meniadakan Tuhan manusia baru bisa bertindak “otentik”.
Pada hakikatnya, atheisme romantik menggantikan Tuhan dengan individualitas. Salah satu penganutnya, Nietzsche, pernah berkata, “Be a man and not follow me – but your self”. Aliran ini muncul pada abad 19 dan banyak ditemukan dalam karya-karya sastra eropa. Selain Nietzsche, diantaranya dapat dilihat pada karya-karya sastra dari Rilke, Kafka, Camus, dan lain-lain.
Nah, sobat-sobat semua, itulah sekilas tentang atheis. Karena sekilas, tentu saja tidak lengkap. Harap maklum.
Atheisme ini sudah jelas merupakan dampak ideologis. Saya kira, kita semua sepakat, bahwa dengan mempelajari masalah atheisme ini, bukan berarti setelahnya kita harus dengan tak sadar, atau dengan suka rela, tertarik pada magnet atheisme tersebut. Kita tidak menutup diri untuk mempelajari masalah atheisme, adalah agar kita juga punya “bekal logika” ketika kita didebat pada masalah-masalah ke-Tuhan-an. Itulah yang dilakukan oleh Buya HAMKA, Murtadha Muthahhari, dan lain-lain. Walaupun ilmu pengetahuan kita tak sedalam mereka, tapi tidak ada salahnya untuk memulai memperdalamnya mulai sejak ini.
So, mungkin, sobat-sobat semua punya pendapat. Silakan…
Permaxxx dulu ah…
Fisik masih belum sehat bener sobat2ku. Makanya agak telat posting ini. Tapi, puasa pull kok, hehehe… Trims atas kunjungan sobat semua. Yang blm saya kunjungi, akan segera saya kunjungi….
[Reply]
cepat sembuh ya sudeska…
bekal logika, ya kita butuh itu..! karena kita harus mengenal lawan kita secara detil untuk bisa menghadapinya.. begitu ya sudeska..
[Reply]
dalem mas… yang dibahas…
Logika untuk mengenal Tuhan?…
Bukankah ada pemahaman bahwa Tuhan lebih dekat daripada urat nadi, Bahwa Dzat Allah adalah dekatnya hati.
Bahkan akhir-akhir ini ada yang menyamakan Tuhan dengan "Law of Attraction",
The same meaning just different terminology.
Itu saja pendapat saya mas.
Bagus artikelnya mas membahas masalah Atheis, Bisa memicu yang membaca untuk mengetahui lebih dalam tentang (Atheis) yang dibahas.
Terima kasih
[Reply]
Sedari dahulu, saya beranggapan bahwa ada atau tidak adanya Tuhan itu adalah perdebatan orang yang ga ada kerjaan. Memang bagi orang pendakwah, kelihatannya ilmu debat itu sangat diperlukan. Padahal berketuhanan itu adalah anugrahNya.Jadi setiap punya anugrah yang berbeda.Dan itu tidak bisa diperdebatkan, sebab itu suatu keyakinan. Atau barang kali saya salah tangkap. Tapi bagaimanapun tulisannya sangat bagus,jelas dan real.Salam kenal dari http://harmenbatubara.com
[Reply]
@nakjaDimande: Makasih, Bundo
@hafiid: mohon tidak salah faham, mas Hafiid
@Anonim: salam kenal juga, sobat
[Reply]
berat… berat….
aku cuma baca aja deh…hehehe
[Reply]
salam kenal
mantep gan postingannya ..
[Reply]
@candradot.com: jangan dimasukin hati ya, hehehe…
@solarsedayu: trims, sob
Salam kenal juga…
[Reply]
Artikel yang menambah wawasan, mas
Kalo saya pribadi sih berpendapat biarlah orang menjalani apa yang mereka yakini masing2..
Selama tidak mengganggu saya, biarlah orang mau percaya atau tidak, itu urusan mereka.. hehe
[Reply]
@wellsen: yaps, mas Wellsen
Tujuan posting ini hanya sekedar info…
[Reply]
saya doain cepat sembuh mas, yang terpenting menurut saya kenyakinan diri masing2 dan mempunyai ladasan yang kuat hehhee bukan begitu mas
[Reply]
Sudah enakan, Mas…
Informasinya sekilas, tetapi berbobot. Saya setuju bahwa kita tak perlu menutup diri tentang atheisme agar punya bekal logika ketika terjadi perdebatan masalah ini..
Cepat sembuh dan sukses, Mas..
[Reply]
Saya sepaham dengan mas chandra, jenis artikel yang berat nih mas..Ilmunya kelas kakap deh pokoknya,.Hanya bisa mengucapkan semoga lekas sembuh mas khery dan bisa menjalankan nikmatnya bulan puasa seperti biasa.
salam
[Reply]
sampean seorang filsuf kah mas..??
ane gak kuat memahaminya.. weh.. pokoknya tetep yakin aja dah ma Dzat Yang Ngecat Cabe.. biarin aja tuh para atheis.. ngapain di urusin.. hehehehe..
[Reply]
seep mas..
THX 4 share! (sok inggris kau jir!)
[Reply]
@heru: Makasih, Mas Heru
@Riswanto: Masih blm terlalu baik, Mas
Mudah2an segera seger
@Ricky: Wah, saya bukan termasuk yang kelas kakap, Mas Ricky
Makasih do'anya, Mas. Mudah2an saya segera fit dan enakan blogwalking lagi. Amin…
@kucrit: kalo sampean jumpa orang2 yang saya sebutkan di atas, gimana cara sampean ngadapinya? Hehehe…
Saya bukan filsuf, Crit hehe
@ajir: U'r wellcome, Jir
(Sok inggris juga kau Khery!)
[Reply]
semoga cepat sembuh full…
wawasan saya semakin bertambah…
trims
[Reply]
@IwanKus: Jangan begitu, Mas Iwan. Saya juga sangat banyak belajar dari blog Mas Iwan. Tapi, memang, tujuan blog Khery Sudeska ini untuk saling berbagi. Kalau ada saya yang salah, juga mohon diingatkan. Tq, Mas Iwan
[Reply]
Aduuuhhh..hari gene ko masih ada orang punya pandangan kek gitu ya..
[Reply]
@adirossi: Trims, Rossi eh, Mas Adi
(canda mas Adi, pizzz
. Atheisme jaman sekarang malah punya alasan yang berbeda, Mas Adi. Menarik juga untuk diketahui…
[Reply]
Weihh…ngeri juga saya kalo melihat orang yang berpandangan atheis ya….jadi dia diciptain oleh teknologi atau bahkan dari batu seperti Malin Kundang kali…wakkakak
[Reply]
saya baca dulu ya …
salam kenal
[Reply]
@Wisata Pandeglang: ya, begitulah, Mas
@syd: sila
[Reply]
loh… mas khery kmaren sakit toh…gak tau aku, moga cepet sembuh yak…
waduhhh… kok ada yak orang gak mengakui tuhan.. jelas gak punya otak tuh orang, mungkin orang itu turunan pakistan yak..hahaha..bcanda ya mas…
[Reply]
gak nutut otek ku
[Reply]
@trieand: iya, mbak Trie
Tapi dah mulai agak mendingan nih, hehe… Memang demikian kenyataannya, Mbak. Kita mesti bersyukur diberi hidayah oleh Tuhan untuk percaya kepada-Nya. Ada orang2 yang diputarbalikkan akalnya oleh Tuhan…
@cow: gapapa, sob…
Baca aja, jangan dimasukin hati. Ini hanya sekedar share. Ok?
[Reply]
Salam Sahabatku….
Kunjungan perdana, salam kenal aja dulu…
Maaf, saya memang hanya mantan manusia bejat, tapi sumpah, saya sudah benar-benar insyaf.
Satu yg membuat saya yakin bahwa saya pasti bisa berubah menjadi orang yg lebih baik, yaitu Kuasa Tuhan. Nothing Impossible, ndak ada yg ndak mungkin.
Selama kita mau berusaha, pasti jalan untuk itu akan terbuka.
Maka dari itulah kali ini saya akan berbagi sedikit kisah hidup saya selama masa transisi itu, kalo sahabatku berkenan, saya tunggu motivasinya buat saya di Mantan Copet Itu Akhirnya Jadi Seorang Pengusaha.
Trimakasih Sahabatku.
Salam.
[Reply]
postingannya berbobot abies -_-
mantap neh
mmm udah maw buka neh mas sudeska ^_^
ngabuburit dolo ah
[Reply]
ga begitu paham nich
[Reply]
Wah Mas Khery mempelajari dengan detil beragam ideologi, saya salut Mas. Semoga dengan berbagi ini ilmunya semakin bertambah. Betul-betul bermanfaat bagi saya yang jarang membaca buku-buku tentang beragam ideologi.
Selamat menunaikan ibadah puasa ya Mas. Mohon maaf lahir dan batin.
Maaf baru berkunjung, maklum keasyikan memperbaiki blog saya he he. Jadi baru tahu Masnya sakit. Semoga sehat selalu Mas.
Salam
[Reply]
mantap neh sob, pagi2 aku dah dapat pengetahuan baru tentang aliran kepercayaan
[Reply]
Assalamualaikum..
maaf saya belum sempet baca postingannya,
tapi kunjungan saya disini mau kasih award buat empunya blog. diterima ya,
maaf lagi buru-buru.
yang penting berkunjung dulu.
makasih….
[Reply]
malah jadi inget pelajaran sekolah hehe..(emang saya masih sekolah
)
[Reply]
@mantan copet: salam kenal kembali, sob
@AndriRistiawan: Ok, Ndri. Silakan. Tq, ya
@nur ichsan: gapapa, Mas. Saya pertama baca juga gak terlalu paham
@arkasala: Mas Yayat jangan merendah begitu, hehe…
Ilmu Mas Yayat malah lebih banyak dari saya. Saya mah masih belajar, Mas. Ok, Mas. Selamat puasa, mohon maaf zahir batin juga ya
@edylaw: Tq, sob
@Sambengan: Ok, gapapa, Mas. Tunggu aja kunjungan baliknya
@aditya permana:
Tq, sob… Hehhe
[Reply]
oohhh seperti itu yaa….trims infonya, sy baru tau aa 2 aliran ttg atheis, yg sy tau cm marxisme aja
thnxs kawan menambah wawasan sy
[Reply]
@hill: hehehe…, bisa aja kau kawan
[Reply]
hmmmm… begitu y trnyata… thx infonya…
[Reply]
Mas Sudeska,
mempelajari sesuatu bukan berarti kita harus menurutinya, tidak ada salahnya kita tahu dengan membaca.
Saya sering membaca bible ( alkitab ), tetapi saya hanya menganggapnya buku biasanya, karena kitab suci saya Al-Qur’an. Ayah saya Katolik, tetapi jika mendengar istri saya mengaji, beliau bisa tahu jika tajuitnya salah.
tidak ada yang salah dengan sebuah pengetahun, toh filternya ada pada diri kita sendiri, demikian juga hal dengan Atheis.
[Reply]
[...] Menghapus gagasan yang tak berarti dari [...]
[...] cinta memang melenakan. Tapi, lena cinta tak harus membuat orang lupa akan Tuhan yang telah menganugerahi cinta itu. Walau di ujung kematian sekalipun, “Tidak Hayati, kau akan [...]
[...] Terutama, yang saya rasakan, ada dua tulisan saya yang cukup kontroversial ketika dibaca orang; artikel ini dan artikel yang ini. Sejujurnya, tak ada maksud saya untuk membuat rancu pemahaman disana, apalagi [...]