Archive for October 2009

Potret UKM Indonesia Dalam Analisa SWOT

Saya baru saja diangkat menjadi menteri. Ya, Menteri Koperasi dan UKM. Anda mungkin mengira saya sudah gila atau membual. Sayangnya tidak. Kalau anda tidak percaya, silakan lihat susunan kabinetnya disini.
Nah, anda sudah lihat. Betulkan? Saya sekarang memang benar-benar seorang menteri. Seorang menteri dari Kabinet Narablog Bersatu. Hehehe… Meskipun kabinet ini bukan kabinet “beneran”, tapi masing-masing menteri punya tugas yang sangat serius. Dan sebagai salah satu wujud memenuhi Program Kerja 100 Hari, saya menyampaikan Potret UKM Indonesia Dalam Analisa SWOT ini, dengan catatan:
  • Analisa ini baru berupa analisa mentah, oleh karenanya kami (Departemen Koperasi dan UKM, ciee-ilah…) tidak menyertakan bobot dan rating dalam analisa ini.
  • Kami juga tidak menyertakan strategi SO, ST, WO, dan WT dalam analisa ini. Karena hal tersebut, selanjutnya, masih memerlukan pertimbangan Presiden dalam suatu rapat kabinet nantinya. :D
  • Berikut ini adalah analisanya,
Kekuatan:
  1. Berbagai keterbatasan dalam mengakses sumber daya produktif menjadikan UKM sebagai usaha yang mandiri, kukuh, dan fleksibel. Fleksibelitas UKM dari satu sektor ke sektor lainnya, justru menjadi kekuatannya dalam kelangsungan hidup dan mengembangkan usahanya.
  2. UKM merupakan wahana dan tumpuan utama yang paling menjanjikan bagi penciptaan wirausaha baru. UKM merupakan tataran terdekat yang dapat dijangkau oleh masyarakat yang ingin memulai berwirausaha.
  3. UKM mempunyai karakteristik keluasan daya tampung yang besar bagi perwujudan aspirasi ekonomis masyarakat luas untuk memperoleh penghidupan.
  4. UKM mempunyai fleksibelitas dan ketahanan yang tinggi dalam mengantisipasi dan menyesuaikan diri terhadap dinamika perubahan (perkembangan) pasar. Ini disebabkan karena dominannya tumpuan pasar domestik, serta kuatnya akar pada penggunaan input sumber daya dalam negeri.
  5. UKM tidak terpengaruh oleh fluktuasi mata uang asing, karena (terutama) masih menggunakan bahan baku dalam negeri.

Kelemahan:

  1. Rendahnya kualitas SDM. Tercermin dari kurang berkembangnya kewirausahaan, rendahnya produktifitas, dan daya saing. Kelemahan ini berpengaruh dalam; menciptakan dan memanfaatkan peluang usaha, agresifitas mengakses pasar (terutama ekspor), dan akses terhadap sumber-sumber permodalan.
  2. Keterbatasan sarana dan infrastruktur, terutama di sektor transportasi, telekomunikasi, pasokan air bersih, dan listrik.
  3. Keterbatasan akses UKM terhadap sumber daya produktif, menjadi kendala untuk pengembangan usaha secara cepat dan berkesinambungan. Ini akibat struktur perekonomian nasional yang penuh dengan ketimpangan dalam penguasaan dan alokasi sumber daya produktif.
  4. Upaya mempercepat pembangunan UKM memiliki berbagai keterbatasan, yakni; mekanisme pasar yang berkeadilan belum efektif berfungsi, keterbatasan keuangan negara untuk pembinaan UKM, belum optimalnya fungsi intermediasi Bank, dan belum optimalnya pelaksanaan otonomi daerah untuk mendukung pembangunan UKM.
  5. Rendahnya komitmen, kemampuan, dan kualitas pembina di instansi pemerintah (terutama di daerah-daerah propinsi dan kabupaten/kota).
  6. Belum terwujudnya komitmen, konsistensi kebijakan, dan semangat keterpaduan berbagai pihak (pembuat kebijakan) dalam pengembangan UKM. Ini menyebabkan pemborosan dan tidak efektifnya pembinaan UKM.
  7. Masih terbatasnya penggunaan teknologi informasi (seperti internet), sehingga jangkauan pasar menjadi terbatas dan efisiensi usaha rendah.

Peluang:

  1. Pulihnya perekonomian nasional dari krisis ekonomi.
  2. Meningkatnya kesadaran, komitmen dan keberpihakan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat akan arti pentingnya UKM dalam perekonomian.
  3. Adanya kemauan politik yang kuat dari pemerintah, dan berkembangnya tuntutan masyarakat untuk menciptakan pembangunan yang berkeadilan dan transparan, serta komitmen membangun sistem ekonomi kerakyatan (meskipun ini masih abtsrak).
  4. Dukungan pranata konstitusi (UU. Usaha Kecil, UU. Perkoperasian, dan UU. Propernas) yang memberikan prioritas pembangunan ekonomi pada UKM dalam mewujudkan sistem ekonomi kerakyatan.
  5. Pelaksanaan otonomi yang lebih baik, disertai perimbangan keuangan yang lebih baik.
  6. Perubahan struktur perekonomian nasional dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa. Hal ini menciptakan peluang bagi UKM (terutama di bidang agribisnis, agroindustri, pariwisata, industri kerajinan, dan industri lainnya) untuk berfungsi sebagai sub kontraktor yang kuat dan efisien bagi usaha besar.
  7. Semakin pesatnya kerjasama ekonomi antar negara, terutama dalam konteks ASEAN.
  8. Tersedianya SDM angkatan kerja dalam jumlah besar yang masih belum terdayagunakan secara produktif.
  9. Potensi pasar dalam negeri yang terus berkembang, seiring dengan perkembangan jumlah penduduk.
  10. Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, yang sangat menunjang dinamisasi kegiatan bisnis, dan juga menunjang kemampuan akses pasar secara cepat.

Ancaman:

  1. Adanya agenda Neoliberalisasi dari dunia internasional. Liberalisasi perdagangan yang tanpa batas akan mengancam upaya pengembangan UKM.
  2. Kompetisi dengan pebisnis asing yang sangat inovatif, didukung teknologi, modal, dan jaringan usaha yang luas akan membuat UKM sulit berkompetisi dan berkembang.
  3. Kelemahan pengaturan dan penegakan hukum dapat mengancam semakin terdesaknya UKM oleh usaha besar yang secara agresif memasuki wilayah usaha yang sepantasnya diperuntukkan bagi UKM.
  4. Masih rendahnya komitmen mutu dari pelaku UKM, menyebabkan rendahnya kepercayaan konsumen terhadap kualitas dan keandalan produk UKM.
  5. Rendahnya kepercayaan konsumen terhadap pelaku UKM akibat kurangnya komitmen akan penegakan etika bisnis.

NB. to Ibu Presiden nakjaDimande: “Sudah beberapa hari saya menunggu, namun mobil dinas ber-plat merah itu belum juga diantar dan markir di garasi saya. Makanya, beberapa hari ini saya terus mikir, saya ini benar-benar seorang menteri apa enggak ya?” :D

Catatan Politik: Ingat dan Catat Janji SBY Itu!

Perasaan saya, rasa-rasanya, biasa saja ketika melihat seremonial pelantikan itu. Dan, rada-rada geli juga. Karena, betul kata beberapa orang, pelantikan Presiden Terpilih SBY kali ini mirip (lebih tepatnya, meniru) pelantikan Presiden Barack Obama. Ada tambahan acara, berupa pidato pertama Presiden “terlantik”. Dan, esensi pidato itu pun, terasa biasa-biasa saja. Sudah terlalu sering didengar, diulang-ulang.
Dan, sebagian masyarakat Indonesia, sementara larut dalam kegembiraan. Sejenak terlupa akan kesedihan akibat bencana yang kerap terjadi belakangan ini. Lebih-lebih, mereka yang sebelumnya adalah tim sukses dan beberapa orang yang berhasil masuk ke lingkaran “jatah” kekuasaan. Muka mereka penuh senyum kemenangan. Setting politik yang mereka rancang, berhasil mempengaruhi keputusan SBY. Tapi, sebagian dari partai koalisi, ada juga yang kecewa. Kecewa karena beberapa jabatan strategis yang seharusnya diduduki oleh mereka, tapi malah diberikan SBY kepada partai yang sebelumnya menyatakan diri sebagai oposan.
Dan, pada waktu yang sama, di tempat yang lain, sejenak pula kita bangsa Indonesia terlupa akan janji. Ya, janji yang pernah diucapkan SBY beberapa bulan yang lalu, ketika kampanye terakhirnya di stadion Gelora Bung Karno. Janji yang bisa kita tagih. Janji yang ia ucapkan apabila kelak terpilih kembali sebagai Presiden. Inilah yang lebih penting. Karena inilah yang akan menjadi tolok ukur. Maaf, kita ini memang bangsa yang pelupa dan jarang belajar dari sejarah. Oleh sebab itu lah, janji SBY itu saya catat disini.
  1. Pertumbuhan ekonomi minimal 7 %, sehingga kesejahteraan rakyat meningkat.
  2. Kemiskinan harus turun 8 – 10 % dengan meningkatkan pembangunan pertanian, pedesaan, dan program pro rakyat.
  3. Pengangguran turun 5 – 6 % dengan cara meningkatkan peluang lapangan pekerjaan dan peningkatan penyaluran modal usaha.
  4. Pendidikan harus ditingkatkan lagi. Mutu infrastruktur , kesejahteraan guru dan dosen ditingkatkan. Persamaan perlakuan sekolah negeri-swasta-agama. Tetap melanjutkan sekolah gratis bagi yang tidak mampu.
  5. Masalah kesehatan, dengan terus melakukan pemberantasan penyakit menular dan melanjutkan pengobatan gratis bagi yang tidak mampu.
  6. Swasembada beras dipertahankan. Ke depannya Indonesia akan menuju swasembada daging sapi dan kedelai.
  7. Penambahan energi daya listrik secara nasional. Kecukupan BBM dan pengembangan energi terbarukan.
  8. Pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia. Mulai dari perhubungan, pekerjaan umum, air bersih, TI, maupun pertanian.
  9. Peningkatan pembangunan rumah rakyat seperti proyek rusun murah untuk buruh, TNI/ Polri, dan rakyat kecil.
  10. Pemeliharaan lingkungan terus ditingkatkan, seperti dengan reboisasi lahan.
  11. Kemampuan pertahanan dan keamanan terus ditingkatkan, seperti pengadaan dan modernisasi alustsista TNI/ Polri.
  12. Reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi terus ditingkatkan.
  13. Otonomi daerah dan pemerataan daerah ditingkatkan.
  14. Demokrasi dan penghormatan terhadap HAM makin ditingkatkan. Jangan terjadi lagi pelanggaran HAM berat di negeri ini.
  15. Peran Indonesia makin ditingkatkan di dunia internasional. Berperan aktif dalam menciptakan perdamaian dunia.
Itulah lima belas butir janji SBY, yang diucapkannya saat kampanye Pilpres terakhirnya di Gelora Bung Karno. Saya malas mengulasnya sekarang. Anda baca sajalah. Catatlah, dan ingatlah baik-baik. Setidaknya, untuk lima tahun kedepan masa pemerintahannya.
Untuk itulah janji SBY itu saya catat. Disini, di catatan politik ini.

Menguji Ideologi dengan DNA Ideologi

Saya punya hutang. Oleh karena itu, harus saya bayar. Apa hutang saya?
Ada beberapa orang subscriber blog ini yang bertanya pada saya melalui email; bagaimana cara menguji sebuah gagasan itu termasuk ideologi atau tidak? Wah, ini pasti gara-gara tulisan saya tentang ideologi sekitar dua bulan yang lalu. Saya bilang saja, bahwa suatu saat saya akan jelaskan dalam sebuah postingan.
Saya juga tidak tahu, pertanyaan itu ingin menguji atau benar-benar ingin tahu. Hehehe… Ya wis, saya tak mau berpikiran negatif. Saya anggap memang betul-betul ingin tahu. Menjaga perasaan dan pikiran yang positif, akan membantu kita selalu bersemangat, serta sehat zahir dan batin. Ya toh?
Sebenarnya, saya juga bukan ahli-ahli banget soal ideologi atau filsafat ini. (Yah, ngaku dah…) Disiplin ilmu saya juga nggak kesana. Cuma saja, sewaktu aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), saya pernah mengikuti Senior Course di Medan dengan (yang namanya) materi sindikasi Pengantar Ideologi. Waktu itu, sindikat saya sempat dihantam habis-habisan oleh empat belas orang senior HMI Medan. Di tengah malam buta, sampai pagi buta. Yaaa…, namanya juga “anak Medan”. Dasar wong edan!
Jadi, dengan bekal pengetahuan yang sedikit tentang ideologi itulah, saya ingin sekedar sharing dengan teman-teman semua. Syukur-syukur, dapat kritik dan masukan, sehingga bertambah pula ilmu saya. Oke?
So, kenapa saya di awal-awal pernah bercerita masalah ideologi di blog ini? Ya, terang dong… Blog ini kan catatan soal ekonomi, politik, dan kebangsaan dengan standar ala kadarnya ini. Dan ideologi kan mempengaruhi prilaku manusia dalam ekonomi dan politik, serta karakter kebangsaan. Betul apa betul?
Oke deh, langsung saja. Lalu, bagaimana cara menguji sebuah gagasan itu dapat dikatakan sebuah ideologi? Salah satunya dengan DNA Ideologi. Saya pernah defenisikan, bahwa ideologi itu adalah teori umum, atau sistem yang komprehensif dan harmonis, yang tujuan pokoknya adalah kesempurnaan manusia dan kebahagiaan bagi semua.
Karena ia merupakan sistem atau teori yang komprehensif, maka rumusan ideologi itu harus menyeluruh. Dimulai dari sebelum kehidupan saat ini, kehidupan saat ini, sampai kepada setelah kehidupan saat ini.
Kalau DNA Biologi tersusun atas kode-kode protein ATGC (adenine, thymine, guanine, dan cytosine), maka DNA Ideologi tersusun dari hubungan-hubungan yang terdapat pada tabel berikut ini:
Ideologi

Sebelum Kehidupan (I)

Hubungan I dan II

Kehidupan Saat Ini
(II)

Hubungan II dan III

Setelah Kehidupan (III)

Kapitalisme

Pencipta

Tidak Penting (Menolak Intervensi Agama) Cenderung Mengikuti Kehendak Bebas

Tidak Penting

Akhirat

Islam

Pencipta (Allah Swt.)

Halal dan Haram

Ibadah

Pahala dan Siksa

Akhirat

Sosialisme

Materi

Materi

Mengikuti Materi Dialektik

Materi

Materi

Maka, kalau ada sebuah gagasan baru yang muncul, lalu ngaku-ngaku sebagai ideologi, uji saja keberadaannya dengan DNA Ideologi tersebut.
Tapi, saya tidak katakan, bahwa metode DNA Ideologi ini sebagai satu-satunya metode pengujian yang paling valid. Bagi anda yang mengamatinya secara seksama, pasti ada merasakan sedikit pengambangan-nya. Masih ada metode pengujian atau penilaian yang lainnya, salah satunya dari Murtadha Muthahhari. Tapi, saya tidak mau dikatakan nanti Muthahhari Sentris, karena acap kali menyampaikan pemikiran beliau. Hehehe…
O, ya… Ada juga pendapat (dan mungkin juga dari referensi) yang sama soal menguji Ideologi ini, salah satunya bisa anda lihat di Sinau Islam, dengan tag DNA Ideologi. Saya kira cukup. Oke?
“Membuat postingan ini tidak gampang ternyata. Terutama bikin tabelnya. Di mode compose-nya www.blogger.com tidak ada tool untuk bikin tabel. Terpaksa utak-atik HTML. Susah dhenk…”

Kunci Memenangkan Persaingan Bisnis Secara Sehat

Halo, teman-teman semua. Apa kabar anda? Saya minta maaf. Selama satu pekan ini, saya didera kesibukan yang padat. Menyita waktu dan pikiran saya dalam porsi yang sangat banyak. Membuat pekerjaan up-dating blog ini dan menyapa teman-teman semua harus sedikit saya abaikan.

O, ya… Terkait judul ini, bukan maksud saya hendak memberikan tips tentang bagaimana memenangkan persaingan bisnis kepada anda. Karena blog ini bukan murni blog bisnis. Ini hanya (kalau boleh dibilang) sebuah catatan ekonomi dalam kapasitas yang kecil.

Bermula dari melihat “seramnya” perkembangan internet marketing belakangan ini, saya melihat arah yang kurang sehat. Bagaimana tak seram, predikat “penipu” dialamatkan kepada banyak pelaku internet marketing di Indonesia. Layaknya sebuah peristiwa, selalu saja memunculkan dua efek. Efek negatif dan efek positif. Tapi, pada lain waktu dan kesempatan, isu penipuan ini (boleh jadi) bermuatan persaingan bisnis. Dan anda, tentu saja bertanya, kenapa saya menaruh peduli terhadap isu ini.

Ya, saya sendiri, di suatu waktu di masa depan, juga punya rencana untuk terjun di dunia internet marketing ini. Tapi, anda tidak perlu khawatir. Blog Sudeska.Net ini tidak akan pernah berubah menjadi blog bisnis murni. Blog ini akan tetap menjadi blog yang menyimpan catatan tentang kebangsaan (dengan kualitas apa adanya ini, hehehe… :D ). Dan saya sangat mencintai blog ini dengan keadaannya sekarang. ;-)  Kalau untuk bisnis, akan ada blog khusus nantinya.

Namun, melihat perkembangan yang demikian, tentu saja membuat perasaan saya jadi kecut. Memang, yang namanya bisnis, tak dapat mengelak dari isu-isu seperti ini. Tapi, kalau setiap apa saja bentuk bisnis internet hampir selalu dikatakan penipuan, tentu saja akan menjadi budaya yang tidak baik dalam bisnis ini.

Alih-alih, menggadang-gadangkan isu penipuan secara membabi buta, saya punya saran, lebih baik mengarahkan persaingan pada empat kunci memenangkan persaingan bisnis secara sehat. Apa saja itu?

1. Efisiensi

Sesuatu baru bisa dikatakan efisien apabila perbandingan antara Output dengan Input lebih besar dari satu (Output/Input > 1).

Efisiensi berlaku pada kedua belah pihak; penjual (pebisnis) dan pembeli. Bila anda seorang pebisnis, efisiensi bagi pembeli (customer) anda adalah manfaat yang mereka dapatkan dari produk atau jasa yang mereka beli dari anda lebih besar ketimbang segala pengorbanan yang telah mereka keluarkan, termasuk uang.

Nah, saya sudah artikan efisiensi bagi customer anda, silakan anda artikan sendiri efisiensi bagi anda. :D

2. Mutu (Quality)

Mutu produk/jasa mencakup dua hal, yakni bobot dan nilai. Bobot adalah kekuatan, peranan, dan pentingnya produk/jasa anda. Sementara nilai adalah kegunaan, makna, dan manfaat produk/jasa anda.

Pada tahap awal pemasaran, mutu produk/jasa memang masih menjadi sesuatu yang abstrak (meraba). Tapi, bila di kemudian hari diketahui bahwa produk/jasa anda sangat bermutu, tentu akan sangat banyak yang merekomendasikan untuk membeli produk/jasa anda.

3. Pelayanan (Service)

Banyak hal yang bisa diartikan sebagai pelayanan. Mulai dari keramahan, kedekatan, keakraban, kemudahan distribusi, sampai kepada pembinaan dan pembimbingan secara berkala dan kontinyu.

4. Komitmen

Komitmen adalah ketaatan pada asas. Sebagai pebisnis, anda harus taat pada janji, slogan, dan propaganda (pemasaran) yang anda buat sebelumnya. Sebagaimana halnya efisiensi, komitmen tidak hanya berlaku antara anda dan customer anda. Komitmen juga berlaku antara anda dengan diri anda sendiri. Kedua komitmen ini akan semakin menguatkan positioning bisnis anda.

Tudingan, mungkin tak akan pernah berhenti. Hanya frekuensinya saja yang kadangkala berubah. Dan itu, memang sudah menjadi salah satu resiko yang harus dihadapi dalam bisnis internet ini. Tapi, sejauh pengamatan saya, pebisnis internet (internet marketer) yang senantiasa menjaga ritme optimasi pada area yang empat tadi, tak mempan oleh isu-isu yang serupa itu. Orang-orang, pada gilirannya, juga akan tetap melihat pada kacamata yang objektif. Semakin ia disudutkan, semakin saja ia berkibar. Sementara, yang melupakan empat komponen ini, akan tersingkir dengan sendirinya. Maka, mulailah memenangkan persaingan bisnis sejak sekarang secara sehat. Siapa pun itu.

Anda setuju? Atau punya pendapat yang berbeda? Silakan… :)

Mulai Membina Masyarakat Agar Tanggap Terhadap Bencana Gempa Bumi. Sekarang Juga!

Saya bukanlah seorang ahli dalam hal Meteorologi dan Geofisika. Dan, tulisan ini, juga tidak bermaksud menerangkan secara ilmiah tentang bagaimana gempa bumi itu terjadi. Tulisan ini, tak lebih, hanya sebagai sebuah ajakan kepada kita semua (khususnya, Pemerintah Indonesia dan seluruh pihak terkait) untuk sudah mulai, sejak sekarang juga, membina masyarakat agar tanggap terhadap bencana gempa bumi ini.
Gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat pada sore Rabu itu, 30 September 2009, di daerah Pariaman dan Padang serta sekitarnya, adalah gempa bumi terbesar sepanjang catatan gempa bumi yang pernah terjadi di Pulau Sumatera.
Gempa itu, tak hanya mengguncang bumi (earthquake). Lebih dari itu, gempa itu telah mengguncangkan hati kita (heartquake). Raung ketakutan anak-anak itu, tangis ibu-ibu itu, segala korban dan kerugian, telah menjadikan gempa itu sebagai salah satu Catatan Kebangsaan yang pedih di negeri ini.
Tak ada tempat yang aman di Indonesia ini dari potensi bencana gempa bumi, kecuali Pulau Kalimantan. Itu pun menurut para ahli di bidang ini, bukan menurut Tuhan. Jadi, kalau sudah demikian, bagaimana caranya?
Jepang, adalah negara kepulauan yang secara geologis persis sama dengan kepulauan Indonesia. Lempeng Samudera Pasifik yang bergerak ke arah barat laut, menunjam di bawah lempeng Eurasia di timur. Kondisi tunjaman ini, sama dengan tunjaman lempeng Samudera India–Australia di bawah lempeng Benua Eurasia sepanjang lepas pantai bagian barat Pulau Sumatera hingga selatan Pulau Jawa. Tunjaman yang panjang ini, dinamakan para ahli di bidang ini sebagai Sunda Megathrust (Tunjaman Besar Sunda).
Langsung saja. Apa yang dilakukan bangsa Jepang dalam meminimalisir resiko bencana gempa bumi?
  1. Penataan ruang. Sudah harus dimulai sejak kini penataan ruang yang tepat dalam pembangunan fisik; gedung-gedung, jalan, tiang listrik, dan sebagainya. Sehingga, sewaktu bencana datang, runtuhan bangunan tidak menimbulkan korban yang lebih banyak. Harus ada jalur-jalur alternatif buat warga untuk menyelamatkan diri secara aman. Membangun rumah di pinggiran bukit dan tebing pada daerah rawan bencana juga harus dihindari. Membangun gedung-gedung yang tahan gempa pun harus dimulai.
  2. Pemberian kode bangunan. Kalau penataan ruang kita sudah terlanjur tidak memenuhi syarat untuk meminimalisir bencana, pemberian kode terhadap bangunan yang tahan dan tidak tahan gempa harus ada. Disertai pula peringatan dan petunjuk untuk menyelamatkan diri bila bencana datang pada setiap ruangan.
  3. Pembinaan masyarakat agar tanggap bencana. Masyarakat yang berada pada daerah rawan bencana harus dibina agar berprilaku tanggap dan siap siaga terhadap bencana. Bersikap waspada bukan berarti tidak tenang, namun tahu apa-apa yang harus dilakukan sewaktu bencana datang agar selamat. Mematikan kompor dan peralatan listrik yang masih menyala terlebih dahulu, kemudian berlindung di bawah meja yang kuat.
  4. Membuat meja-meja yang kuat pada setiap rumah. Ini mungkin lucu. Tapi, masyarakat Jepang telah membuktikan. Sewaktu gempa bumi datang, berlarian ke luar rumah ternyata lebih beresiko terkena runtuhan bangunan dan tiang listrik. Berlindung di bawah meja yang kuat ternyata lebih aman dari runtuhan atap rumah dan lemari. Di bawah meja itu telah tersedia jauh-jauh hari segala peralatan yang cukup; senter, lampu, baju, dan makanan tahan lama. Ini berguna untuk bertahan sebelum bantuan tiba.
  5. Prediksi dan Early Warning System serta peringatan hari bencana. Harus ditetapkan satu hari sebagai hari bencana gempa bumi. Masyarakat Jepang, memperingati 1 September setiap tahun sebagai hari bencana gempa bumi dengan membunyikan sirine panjang tanda gempa bumi datang. Mendengar sirine itu lalu masyarakat, anak-anak TK, SD, dan guru-gurunya berlarian berlindung di bawah meja. Meskipun dilakukan sambil ketawa-ketawa, tapi ini berguna untuk membentuk prilaku masyarakat (pelatihan) untuk tanggap terhadap bencana gempa bumi. Pada hari peringatan bencana itu, do’a-do’a juga dipanjatkan di kuil-kuil di Jepang. Jadi, disamping membentuk prilaku tanggap bencana, juga membentuk kesadaran rohani masyarakat.
  6. Penyiapan sarana evakuasi pada daerah rawan bencana jauh-jauh hari. Mobil-mobil, alat-alat berat, dan segala fasilitas evakuasi bencana sudah harus disiapkan jauh-jauh hari sebelum bencana datang. Ini berguna agar masyarakat yang tertimbun runtuhan bangunan (yang tadinya berlindung dibawah meja) cepat diselamatkan tanpa menunggu berjam-jam, atau bahkan berhari-hari.
  7. Pembinaan masyarakat yang tanggap bencana secara menyeluruh. Manusia adalah makhluk yang tidak tetap berada pada suatu tempat saja. Misalnya, saya saat ini tinggal di Pekanbaru. Secara geologis, tingkat kerawanan kota Pekanbaru terhadap gempa bumi mungkin lebih ringan daripada kota Bukittinggi dan Padang, mengingat posisi kedekatan Bukittinggi dan Padang terhadap tempat tabrakan dua lempeng Samudera India-Australia dengan Benua Eurasia tadi (ini menurut pengetahuan manusia, belum tentu menurut Tuhan). Meski demikian, saya harus tetap dididik untuk tanggap bencana gempa bumi. Sebab, bisa jadi saat gempa bumi terjadi di Padang, saat itu saya sedang berada disana. Kalau prilaku saya tidak tanggap, tentu tidak tahu cara menyelamatkan diri disana.
  8. Mungkin masih ada masukan-masukan lainnya yang diluar pengetahuan saya. Silakan pembaca dan teman-teman semua tambahkan di lembaran komentar di bawah ini.
Ini perlu disadari dan dilakukan. Karena, sampai hari ini, belum ada sebuah peralatan canggih yang mampu memprediksi secara akurat kapan dan dimana sebuah gempa bumi akan terjadi. Kita hanya baru bisa memetakan daerah-daerah rawan bencana.
Meski demikian, hasil pemetaan daerah-daerah rawan bencana ini, sudah merupakan hasil usaha yang luar biasa. Selanjutnya, prilaku tanggap dan kesiapsiagaan masyarakatlah yang harus selalu dibina secara terus-menerus, tak henti-henti. Tindakan inilah yang dinamakan persiapan prabencana. Rumusannya (Budi Brahmantyo – Pikiran Rakyat, 2006), resiko dan akibat sebuah bencana adalah perbandingan kekuatan bencana alam dengan kesiapsiagaan (ketahanan) masyarakat.
Resiko dan kerugian sebuah bencana alam akan tetap tinggi, jika memang kekuatan atau besaran bencana sangat tinggi, meskipun masyarakat siap siaga. Misalnya, pada kasus bencana Tsunami di Aceh pada tahun 2004. Namun, bencana sekecil apapun, akan menyebabkan resiko dan kerugian yang tinggi apabila kesiapsiagaan masyarakat rendah.
Oleh karena itu, di luar kuasa kita dalam menerima kehendak Sang Pencipta, disitu terselip juga keharusan untuk berusaha meminimalisir resiko bencana. Ada baiknya juga kita melakukan upaya-upaya yang dapat mengecilkan jumlah korban dan kerugian sebagai akibat dari sebuah bencana gempa bumi. Sehingga heartquake yang terjadi setelah itu, tak sebesar earthquake yang terjadi sebelumnya. Insya Allah…

(Posting ini, adalah kecemasan dan keprihatinan saya terhadap bencana gempa bumi yang sering menimpa Indonesia akhir-akhir ini. Khususnya, kepada musibah gempa bumi yang baru terjadi di Sumatera Barat dan Jambi, 30 September dan 1 Oktober lalu. Dan juga, kepada “Ibunda Bloggerku”, nakjaDimande di Bukittinggi. Saya sangat bersyukur, mendengar Mande dan keluarga baik-baik saja setelah gempa itu. Saya sangat mencemaskan Mande.)