Archive for November 2009

Buya HAMKA; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Entah, dua posting terakhir ini saya asyik saja mengulas novel. Tapi, tak apalah. Ini kan penghujung minggu. Agar suasana sedikit lebih santai.
Setelah beberapa hari yang lalu tentang Parijs van Java, kali ini soal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karangan Buya HAMKA. Novel ini (mungkin) hampir tak dikenal oleh anak-anak muda masa sekarang. Saya pun pertama kali membacanya sewaktu kelas tiga SD. Bilamana saya melakukan kunjungan ke bebarapa toko buku, novel ini sudah sangat jarang ditemukan. Kalaupun ada, jarang yang punya perhatian pada novel ini. Mungkin karena tutur bahasanya yang amat kental kesan “jaman dulu”nya. Tapi, justru disitu kemenarikannya.
Novel ini menyorot banyak sisi kehidupan. Namun, saya mengabaikan banyak sisi yang lain itu. Saya ingin mengangkat satu sisi saja. Sisi yang paling banyak pula dirangkai dengan penuh pesona oleh Buya HAMKA dalam novel ini. Yakni, tentang cinta.
Perasaan dan kisah cinta dalam novel ini adalah evaluasi. Ketika banyak perasaan dan kisah cinta hari ini hanya menjadi barang dagangan dan tontonan memalukan dalam tayangan televisi dalam sebuah reality show. Cinta pun diumbar-umbar tanpa rasa malu. Ketika perkataan “aku sayang kamu” dipertontonkan. Ketika peluk dan ciuman dua orang yang hanya baru berpacaran menjadi kebanggaan untuk disaksikan banyak orang, padahal aib. Ketika nilai kesetiaan dan pengertian yang sesungguhnya tak lagi menjadi landasan dalam sebuah cinta, hingga banyak rumah tangga selebriti kita yang berujung perceraian. Tontonan-tontonan kualitas rendah ini berdampak buruk bagi moral masyarakat kita. (Sori, saya memang sudah lama geram soal ini ).
Novel ini mengajarkan kita tentang kesetiaan. Perhatikan petikan surat Hayati kepada Zainuddin dalam novel ini,

“…Saya merasa bahwa saya sanggup memberimu bahagia pada tiap-tiap saat hidupmu, yang tiada seorang perempuan agaknya yang sanggup menandingi saya di dalam alam ini dalam kesetiaan memegangnya, sebab sudah lebih dahulu digiling oleh sengsara dan kedukaan, dipupuk dengan air mata dan penderitaan…”

Novel ini pun mengajarkan kita tentang tujuan dan landasan cinta,

“…Dan kalau sedianya engkau kabulkan, kalau sedianya engkau terima kedatanganku, saya pun tidak meminta upah dan balasan dari engkau. Upah yang saya harapkan hanya dari Dia, Allah Yang Maha Esa, supaya engkau diberi-Nya bahagia, dihentikan-Nya aliran air matamu yang telah mengalir sekian lama…”

Ketika peradaban kita hari ini terdesak oleh peradaban dari barat, yang membawa kabur pengertian-pengertian. Ketika cinta dan kasih sayang disamaartikan dengan seks. Novel ini menunjukkan apa cinta dan kasih sayang itu yang sebenarnya,

“…Dia (Zainuddin) sangat cinta, seluruh iramanya, ilham yang menerbitkan semangatnya mengarang, semuanya ialah lantaran ingat akan Hayati. Sekarang Hayati telah ada dalam rumahnya, tetapi tidak diacuhkannya. Itu adalah tersebab dari cinta yang bermukim dalam hatinya bukan cinta kenafsuan, tetapi cinta murni. Cinta yang menyebabkan mulia budi seorang pemuda yang dihinggapinya…”

Ketika perasaan cinta hari ini diumbar-umbar secara berlebihan di hadapan orang banyak tanpa rasa malu, bahkan sampai ditayangkan di televisi, novel ini justru menunjukkan bahwa perasaan cinta itu adalah rahasia, rahasia dua insan yang memilikinya,

“…Mana tahu, umur di dalam tangan Allah! Jika saya mati dahulu, dan masih sempat engkau ziarah ke tanah pusaraku, bacakan do’a di atasnya, tanamkan di sana daun puding pancawarna dari bekas tanganmu sendiri, untuk jadi tanda bahwa di sanalah terkuburnya seorang perempuan muda, yang hidupnya penuh dengan penderitaan dan kedukaan, dan matinya diremuk rindu dan dendam…”

Dan, cinta memang melenakan. Tapi, lena cinta tak harus membuat orang lupa akan Tuhan yang telah menganugerahi cinta itu. Walau di ujung kematian sekalipun,
“Tidak Hayati, kau akan sembuh, kita akan kembali ke Surabaya menyampaikan cita-cita kita, akan hidup beruntung, berdua! Tidak… Hayati… tidak!”

“Sabar… Zain, cahaya kematian telah terbayang di mukaku! Cuma, jika kumati… hatiku telah senang, sebab telah kuketahui bahwa engkau masih cinta kepadaku!”

“Hidupku hanya buat kau seorang Hayati!”

“Aku pun!…”

Beberapa menit kemudian dibukanya matanya kembali, diisyaratkannya pula Zainuddin supaya mendekatinya. Setelah dekat, dibisikannya: “Bacakanlah… dua kalimat suci… di telingaku.”

Tiga kali Zainuddin membacakan kalimat Syahadat itu, diturutkannya yang mula-mula itu dengan lidahnya, yang kedua dengan isyarat matanya, dan yang ketiga… dia sudah tak ada lagi!…”

Parijs van Java

Anda pernah baca Parijs van Java? Itu, novel karya Remy Sylado. Novel yang menyimpan sejuta keanehan tentang sebuah negeri bernama Hindia Belanda.
Parijs van Java memang julukan untuk kota Bandung. Namun, novel Parijs van Java (sebenarnya) mencoba mengambil gambaran peristiwa yang lebih besar tentang ke-Indonesia-an masa dahulu. Menyimpan catatan-catatan kebangsaan seorang perempuan Belanda-Amerika (sebenarnya Belanda tulen) yang tercerahkan, Gertruida van Veen. Tokoh Gertruida ini, tentu saja (atau mungkin), fiktif dalam kerangka imajiner Remy. Sebab, sepengetahuan saya, Remy bukan seorang novelis penganut aliran Realisme Sosialis.
Ada dua sisi kecenderungan dominan yang tercatat dalam nurani Gertruida (Gerry). Sisi Belanda-nya sendiri dan sisi Hindia Belanda-nya.
Dari sisi Belanda-nya, Gerry melihat adanya perbedaan kecenderungan dan sikap orang Belanda yang tinggal di Belanda dengan orang Belanda yang tinggal di Hindia Belanda.
“Hampir semua Belanda yang meninggalkan negerinya, tak soal pandai ataupun bodoh dan kaya ataupun miskin, begitu mereka menginjakkan kaki di garis nol ekuator, maka serta-merta mereka kemasukan roh kolonial yang menganggap diri mereka sebagai juragan-juragan di atas para kacung.”
Dan, dari sisi ke-Hindia Belanda-an, Gerry melihat adanya pembodohan yang sistematis dan struktural pada masyarakat. Belanda sebenarnya tidak pernah bisa menjajah tanah, yang kemudian tanah itu mereka beri nama Hindia Belanda, dengan kekerasan dan pertempuran. Tapi, pemimpin-pemimpin masyarakatnya sangat mudah dibujuk dengan imbalan harta, kemegahan, dan kehormatan. Melalui pemimpin yang “terbujuk” inilah bangsa ini “dipaksa secara struktural” menjual tanahnya kepada Belanda. Belanda, akhirnya menguasai banyak tanah bangsa ini. Dan, anak bangsa ini pun menjadi pekerja di atas tanah-tanah yang sebelumnya milik mereka. Anak bangsa ini menjadi kacung di atas tanahnya sendiri, tanpa kemerdekaan hak, berada jauh di bawah nilai-nilai kemanusiaan, dan diperlakukan dengan perlakuan hukum yang berbeda yang cenderung keji tanpa rasa keadilan.
Negeri Hindia Belanda itu kini telah merdeka puluhan tahun yang lalu. Negeri itu pun telah berubah nama menjadi Indonesia. Namun, sisa-sisa roh kolonialisme itu masih saja ada melekat di negeri ini. Masih ada perbedaan hak, masih ada perlakuan yang di bawah nilai kemanusiaan, masih ada perbedaan dalam perlakuan hukum dan keadilan.
Hal itu masih tampak ketika seorang nenek bernama Minah dari Dusun Sidoharjo, Ajibarang, Kabupaten Banyumas yang mencuri tiga buah Kakao milik PT. Rumpun Sari Antan sampai diseret ke Pengadilan dan telah divonis hukuman. Padahal niat Nenek Minah bukanlah mau mencuri, dia hanya mau mengambil bijinya untuk ditanam. Dan, namun, di suatu tempat yang tak jauh dari itu, masih di negeri bernama Indonesia, para pelaku yang terlibat dalam skandal Bank Century dan kasus korupsi dengan nilai miliaran rupiah lainnya masih bebas berkeliaran karena kasus hukum yang belum berujung pangkal.
Saya bukan orang yang berdisiplin ilmu hukum. Oleh karena itu, saya tidak tahu apakah realitas di atas bisa dan tepat dinamakan dengan sebutan perbedaan perlakuan hukum. Namun, realitas itu menyiratkan masih ada “tuan-tuan” yang susah dijerat hukum meski dengan kasus yang berat, dan masih ada “kacung-kacung” yang sangat mudah diseret ke pengadilan meski dengan kasus yang ringan sekalipun. Dan realitas ini mengguncang rasa keadilan saya, dan kita.
Saya tidak bermaksud membangun rasa skeptis dan pesimis terhadap negeri ini. Kritik saya dalam tulisan ini dan kritik Remy dalam Parijs van Java tentang Indonesia tentunya boleh ditelaah lebih dalam lagi. Dan, kritik ini, tentu saja berangkat atas dasar keinginan untuk sebuah Indonesia yang lebih baik.
Ket. : Gambar diambil dari forum.detik.com

Dibalik Krisis Listrik Indonesia

Ada banyak peralatan elektronik yang rusak, ada yang meninggal karena mesin genset meledak, kriminal yang meningkat di beberapa jalanan kota yang gelap, ibu-ibu rumah tangga yang mengeluh karena mesin cuci tak bisa dioperasikan, mahasiswa yang tidak bisa melakukan praktek di laboratorium, produksi perusahaan yang turun secara drastis, bahkan sampai kepada tutupnya sebuah perusahaan.
Semua itu adalah sebagian dari akibat yang dirasakan oleh pemadaman listrik yang sangat sering akhir-akhir ini. Bukan hanya di luar Jawa, bahkan di Jakarta dan Bogor saja sudah demikian keadaannya, akibat meledaknya trafo di gardu induk sentral Cawang, Jakarta akhir September lalu.
Pemadaman listrik ibarat minum obat; tiga kali dalam sehari. Malah, bisa lebih sering dari itu. PLN pun berubah kepanjangannya menjadi Pemadam Listrik Negara. Indonesia, kini diancam oleh hantu krisis listrik. Apa sebab?
Cukup panjang bila dijelaskan secara detail. Yang jelas, peningkatan kebutuhan listrik tidak sebanding dengan peningkatan kapasitas daya. Kebutuhan akan listrik terus meningkat setiap tahunnya, sementara ketersediaan daya (boleh dibilang) tetap. Kondisi ini, tentunya, menyebabkan defisit daya.
Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan, salah satunya kebutuhan listrik. Dengan pertumbuhan ekonomi 6 %, seharusnya kapasitas listrik bertambah minimal 9 %. Menurut PLN, untuk menambah kapasitas daya 9 %, dibutuhkan investasi Rp 80 triliun per tahun. Sementara, ketersediaan dana PLN hanya Rp 20 triliun setiap tahunnya. Itu pun tidak bisa digunakan untuk investasi, karena tersedot oleh biaya operasional.
Minimnya ketersediaan dana PLN untuk berinvestasi (baca: penambahan daya – pen.), lagi-lagi menurut PLN, tak lepas dari model bisnis PLN selama ini. PLN harus membeli bahan baku, termasuk bahan bakar, dengan harga pasar. Sementara, dari sisi penjualan, harga listrik ditentukan oleh pemerintah. Belum lagi subsidi yang tak mengenal jenjang. Mulai dari rumah sederhana sampai kepada rumah mewah dan mal-mal listriknya disubsidi oleh pemerintah.
Itu cerita PLN. Di luar itu, ada banyak sistem produksi usaha kecil dan menengah, bahkan sampai kepada banyak usaha besar, yang tergantung kepada pasokan listrik dari PLN. Logikanya, bila pasokan listrik sering mati, tentu mempengaruhi kemampuan mereka untuk berproduksi. Bila produksi berkurang, tentu saja, akan terjadi penurunan omzet. Penurunan omzet akan mempengaruhi kemampuan biaya produksi selanjutnya.
Celakanya, sudah ada beberapa perusahaan besar yang terpaksa melakukan pengurangan jam kerja dan bonus akibat pemadaman listrik yang terlampau sering. Bila keadaan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin, akan terjadi PHK dalam jumlah yang besar. Risiko yang lebih parah dari itu, akan ada banyak usaha yang terpaksa ditutup (mati). Bila iklim usaha tidak berkembang, sangat besar pengaruhnya pada pertumbuhan ekonomi. Rasa-rasanya, bila demikian, akan sangat sulit untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 7 % pada tahun 2014 sebagaimana pernah dikatakan SBY.
Mengerikan memang. Namun, kesulitan harus segera dicarikan solusi. Himbauan kepada masyarakat agar melakukan penghematan pemakaian listrik bukanlah sebuah anjuran yang tepat. Karena, yang namanya kebutuhan listrik, bukanlah sebuah kebutuhan yang bisa dipatok pada sebuah titik. Kebutuhan akan listrik senantiasa berkembang dinamis seiring pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi.
Perhatian terhadap perbaikan keuangan PLN sangat perlu difokuskan, agar perusahaan ini senantiasa bisa menyesuaikan besaran investasi dengan pertumbuhan ekonomi. Disamping itu, PLN sebagai sebuah perusahaan (meski perusahaan yang berstatus milik negara), juga harus aktif melakukan berbagai terobosan. Karena, memang, khusus untuk persoalan listrik inilah perusahaan ini didirikan untuk menunjang pembangunan.
Hari ini, kebutuhan akan listrik sudah menjadi hajat hidup orang banyak. Keluhan terhadap masalah ini adalah keluhan kita bersama. Tak pelak lagi, perhatian kita semua amat dibutuhkan. Anda punya pendapat atau solusi? Silakan.

Semalam di Melaka

Sebenarnya, saya tidaklah hanya semalam saja berada di Melaka. Melainkan, enam hari. Cuma saja, kalau saya buat judul Enam Hari di Melaka, kan kedengarannya kurang enak. Hehehe…

Dalam Bahasa Melayu, kata “semalam” tidak saja berarti “lama waktu keberadaan”. “Semalam” juga berarti “waktu perselangan”. Jadi, “semalam” juga bisa berarti “kemarin”. Maka, dalam perspektif judul Semalam di Melaka ini, saya tidak terlalu berbohong kan? Karena, keberadaan saya di Melaka telah berselang satu hari, terhitung sejak saya mendarat kembali di Pekanbaru.

Kenapa saya ke Melaka?

Kepergian ke Melaka kali ini bukanlah untuk berpesiaran (tamasya), tapi dalam rangka menemani ayahanda saya berobat di sana. Oleh karenanya, hampir seminggu ini, saya tak bisa full blogging. Saya juga tak punya foto-foto dari Melaka yang bisa saya tampilkan disini. Karena, selama disana, saya tak punya waktu untuk itu. Saya berkonsentrasi menemani dan mengurusi keperluan ayahanda saya selama di hospital. Habis itu, langsung saja pulang ke Pekanbaru. Alhamdulillah, perkembangan ayahanda saya mulai dan semakin membaik.

Beberapa hari ke depan, tampaknya, juga masih demikian. Saya belum bisa full blogging dan menyapa sahabat-sahabat semua. Komentar para sahabat, di postingan sebelumnya, pun belum sempat saya tanggapi sepenuhnya. Insya Allah, setelah keadaan kembali seperti semula, saya akan segera larut bercengkerama kembali di dunia maya dengan anda semua; para sahabat pembaca dan para sahabat blogger yang amat saya cintai.

Jadi, postingan ini, hanya sebagai laporan saja. Dan, laporan selesai. :D

Membincangkan Masalah Masa Depan

Saya mencermati beberapa respon teman-teman di halaman komentar terkait posting sebelumnya; Membangun Semangat Dangdut Indonesia. Ada bersit kekecewaan melihat perkembangan dunia musik dangdut yang tidak sebaik dulunya, terutama dalam konteks nilai atau norma.

Sebenarnya, terkait membincangkan perbedaan masa dahulu dan masa sekarang itu, bukan saja terjadi pada musik dangdut semata. Tapi, hampir pada semua dimensi kehidupan manusia. Dan itu, sudah menjadi salah satu masalah masa depan.

Ditinjau dari banyak sudut pandang, masa depan punya beberapa karakteristik. Apa saja itu?

  1. Pasti beda dengan sekarang. Pada poin ini, saya kira, semua kita setuju bahwa masa depan itu pasti beda dengan keadaan sekarang. Apakah lebih baik ataukah lebih buruk, yang jelas, pasti berbeda dengan keadaan sekarang ini.
  2. Penuh dengan ketidakpastian. Siapa yang paling bisa memastikan keadaan yang terjadi di masa depan?
  3. Perubahan yang terjadi semakin cepat. Lihat saja perkembangan manusia; prilaku, budaya, dan peradabannya dari hari ke hari, semakin cepat perubahannya.
  4. Paradoks dengan keinginan manusia. Apapun itu, sesuatu yang terjadi di masa depan, lebih banyak cenderung paradoks dengan keinginan manusia.

Melihat karakteristik masa depan yang demikian, tentu saja, menarik untuk mengetahui apa yang menjadi faktor atau sumber perubahan di masa depan manusia. Yakni:

  1. Teknologi – kiat mengerjakan sesuatu berdasarkan logika rasional.
  2. Ekonomi – prilaku manusia mendayagunakan sumber dalam memenuhi kebutuhan hidup (kepuasan).
  3. Sosial – hubungan dalam masyarakat.
  4. Politik – pengelolaan kekuasaan dan kekuatan.
  5. Kehendak Tuhan – seuatu yang di luar jangkauan kemampuan manusia. Oleh sebab itu manusia punya kewajiban berharap dan berdo’a (ibadah).

Masih menjadi perdebatan apakah masa depan itu dapat atau sama sekali tidak dapat direkayasa dan dikendalikan oleh manusia. Lalu, bila sudah demikian, apakah kita harus lantas menyerah begitu saja? Tentu saja tidak.

Kita tidak diminta untuk terjebak dalam kesalahan berpikir pada titik ini. Justru, pada titik inilah, harus ada perencanaan dan kerja keras manusia. Dengan tujuan, agar perubahan yang terjadi di masa depan tersebut tidak terlalu jauh berbeda dengan keinginan manusia.

Membangun Semangat Dangdut Indonesia

Masih jelas dalam ingatan saya, saat itu masih kelas 1 SMP, bersama orang tua pulang ke kampung halaman. Tujuan kepulangan itu adalah membangun kebun keluarga. Saya sedang libur sekolah dan orang tua saya cuti kerja. Pagi sekali, kami sudah berangkat ke kebun. Siangnya, kami makan dengan makanan ala kampung yang sedapnya bukan main di sebuah kedai. Saat makan siang itulah, di kedai itu, selalu diputar lagu-lagu dangdut yang aduhai merdu dan enaknya. Menambah selera makan. Senandung-senandung almarhum Meggy Z. itu tak pernah lepas dari kenangan indah saya.
Sepuluh tahun kemudian, di Bandaraya Melaka, Malaysia, saya juga pernah mendengar lagu-lagu dangdut Indonesia dinyanyikan oleh biduan Malaysia di sebuah cafe. Ada tembang “Terajana” dan “Rembulan Malam”. Tapi, saya nilai, lagu itu dinyanyikan dalam tempo yang terlalu cepat. Sehingga kesyahduannya kurang bisa saya nikmati. Entah karena perbedaan selera orang Indonesia dan Malaysia dalam menikmati lagu dangdut, maka berbeda pula cara orang di sana mengekspresikannya.
Dangdut, sebagaimana klaim kita, adalah musik sejati masyarakat Indonesia. Demam dangdut ini pernah begitu mewabah di kalangan masyarakat kita. Sampai-sampai, almarhum Chrisye yang sejatinya adalah penyanyi pop, pun pernah terkena wabah ini. Terakhir kali, SLANK dengan “Pandangan Pertama”-nya. Tapi, citra dangdut juga pernah tercoreng oleh beberapa biduan yang menyanyikannya dengan disertai goyangan-goyangan yang erotis, dan muncul pula lagu dangdut dengan lirik yang tidak sopan.
Fenomena terakhir ini, tentu saja sangat disayangkan. Membuat sebuah citra musik, yang telah terbangun sejak lama sebagai musik yang paling merakyat, disusupi oleh nilai-nilai yang tidak pantas. Syukurlah, akhir-akhir ini, fenomena yang demikian sudah mulai berkurang. Dan untuk pembicaraan kali ini, jenis dangdut dengan fenomena buruk ini tidak termasuk dalam maksud pembahasan saya.
Dangdut yang baik, lebih realistik dalam mengangkat tema tentang kehidupan. Apakah itu soal percintaan atau masalah kehidupan lainnya, dangdut selalu bisa menyajikan sebuah persoalan dengan lebih mengena. Meski demikian, dengan irama dan nada yang ajaib, sebuah tema yang apa adanya selalu bisa mengalir dan melantun secara syahdu. Cermati saja lagu-lagunya Rhoma Irama, Evie Tamala, Mukhsin Alatas, dan lain-lain.
Dangdut yang baik, lebih kreatif dan berwarna. Tidak seperti kebanyakan lagu-lagunya Boy Band’s sekarang, yang selalu saja seputar persoalan percintaan dengan latar musik dan gaya (ekspresi) yang hampir sama antara satu grup dengan grup yang lainnya, warna musik dangdut selalu berbeda antara satu penyanyi dengan penyanyi lainnya.
Lirik dangdut yang baik, sarat pesan kontrol sosial. Untuk peran kontrol sosial inilah sebuah nilai seni dan budaya harus dikedepankan.
Dan terakhir, sebagai sebuah musik hiburan, dangdut yang baik mampu menjadi penghibur dalam kesedihan dan kesusahan. Apakah itu persoalan percintaan atau masalah kehidupan lainnya yang dialami manusia, dangdut yang baik mampu meringankan kesedihan itu dan membangkitkan nilai semangat yang positif bagi seseorang atau sekelompok manusia.
Dangdut adalah salah satu khasanah musik Indonesia yang sukar ditiru oleh bangsa lain. Dangdut punya ciri musik yang sangat spesifik, dan bahkan (mungkin) sangat ajaib. Saya tidak setuju kalau kita merasa malu untuk mengatakan suka terhadap musik dangdut. Padahal, dalam hati, pesona dangdut begitu meraja dan mendendang-dendang. Tapi, kita takut dan malu mengakuinya.
Kalaupun kita benar-benar tak menyukainya, mulailah pelan-pelan untuk belajar menyukainya. Saya juga penggemar pop, akustik, jazz, dan slow rock serta beberapa musik tradisional lainnya. Tapi, saya tak pernah malu untuk membuka diri dan mengakui bahwa saya sangat suka dangdut. Dengan kita mencintai dangdut, kita punya kemauan untuk selalu bisa menjaga citra musik ini tetap baik. Menjaganya untuk selalu bisa bersih dari susupan goyangan-goyangan erotis dan lirik yang tidak sopan. Inilah salah satu khasanah musik Indonesia. Kalau tidak kita, siapa lagi yang akan menjaganya.
Mulai sekarang, mari bersama-sama membangun semangat dangdut Indonesia, untuk sebuah khasanah seni dan budaya yang baik, yang lahir dari bangsa ini.