Refleksi dan Catatan-Catatan Kecil

Filed under Ekonomi dan Bisnis, Masalah Bangsa

Dibalik Krisis Listrik Indonesia

Ada banyak peralatan elektronik yang rusak, ada yang meninggal karena mesin genset meledak, kriminal yang meningkat di beberapa jalanan kota yang gelap, ibu-ibu rumah tangga yang mengeluh karena mesin cuci tak bisa dioperasikan, mahasiswa yang tidak bisa melakukan praktek di laboratorium, produksi perusahaan yang turun secara drastis, bahkan sampai kepada tutupnya sebuah perusahaan.

Semua itu adalah sebagian dari akibat yang dirasakan oleh pemadaman listrik yang sangat sering akhir-akhir ini. Bukan hanya di luar Jawa, bahkan di Jakarta dan Bogor saja sudah demikian keadaannya, akibat meledaknya trafo di gardu induk sentral Cawang, Jakarta akhir September lalu.

Pemadaman listrik ibarat minum obat; tiga kali dalam sehari. Malah, bisa lebih sering dari itu. PLN pun berubah kepanjangannya menjadi Pemadam Listrik Negara. Indonesia, kini diancam oleh hantu krisis listrik. Apa sebab?

Cukup panjang bila dijelaskan secara detail. Yang jelas, peningkatan kebutuhan listrik tidak sebanding dengan peningkatan kapasitas daya. Kebutuhan akan listrik terus meningkat setiap tahunnya, sementara ketersediaan daya (boleh dibilang) tetap. Kondisi ini, tentunya, menyebabkan defisit daya.

Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan, salah satunya kebutuhan listrik. Dengan pertumbuhan ekonomi 6 %, seharusnya kapasitas listrik bertambah minimal 9 %. Menurut PLN, untuk menambah kapasitas daya 9 %, dibutuhkan investasi Rp 80 triliun per tahun. Sementara, ketersediaan dana PLN hanya Rp 20 triliun setiap tahunnya. Itu pun tidak bisa digunakan untuk investasi, karena tersedot oleh biaya operasional.

Minimnya ketersediaan dana PLN untuk berinvestasi (baca: penambahan daya – pen.), lagi-lagi menurut PLN, tak lepas dari model bisnis PLN selama ini. PLN harus membeli bahan baku, termasuk bahan bakar, dengan harga pasar. Sementara, dari sisi penjualan, harga listrik ditentukan oleh pemerintah. Belum lagi subsidi yang tak mengenal jenjang. Mulai dari rumah sederhana sampai kepada rumah mewah dan mal-mal listriknya disubsidi oleh pemerintah.

Itu cerita PLN. Di luar itu, ada banyak sistem produksi usaha kecil dan menengah, bahkan sampai kepada banyak usaha besar, yang tergantung kepada pasokan listrik dari PLN. Logikanya, bila pasokan listrik sering mati, tentu mempengaruhi kemampuan mereka untuk berproduksi. Bila produksi berkurang, tentu saja, akan terjadi penurunan omzet. Penurunan omzet akan mempengaruhi kemampuan biaya produksi selanjutnya.

Celakanya, sudah ada beberapa perusahaan besar yang terpaksa melakukan pengurangan jam kerja dan bonus akibat pemadaman listrik yang terlampau sering. Bila keadaan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin, akan terjadi PHK dalam jumlah yang besar. Risiko yang lebih parah dari itu, akan ada banyak usaha yang terpaksa ditutup (mati). Bila iklim usaha tidak berkembang, sangat besar pengaruhnya pada pertumbuhan ekonomi. Rasa-rasanya, bila demikian, akan sangat sulit untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 7 % pada tahun 2014 sebagaimana pernah dikatakan SBY.

Mengerikan memang. Namun, kesulitan harus segera dicarikan solusi. Himbauan kepada masyarakat agar melakukan penghematan pemakaian listrik bukanlah sebuah anjuran yang tepat. Karena, yang namanya kebutuhan listrik, bukanlah sebuah kebutuhan yang bisa dipatok pada sebuah titik. Kebutuhan akan listrik senantiasa berkembang dinamis seiring pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi.

Perhatian terhadap perbaikan keuangan PLN sangat perlu difokuskan, agar perusahaan ini senantiasa bisa menyesuaikan besaran investasi dengan pertumbuhan ekonomi. Disamping itu, PLN sebagai sebuah perusahaan (meski perusahaan yang berstatus milik negara), juga harus aktif melakukan berbagai terobosan. Karena, memang, khusus untuk persoalan listrik inilah perusahaan ini didirikan untuk menunjang pembangunan.

Hari ini, kebutuhan akan listrik sudah menjadi hajat hidup orang banyak. Keluhan terhadap masalah ini adalah keluhan kita bersama. Tak pelak lagi, perhatian kita semua amat dibutuhkan. Anda punya pendapat atau solusi? Silakan.

38 Responses to “Dibalik Krisis Listrik Indonesia”

  1. Ronaldo Rozalino says:

    Krisis Listrik sudah mendunia !!! Dimana listrik susah!!!

    [Reply]

  2. IwanKus says:

    hehehe…kok jadi pemadam listrik negara?

    [Reply]

  3. arkasala says:

    saya setuju sekali Mas, listrik ini sudah menjadi kebutuhan pokok. Saya pernah merasakan hidup tanpa listrik, duh menderitanya. Semoga terdengar seruan ini oleh PLN Mas. Terima kasih sekali :)

    [Reply]

  4. joko santoso says:

    Saya heran lho, kenapa kejadian begini hampir merata di seluruh Indonesia, di daerah saya tinggal, Kendari Sulawesi Tenggara tidak jauh beda. Tidak hanya itu, permohohan pemasangan baru aja sampai 10 jt lho di daerah saya. Itupun belum tentu langsung dapat.

    [Reply]

  5. heru says:

    padahal banyak sekali pembangkit listrik di indonesia, tapi msh saja ngak cukup, barangkali udah adatnya mas sudeska, selalu saja begitu

    [Reply]

  6. hpnugroho says:

    bener mas, anjuran penghematan bisa dibilang tdk maksimal. Mungkin akan lebih efektif jika dilakukan pengurangan subsidi. Misalnya, subsidi hanya untuk golongan bawah, rumah mewah milik pejabat harus bayar dong … pejabat udah digaji rakyat, kok masih minta gratisan .. ?? kalo perlu tarifnya diatas tarif normal ….

    [Reply]

  7. Zico Alviandri says:

    Semoga segera solved deh masalah listrik ini. Dan mudah2an gak terjadi PHK gara2 listrik ini. Amiin.

    [Reply]

  8. script gratis says:

    kalau nagih aja pihak PLN gencar, kl telat byr listrik, disuratin trus, kl uda spt skr sering ada pemadaman listrik bergilir harusnya PLN malu sama diri sendiri dan memperbaiki kualitas kerjanya, jgn uang rakyar dikorupsi aja boz

    [Reply]

  9. genial says:

    mengerikan memang… :( hidup tanpa listrik?!?!?

    [Reply]

  10. cah ndeso says:

    HEMAT ENERGI….PLN RUGI
    BOROS ENERGI….LISTRIK MATI

    jadi mumet nih :D

    [Reply]

  11. bundadontworry says:

    sebenarnya mungkin kita nggak perlu mengalamai krisis perlistrikan ini, kalau saja PLN mau mengadakan daya listrik dr berbagai sumber yg ada di negeri kita, misalnya dr air, uap dan juga gas.
    namun, krn semua itu sudah dijual ke negeri tetangga,akhirnya di negeri sendiri kekurangan.
    ironis sekali, negara yg katanya kaya, pd kenyataannya hrs mengalami ini semua.
    salam.

    [Reply]

  12. Khery Sudeska says:

    @arkasala: Mudah2an, Kang :)

    @Joko Santoso: Ya, ini merata terjadi diseluruh Indonesia. Akibat itu tadi, tidak seimbangnya pertumbuhan dengan penambahan daya. Saat ini banyak fasilitas daya yang sudah seharusnya mengalami perbaikan atau pembaharuan beberapa tahun yang lalu. Tapi, terlambat. Makanya jadi begini semuanya…

    @heru: Banyak yang sudah seharusnya mengalami perbaikan/pembaharuan beberapa tahun yang lalu, Mas. Tapi tak dilakukan. Makanya jadi kacau semua…

    @hpnugroho: Saya juga setuju usul itu, Mas Nugroho :)

    @Zico Alviandri: Mudah2an, Kawan :)

    @script gratis: Hehehe… Betul, seharusnya begitu…

    @genial: Jelas, Gen… :(

    @cah ndeso: seharusnya ada langkah-langkah yang tepat segera… :)

    @bundadontworry: Nah, ini penyakit lain bangsa kita, Bunda. Dan semuanya saling berkaitan. Saya pun susah mau ngomong apa. Nanti, bila terlalu dikritisi, kita dibilang membangun rasa pesimis terhadap bangsa ini :)

    [Reply]

  13. dadangsupriadi says:

    Sepertinya krisis listrik merata se Indonesia..

    [Reply]

  14. belajar bisnis internet | hill says:

    iya kenapa ya bisa separah itu kondisi PLN? sepengetahuan saya pemasok energi indonesia itu adlh Indonesia Power(anak perush PLN). jd solusinya gimana ya?Apa harus ada pemasok lain(swasta) yg lebih hebat dari Indonesia Power yg notabene BUMN?. ah sy jd bingung sendiri :D

    PS: Maaf br bs brkunjung lg mas khery :) ,maklum msh status krj di perush org :D
    PSS: tentang Tawaran mas khery adlh peluang yg sangat baik buat sy, menyenangkan sekali apabila ada kesempatan utk join :D

    [Reply]

  15. Edy S says:

    Terima kasih sebelumnya atas kunjungan anda di blog orchid. Dalam rangka cari pemantapan diri ternyata blog yang rada nyleneh malah eksis.
    Memang era kebangkrutan PLN mungkin, bagaimana tidak bangkrut beli listrik dari perusahaan swata, kemudian dijual lagi lebih murah, subsidi, tapi untuk perusahaan besar yang mestinya mampu untuk bayar normal. Subsidi untuk rakyat sih tidak apa, terutama rakyat pedesaan. Kenyataannya…????

    [Reply]

  16. Anaa says:

    duh dengar kabar negeri jd miris, mulai dari krisis listrik, moral sampai musibah dan bencana yg bruntun… bgmpun ttp rindu pulang…

    [Reply]

  17. Pencarian Puisi says:

    Yang diperlukan negeri ini adalah kediplinan masyarakatnya, barangkali kalau kita semua betul-betul peduli dengan cara menghemat listrik berbagai cara mungkin listrik gak bakalan krisis, hotel-hotel besar, jalan-jalan dan perumahan ganti pake hemat energi coba liat di pertokoan berapa listrik yang menyala, bahkan orang biasa tidur aja pake lampu menyala padahal kita kan merem hehe

    [Reply]

  18. ajir says:

    semoga gak gelap lagi.. :D

    [Reply]

  19. dafiDRiau says:

    Ada isu miring nih buat Kepala PLN…
    Ada Insentif tuh dari Prngusaha/Distributor Genset
    WABS

    [Reply]

  20. mamah aline says:

    Iya nih listrik penting banget buat kehidupan seperti air, ketergantungan yang besar pada pemakaian listrik membuat kita terjebak dalam situasi krisis

    [Reply]

  21. sumartono says:

    Alangkah baiknya ya mas kalau pemerintah membentuk departemen sendiri tentang kelistrikan ini. Jadi nantinya ada Menteri Kelistrikan yang benar-benar fokus pada bidang ini.

    [Reply]

  22. informasi peternakan ayam says:

    wah.. sangat menghawatirkan dengan kondisi masyarakat indonesia umuumnya, khusus nya tempat saya, yang sering jadi korban karena pemadaman kadan2 samapi 8 jam, sampai2 penetasan telur kecil2an di rumah saya, yang dijalankan oleh adik saya, emngalami kegagalan ( infertile ) telur samapi 28% karena pemadaman tersebut, itu baru saya yang merasakan kerugian seperti itu, karena tidak mempunyai pembangkit listrik cadangan….

    Hmmm… kasihan saya sebagai rakyat kecil yang merasa Listrik adalah kebutuhan pokok yang setiap hari embutuhkan daya dari listrik Tsb. tapi saya rakyat kecil hanya bisa berharap. mudah2an permasalahan pemadaman listik bisa segera teratasi.

    eh ketika tadi jalan2 dan saya melihat di web tetangga sebelah, malahan PLN DAPAT JULUKAN "PERUSAHAAN LILIN NEGARA" wah kasian banget

    salam bos

    [Reply]

  23. rojai82 says:

    hmmm……. bner tuH, PLN kadang jadi merugikan kita. ya … walopun yang padamnya itu kagak di bayar, tapi tetep aja kesempatan kita wat dapet uang jadi hilang gara-gara listrik mati. apalagi kerjaanku kan membutuhkan daya listrik, nah kalo listrik mati, gimana aku bisa kerja???

    [Reply]

  24. syd says:

    Sabar sabar,.. biarpun kesabaran ada batasnya ,..

    [Reply]

  25. dadangsupriadi says:

    Link Sudah Terpasang di blog saya..Terimakasih

    [Reply]

  26. alfon says:

    semoga masalah listrik di negara kita cepat selesai ya mas amin

    [Reply]

  27. rahasia yang terabaikan says:

    pemadaman bergilir memang sudah di luar batas kewajaran……negri ini memang di landa berbagai krisis termasuk listrik yang sangat vital sekali untuk kehidupan kita….

    [Reply]

  28. made gelgel says:

    pemikiran yang masuk akal mas

    [Reply]

  29. sobatsehat says:

    di tempat saya juga, sedang krisis listrik………investor susah masuk kalo listrik macet otomatis mengganggu pembangunan

    [Reply]

  30. Indobacklink says:

    di jkt sempet pemdaman bergilir.. untung sekarang uda ga lagi..

    [Reply]

  31. antokoe says:

    semoga krisis cepat pulih dan dunia makin terang benderang

    [Reply]

  32. JR says:

    selamat malam aku mampir lagi nih mas…..gimana sekarang masih mati lampunya gak mas

    [Reply]

  33. Sugeng says:

    Akibat dari sering matinya listrik, sektor usaha kecil & menengah berjalan. Terutama sektor kerajinan usaha lampu templek yang sekarang banyak di jual di pingir2 jalan hampir disemua kota besar langganan pemadaman leistrik. :lol:

    [Reply]

  34. Khery Sudeska says:

    @Pencarian Puisi: Jangan keburu menyalahkan masyarakat, My Friend. Hemat energi sih emang harus. Tapi, manajemen peningkatan dan pengembangan daya listrik juga harus menjadi perhatian yang serius. :)

    @sumartono: Layak juga untuk dipertimbangkan, Mas. Mengingat kondisi saat ini. :)

    @informasi peternakan ayam: Trims atas sharingnya, Mas. Nah, ini contoh salah satu usaha yang terkena dampak langsung pemadaman listrik.

    @rojai82: Memang, banyak pekerjaan kita yang bergantung pada listrik. Apatah lagi di jaman teknologi mulai marak saat ini.

    @sobat sehat: Setuju, Mas Putra. :)

    @Sugeng: Ya, segala peristiwa tentu saja ada hikmahnya. Namun, sektor usaha yang bergantung pada listrik ini jauh lebih banyak. Apalagi yang kecil dan menengah.

    [Reply]

  35. [...] Yang ringan sajalah contohnya, kau sedang asyik nonton acara kesukaanmu di TV, tapi kau cemas kalau tiba-tiba PLN mati…” Dalam hati saya berkata, “Wah, yang terakhir ini saya yang setuju…”. Tapi tak [...]

  36. [...] terakhir (walaupun dari sisi ratio utang terhadap GDP hal itu tidak jadi masalah), sampai kepada persoalan PLN, adalah sebagian dari sekian banyak dereten agenda yang harus [...]

  37. [...] Keterbatasan sarana dan infrastruktur, terutama di sektor transportasi, telekomunikasi, pasokan air bersih, dan listrik. [...]

  38. [...] energi daya listrik secara nasional. Kecukupan BBM dan pengembangan energi [...]

Leave a Reply