Filed under Islam
Ali Syari’ati; Mengapa Harus Hijrah?
Tulisan ini, seharusnya terbit dua hari yang lalu. Tapi, tak mengapa, karena setiap kejadian dalam hidup bukan hanya sekedar momentum. Lebih dari itu, ia merupakan makna dan hikmah. Demikian pula dengan Hijrah ini.
Menurut Ali Syari’ati, migrasi atau hijrah (tentu saja hijrah di jalan Allah) adalah pemutusan keterikatan masyarakat terhadap tanahnya. Artinya, pergi meninggalkan tanah kelahirannya atau kampung halamannya. Kepergian tersebut akan mengubah pandangan manusia terhadap alam. Mengubahnya menjadi pandangan yang luas dan menyeluruh, menghilangkan kemerosotan pemikiran dan perasaan, menjadikannya manusia yang dinamis. Dan, kepergian untuk meninggalkan kampung halaman ini mutlak atau harus. Mengapa?
“Seseorang yang tertawan oleh lingkungan tempat tinggalnya, menjadi terpenjara dan statis, dan pada gilirannya tidak bisa berkembang dan berubah. Akibat lanjutannya, pikiran, akal, kesadaran, ilmu, seni, kebudayaan, agama, dan pandangan kesemestaannya menjadi terkungkung dan mandeg, atau didesak oleh – dan akhirnya mati di tangan – peradaban, agama, dan masyarakat lain yang dinamis dan terbuka, yang lebih perkasa dalam kontak yang terjadi dengannya.” (Lihat Ali Syari’ati dalam Rasulullah Saw. Sejak Hijrah Hingga Wafat, 1992.)
Jadi, makna hijrah tanpa kepindahan geografis adalah tidak cukup. Ada dua contoh yang menarik untuk membenarkan pernyataan ini:
Pertama, dulu bangsa Yunani menganggap bahwa bangsa merekalah yang memiliki peradaban tertinggi, dan menganggap bangsa lain sebagai bangsa yang tidak beradab. Tapi, akhirnya, peradaban mereka merosot dan hancur di tangan bangsa Romawi dikarenakan tidak maunya mereka hijrah melihat perkembangan bangsa lain yang senantiasa dinamis. Bangsa Yunani selama itu terkungkung dalam dinding-dinding kota mereka, dan mengisolasi diri dari dunia non Yunani.
Kedua, bangsa Indonesia (dulu Nusantara lalu kemudian bernama Hindia Belanda) terjajah oleh bangsa Belanda, tak lain tak bukan karena bangsa Indonesia setelah runtuhnya Majapahit tak pernah lagi hijrah ke luar dari negerinya melihat peradaban bangsa lain. (Lihat Pramoedya Ananta Toer dalam Arus Balik dan Saya Terbakar Amarah Sendirian). Beratus tahun kemudian setelah itu, Indonesia merdeka, disebabkan karena adanya anak-anak bangsa ini yang hijrah ke luar lalu pulang menyerukan kemerdekaan. Kalau tidak ada anak-anak bangsa ini yang pernah hijrah ke luar, bangsa Indonesia ini tidak akan pernah merdeka. Sebab, pada saat itu, bangsa ini sendiri tidak sadar bahwa mereka sedang dijajah.
Dua contoh di atas sudah cukup untuk membenarkan bahwa memaknai hijrah tanpa perpindahan geografis itu tidak cukup.
Oleh sebab itu, perintah Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. beserta para pengikutnya untuk hijrah dari Mekah ke Madinah, dalam konteks kekinian, haruslah diterjemahkan secara hakiki sebagai sebuah perpindahan geografis.
Tanpa terjadinya perpindahan geografis dari Mekah ke Madinah itu, mustahil Islam akan berkembang seperti sekarang ini. Karena pemikiran dan wawasan kaum muslimin kala itu terkungkung oleh lingkungan orang-orang kafir Quraisy di Mekah. Dengan hijrah ke Madinah, kaum muslimin (kata Syari’ati) menemukan “kemungkinan-kemungkinan baru”, yang kelak setelah itu mereka memperoleh kemenangan beruntun secara politik, kemiliteran, dan agama.
Demikian pula hari ini, hijrah itu harus tetap dimaknai sebagai perpindahan geografis. Tanpa perpindahan geografis, mustahil terjadi perubahan pada pola pikir, akal, dan wawasan. Tanpa perpindahan geografis, akal dan pikiran akan senantiasa statis dan tidak berkembang. Dengan hijrah secara geografis, maka hijrah itu selanjutnya (kata Syari’ati) akan menjadi “gerakan dan loncatan besar manusia, yang meniupkan semangat perubahan dalam pandangan masyarakat, dan pada gilirannya menggerakkan dan memindahkan mereka dari lingkungan yang beku menuju tangga kemajuan dan kesempurnaan”.
So, selamat Tahun Baru Hijrah, 1431 H. Moga hari esok lebih baik!![]()
PERTAMAXXXXX
setuju bgt mas… kalo g dimaknai seperti itu, pasti akan terjadi kesalahpahaman.
salam kenal..
nice to read
great posting
[Reply]
met taon baru hijriah
[Reply]
Selamat Tahun Baru..!
bagus sekali sudeska, mungkin itu juga makna merantau yang sejak dulu tertanam di prilaku masyarakat minang.
[Reply]
yahhh itu lupa diganti nama bundo, hehhhhee
[Reply]
yah, huruf n kelebihan.. kenapa siyh bundo?
[Reply]
met tahun baru hijriah
bos… ngomong2 masalah hijrah… apakah saat ini benar2 wajib untuk pindah Geografis…
bukannya sudah ada "media maya–> red:internet" yang bisa memindahkan kita secara "maya pula" ketempat yang lain…
mohon pencerahan
[Reply]
met tahun baru hijriah mas sudeska
[Reply]
Selamat Tahun Baru 1 Muharam 1431 H.
bunda sudah hijrah dari medan ke jakarta sekarang ke tangerang.
jadi sudah terpenuhi salah satu syaratnya ya Mas Sudes.
Salam.
[Reply]
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharam 1431 Hijriah
salam kenal yaa
[Reply]
Seiring waktu yang terus berlalu,,
Dan kehidupan yang harus kita jalani
Sudah tentunya suka dan duka pasti ada
Salah dan dosa pasti ada
[Reply]
Selamat Tahun Baru Islam 1431 H
Semoga Allah SWT mengampuni dosa kita
Amiiinnn
Mohon Maaf Lahir Dan Bathin
[Reply]
ulasan yang mantap… mungkin selain itu terjadinya hijrah terbagi dua lagi. hijrah dengan sendirinya atau dihijrahkan
[Reply]
Selamat tahun baru bang, seomga tahun lalu menjdai introspeksi diri bagi kita uantk menjalani tahun ini
[Reply]
selamat tahun baru hijrah, semoga bergantinya tahun semakin baik bangsa indonesia dan semoga bertambah sukses selalu
[Reply]
Wah sebuah pemaparan yang kritis menurut saya, karena saya juga sering mendengar pandangan hijrah di masa kini tidak selamanya harus mengikuti perpindahan geografis, karena konteksnya sekarang bukan lagi di zaman nabi atau para Rasul.
Tapi saya sepakat dengan pendapat tulisan di atas, hijrah memang selayaknya bisa dimaknai sebagai perpindahan geografis…Dan saya juga sedang berencana untuk berhijrah nih, hijrah kerjaan! kan pindah geografis juga tuh, cuma belum nemu tempat yang baru:), doakan ya Bang…
[Reply]
@alfarolamablawa: Kalo nggak salah, kemarin kita sudah saling kenal, Mas. Mungkin lupa lagi. Hehehe…
@yangputri: Sama2, yangputri. Moga hari esok lebih baik…
@Adelma: Ini siapa ya? Salam kenal ya?
Ya, Mande. Orang minang ini terkenal sebagai orang yang paling banyak hijrah. Oleh sebab itu, mereka banyak sekali menguasai aspek kehidupan. Mulai dari politik, pemerintahan, perdagangan, ulama dan cendikiawan, dll. Apa2 yang ada dalam masyarakat minang ini sangat mendorong mereka untuk hijrah. Termasuk lagu-lagunya. Perhatikan petikan lagu berikut ini:
"Hati dek manangguang ragam
Salaruik nanko mato nan indak talalokkan
Bialah den bajalan (hijrah)
Untuak apo di siko manangguang ragam…"
(Lirik lagu Diseso Bayang – Zalmon)
@nakjaDimande: Duh, kenapa sih Mande? Kok jadi gelagapan gitu sih? Apa karena tanpa sengaja telah tercantum nama Mande itu? Hehehe… Tenang aja, Mande. Sejak pertama kali ke blog Mande, saya sudah tahu siapa nama mande selengkapnya. Bahkan setelah huruf "A" itu ada huruf "R" kan? Jadi nggak perlu lagi jadi gelagapan karena itu. Hehehe…
@andriristiawan: Jangan terjebak oleh pendapat yang demikian, Andri. Melihat, menonton, menyaksikan, dan membaca itu tidak sama arti dan pengaruhnya dengan mengalami. Saya kasih contoh. Berbeda nggak rasanya melihat orang kecelakaan dengan mengalami sendiri sebuah kecelakaan? Berbeda nggak melihat orang meninggal dengan mengalami sendiri kematian? Ini hanya contoh ya… Begitu juga lingkungan. Berbeda pengaruhnya terhadap pikiran dan perasaan bila hanya sekadar melihat, membaca, atau menonton lingkungan tersebut dibandingkan dengan berada langsung pada lingkungan tersebut. Makanya Ali Syari'ati bilang bahwa "Sikap mental setiap orang terhadap alam tumbuh bersama-sama (dan berjalan selaras dengan) lingkungan praktis yang ada di sekitarnya". Sampai disini saya harap Andri sudah faham maksudnya.
@lucy fairy: Sama2, Lucy… eh, Andri
@bundadontworry: Sama2, Bunda. Moga hari esok lebih baik. Ya, Bunda… Selain hijrah dari Medan ke Tangerang, Bunda juga sudah hijrah kemana2 dan keliling dunia semasa menjadi pramugari dulu. Dan itu tentu sangat mencerahkan pikiran dan perasaan. Bukan begitu, Bunda?
@Dadang: Sama2, Pak Dadang. Semoga hari esok lebih baik. Amin…
@wempi: Hehehe…, bisa jadi begitu, Wem. Namun keduanya tetap punya pengaruh terhadap pola pikir, akal, dan wawasan. Ya to?
@dafiDRiau: Sama2, Fid. Amin…
@heru: Sama2, Mas Heru. Amin…
@Rita: Kalau memaknai hijrah dari kemusyrikan kepada ke-tauhid-an, dari kebohongan pada kejujuran, atau yang lainnya itu, jauh2 hari sebelum hijrah Islam itu juga sudah punya tujuan yang demikian. Namun, tujuan hijrah itu lebih besar dari itu. Tidak hanya kepada internal, tapi juga kepada eksternal. Tidak hanya kepada individu, tapi juga kepada lingkungan dan orang banyak. Ok, Rita. Insya Allah akan selalu dido'akan. Niatkan setiap hijrah itu hanya karena Allah, maka hijrah itu akan menjadi hijrah di jalan Allah. Ya to?
[Reply]
Jadi, harus hijrah secara fisik malalui berkelana ke daerah lain gitu ya Pak?
[Reply]
jadi, sudah memutuskan untuk hijrah ke WP mas ?
ngomporin truss…. hehehhehe
[Reply]
@Agus Siswoyo: Hehehe… Saya kira Mas Agus sudah dari tadi nangkap maksud saya.
@hpnugroho: Sabar, Mas Nug. Saya sedang siap-siap nih.
)
[Reply]
mantap artikelnya mas..
saatnya kita berhijrah ke kehidupan yg lebih baik
[Reply]
Jadi teringat saya ada istilah bahasa Sunda yaitu "titirah" dan bahasa entah bahasa jawa atau sudah diindonesiasnisasi yaitu "tetirah:. Saya tahu istilah ini karena seorang guru smp saya beberapa waktu lamanya pindah sementara ke kampung saya. Konon dalam mencari suasana baru setelah istrinya sakit berkepanjangan sambil introspeksi diri.
Mungkin ini salah satu pelaksanaan hijrah bagi seseorang (bukan kolektif) kali Mas dimana seseorang yang mau memperbaiki diri baik fisik maupun sikap berpindah dahulu sementara sehingga suasana baru memberinya sebuah inspirasi untuk melalukan hal-hal yang lebih baik.
Mohon koreksinya jika pemahaman saya keliru.
Trims
[Reply]
Hijroh yang kupahami memang seperti itu mas. Setubuh. Iki komeng sangka SMP (speedy) dadi lancar mas.
)
[Reply]
wakh aku pikir mau kemana mas…..kirain jauh buanget……hehehehe
meta tahun baru juga yah
[Reply]
WAH WAH Artikelnya menarik sekali… Aku betah nih hehehe. Alangkah kurangnya jika kunjungan pertama kali tanpa mem-follow… Aku sudah follow nih, kalo berkenan follow/komentar balik ya!
tapi kalo ngga juga gpp!
Salam Blogger
[Reply]
kita aja sampe 'hijrah' dari kota kelahiran ke kota lain yang memang kondusif untuk keluarga dan usaha kita..nice posting mas
[Reply]
Hmm.. Thx 4 sharing. Kata perantau juga, dengan merantau/hijrah, kita mendapatkan kemungkinan2 baru untuk kehidupan yang lebih baik
[Reply]
SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH!!!
Kunjungan pertama!! salam kenal ya mas!!
[Reply]
hijrah tidak hanya dapat diartikan secara geografis.secara implisit dapat juga berarti sebagai transformasi diri menjadi lebih baik…
nice post..
[Reply]
selamat tahun baru hijrah
saya dulu sering melakukan hijrah (baca:kutu loncat) dari 1 pekerjaan ke pekerjaan lain, dan akhirnya terdampar di tempat kerja sekarang
[Reply]
btw sy mendapatkan feed dari artikel ini yaitu dinamis, manusia hrs sellu dinamis dan tidak boleh statis
[Reply]
Ali Syari’ati itu siapa ya?
Saya belum menangkap maksudnya, benarkah yang disebut hijrah itu harus secara fisik? Soalnya setahu saya, selain hijrah fisik, ada hijrah spiritual (non fisik) juga.
[Reply]
Khery Sudeska reply on June 30th, 2010 5:11 pm:
Logikanya begini, Mbak Nisa. Kalau lah seorang manusia itu tak pernah berpindah tempat secara geografis, sudah barang tentu pola pikir dan wawasannya tak akan berkembang pula. Yang ia tahu hanya sekitar lingkungan tempat tinggalnya itu saja. Kalau sudah demikian, hijrah spritualnya tentu juga tidak terjadi. Oleh karena itu, makna hijrah tanpa perpindahan tempat itu saja tidak cukup. Hijrahnya manusia secara pengetahuan, wawasan, dan spritualnya (dalam bahasa Mbak Nisa itu) baru akan sempurna bila ia telah hijrah secara geografis…
[Reply]