Dulu, Pramoedya Ananta Toer, di suatu malam, menonton pertunjukan wayang di Pulau Buru. Hanya saja, ternyata Pram tak suka pertunjukan itu (demikian Goenawan Mohamad menggambarkannya dalam Catatan Pinggir). Sesuatu yang fiksi bagi Pram adalah sesuatu yang melenakan manusia dari realitas. Dalam sebuah buku, Pram mengejek pertunjukan itu sebagai sesuatu yang menghambat manusia menuju modernitas. Pram, amatlah memuja sesuatu yang bernama modernitas di atas segalanya.
Hari ini, sebenarnya, kita pun bisa balik mengejek Pram. Ketika kita bertemu dengan modernitas itu, ketika kita terjebak dalam blue print modernitas yang membatasi hubungan manusia dalam efektifitas dan efisiensi yang kaku, ketika modernitas terjebak dalam alat-alat, ketika modernitas mengacu kepada gaya hidup, ketika modernitas terjebak pada materi dan individualisme, ketika modernitas mengikis rasa kebersamaan, dan ketika modernitas yang salah kaprah itu membawa manusia pada kehidupan yang penuh dengan stress. Modernitas serupa itu, telah menciptakan kesadaran palsu.
Tujuan modernitas itu, akhirnya terjebak pada tujuan yang tak mengenal rasa puas dan tiada akhir. Yang berhasil terus berlari mengejar, mereka dikatakan pemenang, mereka dikatakan produktif. Yang terkalahkan stress dan putus asa, mereka pun dikatakan pecundang, mereka tak tertolong, karena dunia tercipta bukanlah untuk pecundang. Tak ada tolong-menolong. Sebab, defenisi hidup adalah persaingan. Persaingan yang semakin menebalkan rasa individualisme.
Kematianlah yang akhirnya menghentikan dan menghentakkan manusia pada sebuah kesadaran, bahwa ia telah terperangkap pada rutinitas hidup yang sia-sia. Kematianlah yang akhirnya menyadarkan manusia, bahwa ia telah melupakan yang pokok dan utama dalam kehidupan.
Banyak orang percaya, bahwa hidup adalah anugerah dari Tuhan, termasuk saya. Kalau sudah demikian, berarti hidup harus mampu dinikmati dan diresapi. Kenikmatan hidup baru akan terasa bila ada disiplin dalam persaudaraan, berkeja keras dalam kebersamaan, rasa cukup, perasaan yang positif, ketenangan jiwa, dan rasa syukur. Tak heran, untuk mencari kondisi serupa itu, kadang kita pergi ke sebuah kampung. Disanalah kita temukan adanya kesadaran waktu yang terus berjalan dan kesadaran akan fungsi kemanusiaan, bahwa hidup mengenal mati dan bahwa fungsi manusia adalah untuk menjadi kemaslahatan bagi sesama, bagi alam.
Yang demikian itulah modernitas yang sesungguhnya. Bukan alat-alat, bukan individualisme dan kesombongan, bukan gaya hidup, bukan pula ketergesaan mengejar sesuatu yang tak kunjung ada akhir, hingga kita lupa waktu dan lupa sesama.
Kini, sudah sepatutnya kita mulai sadar, bahwa hidup tak lah sesempit itu. Ciptakan arus balik (hijrah) melawan invidualisme dalam modernitas palsu itu. Buka ruang kembali untuk kebersamaan dan persaudaraan. Ciptakan kesadaran, bahwa hidup yang terbaik adalah memanfaatkan waktu hidup untuk berbuat yang terbaik dan menjadi berguna bagi banyak orang. Berjuang dan berkerja keras untuk membantu sesama. Sebab, hidup bukanlah individualisme.

setuju sekali mas sudeska, memasuki tahun baru 2010, marilah kita mempunyai semangat yang baru, dan selalu berusaha untuk menghadapi kehidupan ini, semoga di tahun yang akan datang tinggal beberapa jam lagi akan mendapat suasana yang baru juga
selamat menyambut tahun baru 2010
semoga bertambah sukses selalu
[Reply]