Silakan lihat dulu video berikut ini!![]()
Apa kesimpulan atau terjemahan anda dari jalan cerita di video tersebut? Tentu saja, masing-masing kita punya terjemahan yang berbeda. Tapi, karena ini tulisan saya, maka saya akan menerjemahkannya dalam versi saya. Hehehe…
Apa yang dilakukan ikan-ikan dalam film tersebut pada hakikatnya adalah arus balik. Arus balik yang melawan ketakberdayaan dan keterancaman hidup. Ketika sebuah arus tidak menguntungkan bagi kita, maka kita harus menciptakan arus balik melawan arus tersebut, seperti yang dilakukan ikan-ikan itu. Jika tidak, kita akan mati atau musnah.
Pertanyaannya kemudian, mungkinkah sebuah arus balik bisa menang melawan arus yang begitu kuat dan besar? Jawabannya, mungkin saja. Dengan prasyarat;
- Adanya kesadaran akan posisi dan situasi, bahwa arus yang menyeret kita tidak menguntungkan dan membahayakan. Kesadaran ini, adalah kesadaran bersama yang harus dibangun bersama pula.
- Adanya kemauan dan keyakinan, bahwa kita mampu menciptakan arus balik melawan arus tak menguntungkan tersebut.
- Adanya kekompakan dalam semangat kebersamaan dan persaudaraan.
Salah satu arus berbahaya yang terjadi hari ini adalah semangat individualisme. Individualisme yang – sadar atau tidak sadar – pelan-pelan mulai melunturkan semangat kebersamaan dan persaudaraan di negeri kita. Bahkan, Kang Yayat Sudrajat bilang, terhadap tetangga sebelah rumah dan satu RT saja kita sudah mulai tidak akrab. Padahal, nilai-nilai luhur agama dan budaya di negeri ini, sangatlah menganjurkan rasa kebersamaan dan persaudaraan.
Kita sudah mulai lupa dengan defenisi tolong-menolong, bantu-membantu, dan bahu-membahu. Tragisnya, istilah gotong-royong pun sudah mulai asing di telinga kita. Ketergerakan hati kita untuk menolong yang lemah pun mulai pudar. Sebab, kita terlanjur mendefenisikan hidup sebagai persaingan (yang salah kaprah dan membabi buta). Yang siap akan maju dan sukses, yang tak siap akan tergilas. Kita berjalan sendiri-sendiri, acuh tak acuh, masa bodoh dengan lingkungan sekitar.
Semangat individualisme yang salah inilah yang saya sorot dalam artikel saya sebelumnya tentang Individualisme Modernitas Palsu.
So, dapatkah kita memetik hikmah dan pelajaran dari cerita ikan-ikan yang terjaring itu? Arus individualisme ini, adalah arus yang semakin membesar dari hari ke hari, dan tentu saja berbahaya. Mari ciptakan arus balik melawan arus individualisme itu. Mari kita pupuk lagi semangat kebersamaan dan persaudaraan. Sebab, manusia yang paling baik adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi orang banyak.
Salam hangat penuh persaudaraan dari saya untuk semua…

(maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
Keknya berhubungan dengan postingan yang kemaring ya, Kang?.
Emang individualisme lagi meraja lela, harus kita kikis sedikit demi sedikit.
[Reply]