Refleksi dan Catatan-Catatan Kecil

Filed under Humanisme, Islam, Religius

Mengapa Para Nabi itu Manusia?

Seorang wanita datang menemui Ali,

“Bayiku tiba-tiba berjalan merangkak di atap dekat saluran pipa air, yang tidak bisa kujangkau. Dia tidak mau mendengarkan aku. Aku terus berbicara kepadanya, namun dia tidak memahami bahasaku.

Aku membuat gerakan bahasa tangan. Aku tunjukkan kepadanya susu-susuku, namun dia terus merangkak pergi. Apa yang harus kulakukan?

“Cari dan letakkan bayi lain yang seusia dengannya ke atas atap itu.”

Perempuan itu menuruti saran Ali tersebut. Ketika bayinya melihat teman bayi itu, bayi itu tiba-tiba dengan cepat merangkak pulang dari ujung atap.

Para nabi adalah manusia karena alasan ini. Agar kita bisa melihat mereka dan diliputi kegembiraan dalam kehadiran mereka yang hangat, dan merangkak pulang dari ujung atap.

NB: *Cerita ini adalah gubahan Jalaluddin Rumi yang saya ambil dari Masnawi.

**Ada kesibukan yang padat di kampus di penghujung semester ini; ada jadwal kuliah tambahan, mempersiapkan soal untuk para mahasiswa di ujian semester, sampai kepada hal-hal lainya yang bersangkutan dengan itu, membuat saya tak punya kesempatan untuk melakukan “up-date yang utuh”. Meski demikian, saya harap cerita ini bermanfaat.

34 Responses to “Mengapa Para Nabi itu Manusia?”

  1. alamendah says:

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Perumpamaan sederhana tetapi sangat tepat.

    [Reply]

  2. akubunda says:

    kunjungan siang bang……
    selamat bersibuk ria…:D

    [Reply]

  3. arkasala says:

    saya salut banyak sekali bahan yang menjadi bacaan Mas Khery ….
    Salam sukses Mas atas kesibukannya.

    [Reply]

  4. nakjaDimande says:

    Bagus sekali sudeska.
    para nabi adalah manusia agar kita bisa menirunya, tapi seringnya kita berkata "beliau kan Nabi, saya hanya manusia biasa" alasan yang klasik

    dan bila suatu hari dirimu ndak mau pulang, bundo akan kesana menjemputmu.

    [Reply]

  5. Berry Devanda says:

    mengena sekali…
    simple dan sederhana namun mengena…

    [Reply]

  6. arkum says:

    Simple tapi to the point ms, trims inspirasinya dari kisah Ali ini

    [Reply]

  7. Khery Sudeska says:

    @alamendah: Mudah2an bermanfaat, Mas Alam. Hehehe…

    @akubunda: Ok, nDa… :D

    @arkasala: Ah, Kang Yayat bacaannya juga banyak tuh. Hehehe…

    @nakjaDimande: Waakakakak…, Ok deh… kalo gitu aku merangkak ke atap ya, Mande? :D

    @Berry Devanda: Hehehe… Trims, Mas… :)

    @arkum: Hehehe… Ini update di kala waktunya terjepit, Mas…

    [Reply]

  8. IwanKus says:

    salut deh sama mas khery…
    waktu mepet masih sempet update artikel bagus…
    blog anda masuk blog favorit 2009 versi IwanKus.com lho…

    [Reply]

  9. fadly muin says:

    ringkas namun saya rasa kita bisa memetik pesan terselubung di balik artikel ini mas khery.

    btw. saya baru tau, kalau anda adalah dosen. ngajar mata kuliah apa mas?

    [Reply]

  10. belajar bisnis internet | hill says:

    kira2 semester skrg sy dpt nilai bagus ga pak dosen :D wkwkwk…selamat bersibuk2 ria kawan, ditunggu content2 terbaiknya di dunia blogosphere

    [Reply]

  11. alfarolamablawa says:

    setuju…
    nice perumpamaan..
    great!

    [Reply]

  12. syd says:

    Berkunjung mas :D

    [Reply]

  13. kw says:

    gitu ya, analogi yang keren

    [Reply]

  14. arsumba says:

    walah…. jadi sampean ini dosen to mas…
    makanya pengetahuannya luas banget…
    keknya saya perlu banyak belajar dari mas nih.. :D

    [Reply]

  15. Rafi says:

    Nice Posting. Salam Kenal yaa

    [Reply]

  16. heru says:

    nice post mas sudeska, selamat bersibuk ria, semoga sukses selalu

    [Reply]

  17. Joddie says:

    manteeeep… I luv this!! mereka menjadi serupa dengan kita.. agar bisa mengerti kita yg juga manusia biasa juga.. ^^

    [Reply]

  18. Muji Sasmito says:

    semua yang dishare pasti bermanfaat. apalagi itu tulisan.

    [Reply]

  19. genial says:

    wahh mafin saiia pa'a dosen (ternyata) klu ternyat pula sewaktu saiia bertandang ke sini dan menggunakan bahasa yang gag enak atau gmn… :(

    [Reply]

  20. Ongki says:

    keren! salut..
    perumpamaan yg cocok

    [Reply]

  21. sobatsehat says:

    walau sibuk masih sempat menulis ya bang.mantap

    [Reply]

  22. maria says:

    aku ketinggalan kereta nih ,salut sama pak dosen
    yang sibuk tapi masih ingat para penggemar-nya.

    [Reply]

  23. Wasyoko says:

    nabi itu manusia karena cuma makluk yang sempurna dan sama seperti orang yang ada disekitarnya,gitu aja repot.salam selalu.

    [Reply]

  24. wasyoko says:

    karena semua sama dengan kita.salam selalu

    [Reply]

  25. hanif says:

    Jika tidak manusia, maka akan lebih sulit lagi diikuti dan dipatuhi.

    [Reply]

  26. Action Figure Toy says:

    pertama sih agak bingung
    tapi setelah dibaca-baca, akhirnya ngerti juga
    inspiratif banget mas

    [Reply]

  27. iskandaria says:

    Hmm, saya agak kesulitan menangkap pesan di balik cerita singkat di atas. Nabi memang harus manusia agar ia bisa lebih mudah dalam menyampaikan dakwahnya kepada umat manusia. Kalo berupa malaikat kan bisa berabe? he he he :)

    [Reply]

  28. bundadontworry says:

    terlihat dari bahan bacaan yg dibaca Mas Sudes, pemilik blog ini benar2 orang yg mengagumkan.
    pantas saja tulisan di blog ini selalu bunda rindukan utk kembali dan kembali lagi.
    semoga selalu sehat dgn segala kegiatan yg demikian padat ya Mas Sudes.
    salam.

    [Reply]

  29. Sudeska.Net says:

    Semangat…

    Pada batasan yang bagaimanakah saya harus mendefenisikan kata semangat ini? Sudahlah, tak perlu diurai lebih jauh. Hadir atau hilangnya semangat dalam diri manusia, sudah cukup untuk memaknainya. Yang jelas, semangat ini tentu saja masalah rasa, bukan …

  30. imadewira says:

    salam kenal, sederhana namun sangat masuk akal :-)

    [Reply]

  31. [...] Andai kita membawa sebuah pelita di suatu pagi yang cerah, kemudian menyorot semua muka hanya untuk mencari manusia yang jujur, mungkin kita hanya mendapatkan bayangan yang tak jelas tentang manusia yang jujur. Dalam keterangbenderangan pun, kejujuran menjadi citra yang samar. Dan, ketika kejujuran dihentakkan dan dimintakan kepada kita, hanya sebuah kalimat enteng yang tersembur, “Ah, aku kan bukan seorang Nabi…” [...]

  32. [...] kira, maksud Rumi pada paragraf ini tidak terlalu sulit untuk [...]

  33. [...] ideologi dari cakrawala yang berada di atas cakrawala akal manusia. Yakni, dari cakrawala wahyu (prinsip kenabian). Kerja akal (dan termasuk juga ilmu pengetahuan) mengikuti skema [...]

  34. Very nice blog! Bookmarked :)

    [Reply]

Leave a Reply