Seorang wanita datang menemui Ali,
“Bayiku tiba-tiba berjalan merangkak di atap dekat saluran pipa air, yang tidak bisa kujangkau. Dia tidak mau mendengarkan aku. Aku terus berbicara kepadanya, namun dia tidak memahami bahasaku.
Aku membuat gerakan bahasa tangan. Aku tunjukkan kepadanya susu-susuku, namun dia terus merangkak pergi. Apa yang harus kulakukan?
“Cari dan letakkan bayi lain yang seusia dengannya ke atas atap itu.”
Perempuan itu menuruti saran Ali tersebut. Ketika bayinya melihat teman bayi itu, bayi itu tiba-tiba dengan cepat merangkak pulang dari ujung atap.
Para nabi adalah manusia karena alasan ini. Agar kita bisa melihat mereka dan diliputi kegembiraan dalam kehadiran mereka yang hangat, dan merangkak pulang dari ujung atap.
NB: *Cerita ini adalah gubahan Jalaluddin Rumi yang saya ambil dari Masnawi.
**Ada kesibukan yang padat di kampus di penghujung semester ini; ada jadwal kuliah tambahan, mempersiapkan soal untuk para mahasiswa di ujian semester, sampai kepada hal-hal lainya yang bersangkutan dengan itu, membuat saya tak punya kesempatan untuk melakukan “up-date yang utuh”. Meski demikian, saya harap cerita ini bermanfaat.

(maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
Perumpamaan sederhana tetapi sangat tepat.
[Reply]