Jawabannya TIDAK ADA!
Terserah pribadi masing-masing, mau menulis dengan gaya bahasan ringan atau dengan gaya bahasan berat sekalipun, tidak ada larangan dan tidak boleh dilarang. Itulah karakter menulis masing-masing pribadi. Biarkan ia berkembang secara alami. Termasuk juga, apakah kita ingin menulis tulisan yang panjang atau singkat, tidak ada larangan.
Yang penting, maksud kita menulis adalah untuk menyebar kebaikan kepada sesama. Sebab, salah satu tujuan blogging, adalah sarana untuk mengembangkan dan pencerdasan diri pribadi maupun orang lain melalui tulisan-tulisan yang ada di blog – secara “dipaksa” atau pun tidak – dalam memahami maksud sebuah tulisan di blog yang bersangkutan.
Yang perlu dihindari – atau yang tidak boleh – adalah menulis konten yang tidak sehat, seperti pornografi, menyudutkan SARA, dan yang sejenis itu. Itu saja!
Coba lihat tips yang diberikan oleh Bang Fatih Syuhud tentang Menulis di Blog. Sebagai blogger senior Indonesia (bahkan di tingkat dunia), saya yakin ia lebih tahu tentang hakikat blogging itu yang sebenarnya. Tapi, tak ada beliau memaksa orang untuk mengikuti satu karakter menulis saja.
Maka, saya heran, ketika ada beberapa blogger yang akhir-akhir ini “menyindir” para blogger yang menulis dengan gaya bahasan berat, lalu “mengajak” dan menyamaratakan semua orang untuk menulis dengan gaya bahasan ringan saja. Menulislah dengan sederhana, katanya.
Pada satu sisi, ajakan untuk menulis dengan sederhana itu, saya setuju. Tapi, ketika “memaksa” semua orang untuk sama, itu sudah merupakan pembunuhan karakter. Tak bisa begitu. Karena blog adalah sarana untuk sharing. Makanya blog punya karakter yang berbeda dari website konvensional. Blog punya halaman komentar, website konvensional tidak atau jarang sekali yang punya halaman komentar.
Lagian, masing-masing blog, sudah punya komunitas dan pembaca tersendiri. Artinya, masing-masing blog telah memenuhi wilayah kebutuhan pembacanya sendiri. Masing-masing blog itu, telah punya “target pasar” tersendiri.
Maka, kalau semua blog dipaksa untuk punya karakter yang sama, lalu dimanakah sisi perbedaan masing-masing blog itu? Kalau sudah demikian, maka blogging itu tidak lagi menjadi sarana pengembangan diri. Lebih baik berhenti saja ngeblog. Karena ngeblog akan menjadi kegiatan sia-sia yang membuang waktu saja, kalau sudah demikian keadaannya.
Biar lebih jelas, mari kita lihat contoh. Coba lihat tulisan di blognya Mas Dani Iswara ini. Dapatkah semua komunitas pembaca mencerna maksud dari tulisannya? Jawabannya TIDAK! Tapi, pada komunitas pembaca tertentu, gaya bahasan Mas Dani Iswara adalah sebuah kebutuhan yang tak terbantahkan. Bahkan, mungkin ditunggu-tunggu.
Kesimpulannya, kalau mau menjadi “guru para blogger” dan memberikan tips-tips blogging, bersikaplah bijak. Jangan bersikap status quo. Ambillah jalan tengah yang tidak membunuh karakter orang. Tutorial dan tips blogging dari Bang Fatih Syuhud, Kang Rohman, dan O-OM saya kira lebih bijak. Mereka mengambil “jalan tengah” yang tidak memaksa orang mengikuti karakter mereka. Sebab, mereka sadar, masing-masing individu itu punya karakter yang berbeda, termasuk dalam menulis.
Dan, bagi kita, mari berkembang dengan karakter menulis kita masing-masing. Jangan dipaksakan untuk membahas dengan “gaya berat” bila kita punya karakter menulis yang “ringan”. Begitu pula sebaliknya, jangan memaksa untuk menjadi “ringan” ketika kita punya karakter menulis dengan gaya “bahasan yang berat”. Itu tidak akan baik akibatnya. Lebih baik menjadi diri kita sendiri.
Anda boleh setuju dan boleh tidak dengan pendapat saya. Bagi yang tidak setuju, mari kita diskusikan lebih jauh.

Pertamax
[Reply]
Khery Sudeska reply on January 29th, 2010 8:21 pm:
Ok, lanjut, Mas…
[Reply]