Refleksi dan Catatan-Catatan Kecil

Filed under Blog, Blogger, Blogging

Adakah Aturan Gaya Menulis Dalam Ngeblog?

Jawabannya TIDAK ADA!

Terserah pribadi masing-masing, mau menulis dengan gaya bahasan ringan atau dengan gaya bahasan berat sekalipun, tidak ada larangan dan tidak boleh dilarang. Itulah karakter menulis masing-masing pribadi. Biarkan ia berkembang secara alami. Termasuk juga, apakah kita ingin menulis tulisan yang panjang atau singkat, tidak ada larangan.

Yang penting, maksud kita menulis adalah untuk menyebar kebaikan kepada sesama. Sebab, salah satu tujuan blogging, adalah sarana untuk mengembangkan dan pencerdasan diri pribadi maupun orang lain melalui tulisan-tulisan yang ada di blog – secara “dipaksa” atau pun tidak – dalam memahami maksud sebuah tulisan di blog yang bersangkutan.

Yang perlu dihindari – atau yang tidak boleh – adalah menulis konten yang tidak sehat, seperti pornografi, menyudutkan SARA, dan yang sejenis itu. Itu saja!

Coba lihat tips yang diberikan oleh Bang Fatih Syuhud tentang Menulis di Blog. Sebagai blogger senior Indonesia (bahkan di tingkat dunia), saya yakin ia lebih tahu tentang hakikat blogging itu yang sebenarnya. Tapi, tak ada beliau memaksa orang untuk mengikuti satu karakter menulis saja.

Maka, saya heran, ketika ada beberapa blogger yang akhir-akhir ini “menyindir” para blogger yang menulis dengan gaya bahasan berat, lalu “mengajak” dan menyamaratakan semua orang untuk menulis dengan gaya bahasan ringan saja. Menulislah dengan sederhana, katanya.

Pada satu sisi, ajakan untuk menulis dengan sederhana itu, saya setuju. Tapi, ketika “memaksa” semua orang untuk sama, itu sudah merupakan pembunuhan karakter. Tak bisa begitu. Karena blog adalah sarana untuk sharing. Makanya blog punya karakter yang berbeda dari website konvensional. Blog punya halaman komentar, website konvensional tidak atau jarang sekali yang punya halaman komentar.

Lagian, masing-masing blog, sudah punya komunitas dan pembaca tersendiri. Artinya, masing-masing blog telah memenuhi wilayah kebutuhan pembacanya sendiri. Masing-masing blog itu, telah punya “target pasar” tersendiri.

Maka, kalau semua blog dipaksa untuk punya karakter yang sama, lalu dimanakah sisi perbedaan masing-masing blog itu? Kalau sudah demikian, maka blogging itu tidak lagi menjadi sarana pengembangan diri. Lebih baik berhenti saja ngeblog. Karena ngeblog akan menjadi kegiatan sia-sia yang membuang waktu saja, kalau sudah demikian keadaannya.

Biar lebih jelas, mari kita lihat contoh. Coba lihat tulisan di blognya Mas Dani Iswara ini. Dapatkah semua komunitas pembaca mencerna maksud dari tulisannya? Jawabannya TIDAK! Tapi, pada komunitas pembaca tertentu, gaya bahasan Mas Dani Iswara adalah sebuah kebutuhan yang tak terbantahkan. Bahkan, mungkin ditunggu-tunggu.

Kesimpulannya, kalau mau menjadi “guru para blogger” dan memberikan tips-tips blogging, bersikaplah bijak. Jangan bersikap status quo. Ambillah jalan tengah yang tidak membunuh karakter orang. Tutorial dan tips blogging dari Bang Fatih Syuhud, Kang Rohman, dan O-OM saya kira lebih bijak. Mereka mengambil “jalan tengah” yang tidak memaksa orang mengikuti karakter mereka. Sebab, mereka sadar, masing-masing individu itu punya karakter yang berbeda, termasuk dalam menulis.

Dan, bagi kita, mari berkembang dengan karakter menulis kita masing-masing. Jangan dipaksakan untuk membahas dengan “gaya berat” bila kita punya karakter menulis yang “ringan”. Begitu pula sebaliknya, jangan memaksa untuk menjadi “ringan” ketika kita punya karakter menulis dengan gaya “bahasan yang berat”. Itu tidak akan baik akibatnya. Lebih baik menjadi diri kita sendiri.

Anda boleh setuju dan boleh tidak dengan pendapat saya. Bagi yang tidak setuju, mari kita diskusikan lebih jauh.

96 Responses to “Adakah Aturan Gaya Menulis Dalam Ngeblog?”

  1. arkum says:

    Pertamax

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 29th, 2010 8:21 pm:

    Ok, lanjut, Mas… :)

    [Reply]

  2. arkum says:

    Ini toh wajah baru Sudeska.Net. Selamat ms, sy bbrp kali main kesini kok ternyata msh sama postingan, ternyata baru kaget skrg sudah muncul dan eh malah saya yg terlambat tahu klo blog ini sdh aktif.

    Untuk teknik ngeblog mmg macem2 ms, yg penting siblogger itu menikmati dan mampu menghasilkan karya tulis yg berkualitas ya Oke2 sj.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 12:05 am:

    Saya setuju, Mas. Seperti gaya tulisan2nya Mas Aries. Sangat inspiratif dan sangat memacu semangat. Khas gayanya Mas Aries Kusuma. Tak mudah ditiru orang… :)

    [Reply]

    arkum reply on February 2nd, 2010 10:04 pm:

    Ah nggak lah ms, sy justru malah belajar sama yg senior2 kayak ms sudeska ini.

    [Reply]

  3. nakjaDimande says:

    Berat atau ringan itu relatif, sudes.. bagi org tertentu tulisan bundo mungkin cetek bener, bagi sebagian kecil katanya aneh susah dipahami, kata dirimu lain lagi ;-) jadi yang penting itu menulislah,, bermanfaat untuk diri sendiri dan mungkin org lain. Nurani masing2 pasti taulah mana postingan yg di luar norma, yang kaya’ begitu biasanya mengalami seleksi alam kok. Semangat ya sudes! kita sama-sama belajar.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 12:44 am:

    Aku tahu, dari dulu, dan sangat yakin sekali. Soal ini, Mande paling bijak. Dengan rendah hati, kita semua dalam proses belajar dan berkembang, dengan gaya khasnya kita sendiri. Tak bisa dipaksakan sama… :)

    Dan, dengan tulisan ini, aku tak bermaksud “mengajar” sesiapa, Mande. Aku juga tak punya kapasitas untuk “mengajarkan” orang soal ngeblog ini. Aku hanya “membantah” mereka yang berpendapat seperti yang telah aku terangkan di atas… :)

    [Reply]

  4. arsumba says:

    siip akhirnya mas khery aktif lagi… saya setuju dengan statement mas khery diatas, setiap orang mempunyai karakter yang berbeda2.. oleh karenanya akan memunculkan karya yang berbeda pula. jika dipaksa untuk sama kayaknya ngeblog bukan sesuatu yang unik lagi.. karena setiap orang mempunyai keunikan sendiri2, dan keunikan akan menjadi ciri khas setiap bloger…
    masalah berat ringan saya justru seneng membaca artikel dengan bahasa yang beratmeski terkadang saya bingung dan kurang paham. karena saya menganggap sebagai sarana latihan otak biar agak mikir.. hehe..
    jadi diri sendiri lebih nikmat dan enjoy… kalau dipaksa jadi orang lain, jadinya malah tersiksa dan putus asa..
    xixixi..
    ringan, berat, no problem… yang penting enjoy…

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 12:48 am:

    Sampean udah nambahin pendapat saya, Crit. Saya gak perlu ngomeng lagi… :D

    [Reply]

  5. Wandi thok says:

    Bahasa ngeblog itu kalawo mau ngikutin perintahnya tukang SEO mestinya sesuwai dengan EYD ya mas, tapi keliatan wagunya. Mendingan nyang mudah dan enak dibaca orang lain, bagi saya cukuplah.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 12:24 am:

    Ya, masing-masing kita punya cara dan gaya yang berbeda2 dalam menulis itu. Bukan begitu, Ustadz? Kita gak boleh “mencak2″ apa lagi ngatur2 gaya orang lain menulis. Mari kita belajar mengembangkan karakter dan potensi positif kita masing2. Ustadz dengan gaya Ustadz yang unik itu, saya dengan gayanya saya. Jangan maksa biar sama atau hampir sama gaya antara kita berdua. Bukan begitu, Ustadz? :lol:

    [Reply]

  6. Maaf mas, saya pendatang baru nih, jadi nggak ngerti soal aturan gaya menulis dalam ngeblog, yang penting bagiku adalah menulis yang mudah dipahami orang aja, meski banyak ngopinya. Oh iya, salam kenal ya mas? (Eny-Semarang)

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 12:30 am:

    Halo, Mbak Eny… :)

    Semua kita pada awalnya pendatang baru, Mbak. Tak ada bedanya, sama saja. Soal aturan apalagi gaya menulis itu tidak ada aturan bakunya harus bagaimana. Silakan berkembang dengan gaya pribadi masing-masing. Asal konten yang kita tulis itu baik dan bermanfaat bagi kita dan (mungkin juga) buat orang lain. Happy Blogging!

    Salam kenal kembali buat Mbak Eny… :)

    [Reply]

  7. kalau blue menulis d blog yang penting jujur saja sama perasaan sendiri…….jika sedih ungkap dalam sedih jika senang luang dalam blog…….hehehe
    salam hangat dari blue

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 12:32 am:

    Demikianlah, Blue :)
    Salam hangat juga buat Blue…

    [Reply]

  8. Mariska Ayu says:

    Setahu Mariska, kata nabi ya kak, “berbicaralah dengan manusia sesuai dengan tingkatan mereka”, betul nggak kak?

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 12:35 am:

    Betul, Mariska. “Berbicaralah dalam bahasa kaummu…” Komunitas dan pembaca masing2 blog itu berbeda2. Kalau boleh diibaratkan, itulah “kaum” dari blog itu… :)

    [Reply]

  9. Betul sekali mas apa yang telah anda tulis,semua memang tidak bisa di paksakan justru karena adanya perbedaan akan menjadikan sebuah rahmah
    saling mengerti dan mengkaji satu sama lain dengan tanpa membesar-besarkan perbedaan

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 12:37 am:

    Saya setuju sekali, Mas Rizdan. :)

    [Reply]

  10. Guru Go!Blog says:

    Wah, kalawo blogke sampean dari dulu mudah dikomeng bejini, pastinya aku balik-bolak dolan ke sini mas. Sukron ya mas sudah mempermudah aku untuk dolan, kalawo berkenan, mari kita tukaran (link) mas. Insya alloh aku akan segera mendindaklanjuti permintaan teman-teman untuk masang link kok. :lol:

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 12:39 am:

    Saya sudah lama nempelin link-nya Ustadz disini. Ustadz aja nyang belum nempelin link saya… :lol:

    [Reply]

  11. pasutrisatu says:

    memang terserah orang mo nulis apa saja, lha wong blog2nya sendiri, komunitas pasti akan terbentuk sendiri..sip mas

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 12:41 am:

    Ya, asal kontennya baik. Bukan begitu, Mas? :)

    [Reply]

  12. met menikmati akhir pekannya y,sahabat
    salam hangat dari blue

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 1:26 am:

    Halo, Blue…
    Selamat menikmati akhir pekan juga buat Blue. Moga sehat selalu dan tetap semangat… :)

    [Reply]

  13. arkasala says:

    saya setuju Mas, masing-masing punya gaya. Biarkan kami menulis dengan gaya masing-masing. Mungkin kalo menulis pengen pake aturan ya jadi penulis koran saja atau menulis yang ada aturan :)
    Terima kasih Mas.
    Inspiratif :)

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 4:44 pm:

    Hehehe… Kakang pasti lebih faham soal tulis menulis ini. Trims sekali, Kang. Udah nambahin pendapat saya… :)

    [Reply]

  14. selama artikel itu berguna buat semua dan tidak menyesatkan.. gaya penulisan kita sendiri bisa membuat branding yang lekat buat pembaca

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 4:43 pm:

    Betul sekali, Mas. Saya setuju! :)

    [Reply]

    Arief Rizky Ramadhan reply on January 31st, 2010 6:08 am:

    hehehe.. kreatifitas adalah hal yang kita tentukan sendiri kalo kreatifitas orang lain berarti namanya copas…. orang begitu pantas dilemparin bata bertubi-tubi wkwkwkwk

    [Reply]

  15. SAYA SETUJU SEKALI MAS SUDESKA….
    setiap orang punya gaya dan latar belakang penulisan berbeda-beda…
    justru itu harus dipertahankan agar khazanah blog indonesia makin kaya dan beragam..
    menulis dengan gaya sendiri dan tidak memaksakan kehendak pada orang lain akan lebih menjadikan kita terhormat…
    salut…
    nice post…

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 4:40 pm:

    Setuju, Mas. Trims sekali sudah menambahkan pendapat saya… :)

    [Reply]

  16. Pen Lab says:

    ijin ngenalin blog baru mas…

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 4:39 pm:

    Siapa neh? Mas Berry ya? :D
    Ok, nanti saya ke sana…

    [Reply]

  17. artikel mas, menyelematkan saya dari ” harus menyamaratakn menulis haruslah sederhana “…. saya katanya kadang-kadang bahasanya kayak terjemahan luar negeri…nuter-muter…

    ya tapi itulah saya mas… kebiasaan dan sukanya memang baca yang luar negeri, jadi terbentuklah seperti itu… saya setuju banget dengan artikel ini mas… !

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 4:38 pm:

    Kita kan sedang sama2 belajar dan berkembang, Mas. Dalam proses itu kita menemukan jati diri kita. Insya Allah! Trims, Mas Khalid… :)

    [Reply]

  18. selama yang membaca merasakan manfaat dr sebuah tulisan, itu lebih baik, daripada hanya sekedar copas ,krn pemilik blog jadi tdk bisa mengembangkan dirinya sendiri.
    tulisan bundapun kadang ada yg bilang menarik, ada juga yg bilang aneh, gak apa apa , semua orang punya ciri khas sendiri2.
    untuk itulah Allah swt menciptakan semua berbeda, hanya utk sebuah keindahan.
    maaf kepanjangan ya Mas Sudes , bunda komennya.
    salam hangat utk keluarga.
    salam.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 4:36 pm:

    Tidak apa2, Bunda. Lebih panjang dan lebih jelas tentu lebih baik. Itulah gunanya halaman komentar. Bukan begitu, Bunda?

    Saya setuju sekali, Bunda. Dan, saya berterimakasih sekali Bunda telah menembahkan pendapat saya… :)

    [Reply]

  19. Ruang Hati says:

    Penghujung bulan sudah datang, ada yg suka karena baru gajian, ada yang seding karena target tidak terpenuhi, apapun yang terjadi ruanghati.com ucapkan selamat berakhir pekan dan berakhir bulan, selamat ngeblog, yang barusan gajian bisa dihemat sampai akhir bulan berikutnya,

    salam hangat san sukses selalu

    semoga hidup Anda penuh dengan Cinta, Kesehatan, kebahagiaan dan Kedamaian selalu

    ruanghati.com

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 4:33 pm:

    Amiiin… Salam hangat selalu buat RuangHati.Com :)

    [Reply]

  20. Nda says:

    kalo kita sama apa indahnya??? kan jadinya monoton, ga berwarna …gt kan bang..:D

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 4:32 pm:

    nDa, kok tahu? :D

    [Reply]

  21. Yah, ngeblog itu seperti diary kan mas. Berat atau ringan itu tergantung sipenulis tentunya. Namanya juga diary, ada serius dan ada juga canda bahkan sedih.tetep semangat mas..

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 10:41 pm:

    Setuju sekali, Mbak. Trims atas tambahan pendapatnya… :)

    Btw, setiap Mbak Yanti komen disini kok selalu masuk spam ya. Udah dua kali kejadiannya begitu. Ini komennya baru saya bebaskan tadi. :)

    [Reply]

  22. hpnugroho says:

    tidak ada bahasa baku yang harus digunakan dalam menulis artikel, sepengetahuan sy, menggunakan bahasa yg sederhana dan mudah dimengerti memang bagus tetapi adakalanya kita juga harus tahu siapa sasaran pembaca kita, ..
    jika tujuan pembaca adalah komunitas sastra, masa sih dikasih syair dengan bahasa tutorial yg baku dan menggunakan bahasa teknik ?

    bagaimana dengan tata bahasa yg sy gunakan ?

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 10:37 pm:

    Pertama, saya ucapkan trims dulu atas tambahan pendapat Mas Nug dan menguatkan pendapat saya. :)

    Kedua, sebelum menjawab pertanyaan Mas Nug, saya tegaskan dulu posisi saya dalam tulisan ini, hehehe… Tulisan ini tidak bermaksud “mengajarkan”, karena saya tak punya kapasitas untuk menjadi “guru para blogger”. Tulisan ini justru “membantah” pendapat mereka seperti yang telah saya sampaikan di atas.

    Nah, kalau soal tata bahasa yang Mas Nug gunakan saya tak mau menilai Mas. Sebab, kalau masalah itu saya kira relatif. Penilaian masing2 orang tentu berbeda. Saya pribadi sejauh ini “sangat enjoy” dengan tulisan2 Mas Nug dan saya kan termasuk dalam Komunitas Blognya HPNUGROHO.COM, hehehe… Tapi, entah orang lain. Kalau sekiranya ada yang tak dimengerti kan bisa ditanyakan di halaman komentar, begitu juga bila ada sanggahan atau tambahan pendapat…

    [Reply]

  23. nuansa pena says:

    Trims masukannya sangat bermanfaat bagi new post saya!

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 10:43 pm:

    Sama2, Mas. Ini bukan masukan sebenarnya. Tulisan ini justru sebuah “bantahan”… :)

    [Reply]

  24. maria says:

    absen saya baru malam ini salam hangat dari menteng dalam.
    no comment.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on January 30th, 2010 11:20 pm:

    No problem, Bu…
    Berpendapat atau tidak berpendapat itu hak. Harus sama2 dihormati… :)

    [Reply]

  25. hendro says:

    yang penting semuanya berjalan lancar

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 1st, 2010 3:51 pm:

    Maksudnya? :)

    [Reply]

  26. sauskecap says:

    wah ga ada donk, gaya tulisan bener-bener tergantung kepribadian dan mood… justru itu yang menjadikan blog unik

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 1st, 2010 3:55 pm:

    Saya setuju, Mbak… :)

    [Reply]

  27. lambang says:

    Wah, lebih baik terserah pengguna dah!

    [Reply]

  28. wah mengejutkan… udah pake wp neh

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 1st, 2010 11:40 pm:

    Weleh! Masa terkejut sih? Kan udah pernah saya bilang dari dulu sama Mas Candra… :D

    [Reply]

  29. kalo soal aturan saya rasa memang tidak ada mas.
    orang suka membaca dan menikmatinya atau tidak itu tergantung individunya.
    sependapat dengan tulisan anda mas
    dan kalo dipaksa mempunyai karakter yang sama kita jadi nggak sharing donk.
    yang saya tau soal mas khery adalah…
    ya mas khery, mau jadi siapa lagi hehehe…

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 3rd, 2010 2:07 am:

    Weekekekeke… Saya yakin, Mas Candra pasti lebih tahu tentang menulis di blog ini. Trims sekali sudah menambahkan pendapat saya, Mas… :)

    [Reply]

  30. how to ollie says:

    Good post… I’m always on the lookout for good blogs.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 3rd, 2010 2:08 am:

    Thanks for your attention, Friend… :)

    [Reply]

  31. fadly muin says:

    saya teringat judul buku Anthony Gidden.. “Menacri jalan tengah”

    anda merangkumnya dalam konteks blogging dan menulis. inspiratif sekali mas khery..

    saya pernah menuai kritik atau masukan, yang pada intinya mengatakan tulisan saya “masuk kategori berat” hmm.. buat saya ini tetap merupakan tantangan, untuk menjangkau pembaca yang tertarik dengan tulisan kita namun kesulitan mencerna..

    saya rasa hal ini masih merupakan tantangan tersendiri mas khery, untuk mengedukasi pembaca agar mau membaca yang “menurut mereka berat” itu.

    jadi solusinya, adalah modifikasi artikel.. “kadang berat kadang ringan”

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 1st, 2010 11:30 pm:

    Saya terbuka untuk hal itu, Pak Fadly. Saya kira, itu ajakan yang mulia. Hanya saja, kadang kita tak bisa “lepas” dari “sejauh itulah” pandainya kita menulis. Seperti tulisan saya, mungkin bagi sebagian orang terasa “berat” atau malah terkesan “sok akademis”, bagi sebagian orang lagi mungkin dianggap “entah apa”. Tapi, demikianlah cuma kemampuan saya. Dan, saya juga memandang demikian terhadap orang lain. Karena itu sebuah hasil karya atas jerih payah sendiri dan diiringi oleh niat baik, saya sangat menghargainya. Apapun bentuknya.

    Lalu, bagaimanakah peluang untuk berubah? Sekali lagi, saya terbuka untuk itu. Dan itulah yang saya maksudkan “berkembang dengan karakter (gaya khas) masing-masing”. Saya yakin, kita sefaham, bahwa manusia makhluk yang dinamis dan selalu mencoba untuk mencari yang terbaik.

    Kalau soal “mudah atau tidaknya” untuk dicerna, masih akan tetap pada wilayah yang sulit untuk dicari keseragaman pengertiannya. Al-Qur’an saja yang jelas2 sebagai “petunjuk yang nyata”, beragam-ragam hasil penafsirannya oleh para ulama. Dan, apakah dari perbedaan itu datang yang namanya “rahmat”. Semoga saja. Saya juga tak berani menyimpulkan hal itu. Sebab, untuk kasus “perbedaan itu merupakan rahmat” saja, masih terdapat beda pendapat. Wallahua’lam… :)

    [Reply]

  32. kalo dah bingung mau nulis apa parah deh…

    [Reply]

  33. iskandaria says:

    Maka, saya heran, ketika ada beberapa blogger yang akhir-akhir ini “menyindir” para blogger yang menulis dengan gaya bahasan berat, lalu “mengajak” dan menyamaratakan semua orang untuk menulis dengan gaya bahasan ringan saja. Menulislah dengan sederhana, katanya.

    Wah, pernyataan itu mungkin salah satunya ditujukan kepada saya ya mas :) Maklum, saya memang pernah menulis masukan atau tips blogging yang intinya agar sang penulis bisa lebih membumi lagi dalam mengemas bahasa tulisannya.

    Saya kira bukan bermaksud menyamaratakan atau malah dinilai “membunuh karakter”. Itu jauh sekali dari konteks dan niat saya ketika menulis artikel tersebut.

    Daripada debat kusir, mengapa kita tidak renungkan seandainya tulisan yang sudah kita tulis dengan susah payah akhirnya kurang dimengerti oleh sebagian besar pembaca. Pesan yang hendak kita sampaikan pada tulisan tersebut pun akhirnya menjadi minim manfaatnya.

    Memang, mungkin masih ada segelintir pembaca yang “benar-benar mengerti” alur pikir dan makna tulisan kita. Okelah kalau begitu.

    Tapi apa tidak lebih baik lagi kita berusaha merangkul lebih banyak segmen pembaca? Kalau cuma berkilah dengan pernyataan bahwa “masing-masing blog, sudah punya komunitas dan pembaca tersendiri. Artinya, masing-masing blog telah memenuhi wilayah kebutuhan pembacanya sendiri. Masing-masing blog itu, telah punya “target pasar” tersendiri., saya rasa itu sikap yang kurang mendukung perkembangan menulis kita.

    Solusinya menurut saya, ambil jalan tengah saja. Tidak perlu bersikukuh mempertahankan gaya bahasa berat atau terlalu akademis dari kebiasaan kita. Tidak perlu pula langsung secara drastis mengubah gaya bahasa menjadi sangat sederhana dan ringan.

    Menjadi diri sendiri pun tidak selalu berarti harus “egois” dengan mempertahankan kebiasaan menulis selama ini. Kalau demi memaksimalkan nilai manfaat tulisan-tulisan kita, kenapa tidak berusaha agar pembaca lebih mudah memahami?

    Soal dinilai “memaksakan penyamarataan” gaya menulis, saya juga kurang setuju. Tidak ada sama sekali niat untuk memaksa agar semua blogger punya karakter menulis yang sama.

    Yang saya sedikit “paksa” adalah agar lebih membumi dan lebih konkret dalam menyampaikan gagasan. Semuanya agar pembaca bisa lebih cepat dan lebih mudah mengaplikasikan inspirasi yang mereka peroleh dari tulisan tersebut di kehidupan sehari-hari.

    Ujung-ujungnya, kita juga yang senang jika banyak pembaca bisa menuai manfaat maksimal dari apa yang kita tulis itu.

    Senang sekali berdiskusi masalah ini Mas. Makasih buat masukannya pada postingan di atas.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 1st, 2010 3:46 pm:

    Mudah atau tidaknya sebuah tulisan untuk difahami itu juga relatif, Mas. Ukuran “mudah dan tidak mudahnya” sebuah tulisan itu untuk difahami saya kira sangat subjektif sekali.

    Coba saja, orang yang terbiasa menggemari tulisan dalam bentuk ilmiah, baginya mungkin sebuah puisi tak mudah difahami. Jadi, maksud anda untuk membawa orang lain pada wilayah “agar sebuah tulisan mudah dicerna” atau “membumi” itu juga sebuah wilayah yang tetap atau masih “abu-abu”. Tak pernah akan kunjung bersua titik pertemuannya. Tak ada tolok ukurnya yang bisa dipakai secara umum.

    Bagi saya pribadi, saya sangat menghargai hasil karya orang lain yang dihasilkan dalam jerih payah sendiri. Apapun bentuknya. “Ringan” atau pun “berat” dalam persfektif saya. “Mudah” ataupun “tidak mudah” hasil karya itu untuk saya fahami, bagi saya itu sudah merupakan perwujudannya untuk mengejawantahkan potensi pribadinya. Saya sangat menghargainya.

    Kalau sekiranya ada yang tak mampu dicerna atau mungkin pendapat yang berbeda, dalam blogging, semua bisa didiskusikan di halaman komentar. Untuk sebuah diskusi yang interaktif inilah, saya kira, blog itu didesain mempunyai halaman komentar. Seperti yang kita lakukan saat ini… :)

    [Reply]

    dani reply on February 9th, 2010 5:26 pm:

    Saya coba mengomentari.
    Mengenai kemudahan baca dan kemudahan dimengerti, ada alat ukurnya. Ada tes untuk mengujinya. Misalnya readability test dengan tes Flesch, Flesch-Kincaid, dan Gunning-Fog index. Kalimat aktif, pendek, jelas S-P-O-K-nya, jumlah kata dalam kalimat, jumlah suku kata dalam tiap kata, jumlah istilah tidak umum yang dipakai, dll., memengaruhi (huruf p-nya luluh ngga ya?) readability. cmiiw. :)

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 11th, 2010 12:54 pm:

    Bagaimana dengan puisi? Dan, bagaimana pula dengan beberapa blog yang tak menggunakan bahasa yang baku (tidak sesuai EYD). Lagian, ini bukan soal tata kata dan kalimat. Ini soal gaya bahasa yang dikategorikan pada dua kriteria; “melangit” dan “membumi”… :D

    dani reply on February 15th, 2010 10:14 pm:

    Saya tidak tahu jika ada notifikasi balasan di sini. :)
    Yang tes readability sepertinya hanya “membumi” hingga level sekolah dasar. cmiiw. Entah jika ada ukuran readability versi seni.

  34. ALRIS says:

    Bagi saya saat ini ngeblog baru sebagai narsis dan hobi. Kalo ada aturannya, bbaru tahu saya. Salam

    [Reply]

  35. Agus Siswoyo says:

    Asal gagasan dapat tersampaikan ke pembaca, sudah cukup. Tidak perlu aturan baku seperti dalam Sastra.

    [Reply]

  36. julie says:

    berat atau ringan itu tak terlalu penting karena individu yang menulis kan beda2 penilaiannya
    keep blogging ajahhh

    aku ada event nih bro ikutan yaa
    http://idana.blogdetik.com/2010/01/31/berbagi-cinta/

    [Reply]

  37. cah ndeso says:

    hadooohh…. klo nulis dalam Blog ada aturannya susah dong Mas. Soale, saya sendiri masih “kamisosolen” dengan bahasa2 baku. Jadi ya terpaksa dah, pakai bahasa “gado-gado” klo nulis. :D

    [Reply]

  38. [...] Learn how to ollie like a professional [...]

    [Reply]

  39. how to ollie says:

    how to ollie…

    [...] Learn how to ollie like a professional [...]…

  40. Ardy Pratama says:

    setiap blogger punya karakter,gaya bhasa, dan gaya penulisan masing2… jadi gak bisa kita memaksa orang lain untk ngikutin gaya kpnulisan org lain atau dtntukan gaya mnulisnya…

    setiap blog punya topik dan pembaca setia.. kita harus saling mngrmati antar blogger. Walaupun misal kita mampir di blog yg tema dan tulisannya gak ngerti, kita tetap harus mnghrmati dan mengapresiasi tulisan blogger tersebut… :)

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 2nd, 2010 9:04 pm:

    Sepertinya, anda yang paling menemukan “jalan tengah” dalam hal ini, Mas. Kalau kita mengakui dan meyakini bahwa manusia adalah makhluk yang beragam, kita pasti menghargai perbedaan. Pada tahap inilah terjadi yang namanya “kesamaan pandangan”. Saya sangat setuju sekali… :)

    [Reply]

  41. mandor tempe says:

    iya bener mas, sering kali postingan saya membuat pusing para pembaca saya tetapi saya tidak putus asa. tetep nulis dengan cara saya sendiri. Kalau saya disuruh nulis yang ringan-ringan saja bisa jadi saya berhenti nulis karena tidak ada bahan, lagipula imu saya juga tidak bermanfaat kalau tidak disebarkan

    [Reply]

  42. Aldy says:

    Sepaham Mas,
    Blog tidak harus terikat dengan ketentuan tertentu. Tetapi satu sisi lainya saya masih mencoba untuk tetap memegang asas aksesibility dan usability.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 2nd, 2010 11:49 pm:

    Saya yakin, Pak Aldy. Kita semua yang berniat serius dalam blogging berusaha menuju arah itu. Trims sekali, Pak Aldy… :)

    [Reply]

  43. sangsaka says:

    ini nih baru mantep… ini baru benang merahnya…
    lebih baik menjadi diri sendiri setujuuuuuuuu

    [Reply]

  44. IwanKus says:

    beberapa waktu lalu saya juga pernah posting yang mirip topiknya…
    judulnya ‘menulis dengan gaya kita sendiri’…

    saya sendiri juga masih dalam proses mencari…
    jujur saja saya suka menulis dan membaca yang ringan2 dan simple, tapi juga tidak menolak untuk memelototi posting super panjang dan berat…
    apalagi jika saya sedang berminat dengan sesuatu hal…

    kayaknya ngefans banget sama rossi ya mas…

    [Reply]

  45. phone says:

    G ada aturan sih mas,,,,tp kalau menurut ane kalau ngeblog tu yang dapat memberikan informasi yang bermanfaat. kan lmayan dapet pahala,,,katanya ilmu termasuk amal yang tak terputus,,bener ga???

    [Reply]

  46. Kalau untuk aturan saya rasa nggak ada karena kita sendirilah yang akan membuat gaya penulisan untuk blog yang kita bangun.

    [Reply]

  47. dani says:

    Maaf, saya ketinggalan. Maklum, bukan pengamat statistik dan pingback blog. :)

    Jika pertanyaannya “Adakah aturan gaya menulis dalam ngeblog?” Tentu saja jawabannya ada. Penjelasan asal ceplosnya: setidaknya susunan bahasa kan mengikuti aturan bahasa tertentu (termasuk “bahasa alay” sekalipun). :)

    Misalnya untuk media massa daring (dalam jaringan). Ada seninya–jika tidak mau disebut aturan–terkait etika, topik, alur, orisinalitas, ejaan, dll. Untuk blog pribadi pun semestinya ada etika (minimal kejujuran dan menghargai orang lain) seperti hubungan sosial di dunia nyata.

    Tapi saya setuju, bahwa kebebasan bertanggung jawab itu harus dijunjung tinggi. Konsorsium WWW (W3C) pun melalui rekomendasi panduan aksesibilitas Web (WCAG 2.0), hanya berupa panduan/best practice defacto. Tapi, bisa menjadi dejure/hukum di beberapa negara yang memiliki hukum terkait dalam hak asasi persamaan hak memperoleh informasi dan layanan publik. Sehingga aksesibilitas Web pun menjadi penting. Saya komentar senada ini juga di tulisannya Mas Agus Siswoyo di blognya Mas Fadly Muin baru-baru ini. :)

    Aturan ada. Hanya saja, keputusan untuk ikut/tidak aturan yang disarankan pengguna lain kan kembali ke tiap individu yang memang unik sesuai karakternya masing-masing.

    Saya pernah menulis tanggapan saya tentang topik sejenis ini yang ditulis narablog lain. Kata kuncinya “kesalahan menulis blog”. :)

    Mengenai tulisan panjang-pendek dan bahasa sederhana-rumit, memang ada best practice-nya terkait kebergunaan/usability (dalam hal ini readability dan scanability).

    Kritik dan saran silakan, tapi, saya sendiri masih akan egois menulis sesuka saya. Maaf! He he he..

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 11th, 2010 12:59 pm:

    Saya kan justru menyerukan “kemerdekaan” dalam hal ini. Ya, itu tadi. “Kemerdekaan yang bertanggung jawab”. Mungkin kita sama, “masih akan egois menulis dengan gaya saya sendiri”… :)

    [Reply]

    dani reply on June 22nd, 2010 5:04 pm:

    Sekadar pemberitahuan. Pingback baru saya terima. Entah kenapa kok lama. :)

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 22nd, 2010 5:35 pm:

    Ok, Bli…
    Saya juga gak tahu kok bisa lama begitu. Memang, dulu pingbacknya saya kirim secara manual, waktu itu belum saya setting pingback otomatis. Kebetulan tadi saya juga sedang edit artikel ini. Mungkin bersamaan itu terkirimnya… :)

    Thanks atas pemberitahuannya, Bli…

  48. Rita says:

    Kalau menurut hemat saya: setiap pribadi memiliki gaya nya sendiri dalam menulis (even dalam segala hal pada setiap lini kehidupan), jadi berkembanglah dengan gaya mu. Karena dengan begitu akan jauh lebih mudah bagi kita untuk mengekspresikan apa yang ada di dalam fikiran kita. Yang terpenting tuliskanlah kebenaran itu dengan cara yang benar, maka InsyaALLAH akan beroleh manfaat…

    [Reply]

  49. Wempi says:

    rule itu perlu walaupun tidak wajib ada… hehe.

    yang pasti aturan baku seperti penempatan tanda baca [titik, koma, seru, tanya, paragraf] upayakan letaknya sesuai, kalo kagak, bisa berak berdiri pembacanya.

    kita sama-sama belajar saja, jangan terpancing flame war.

    [Reply]

  50. aris says:

    waah setuju, trus juga biar ga bikin pusing para blogger…
    indonesian culture klik disini

    [Reply]

  51. tarii says:

    cara membuat blog dan menulis serta menggungkan blog itu bgaiman ?

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 24th, 2010 8:16 pm:

    Mbak Tarii, coba ketikkan di pencarian Google kata “cara membuat blog”, “bagaiman cara posting tulisan di blog”, atau apa saja tentang blog tanyakan saja ke Google. Sudah banyak sekali tutorial soal blog ini, Mbak Tarii. Ikuti saja petunjuk2nya satu persatu. Asal mau, pasti bisa. Kalau ada masalah, silakan tanyakan kembali. Okey? :)

    [Reply]

  52. [...] (terutama saya) ‘nge-blog’ selama ini; baik itu konten artikel, cara saya membahas sesuatu, gaya tulisan saya, dan cara saya menjawab komentar, atau malah aktifitas blogwalking saya, cara saya berkomentar di [...]

  53. gaelby says:

    Thanks Bro ! Tipsnya sangat membantu untuk tetap semangat menulis.

    Salam kenal :)

    [Reply]

  54. [...] ke WordPress ini yang hasilnya tidak sesuai harapan saya, ditambah pula setelah menerbitkan “artikel yang panas” beberapa hari yang lalu, jujur, saya sedikit mengalami pengenduran semangat. Tapi, ada banyak [...]

Leave a Reply