Pada batasan yang bagaimanakah saya harus mendefenisikan kata semangat ini? Sudahlah, tak perlu diurai lebih jauh. Hadir atau hilangnya semangat dalam diri manusia, sudah cukup untuk memaknainya.
Yang jelas, semangat ini tentu saja masalah rasa, bukan masalah pikiran. Betul tidak? Walau tak menutup kemungkinan, semangat itu lahir dari sebuah proses alur berpikir. Dan, kita pun sudah tak perlu membantah peran semangat ini dalam kehidupan. Tanpa semangat, maka tiada kehidupan. Semakin tinggi semangat seseorang, semakin besar peluang seseorang melakukan sesuatu yang berharga bagi kehidupan.
Pertanyaan yang lebih penting dari itu adalah bagaimana menciptakan semangat? Atau, bagaimana supaya hidup senantiasa bersemangat?
Setidaknya, ada dua faktor yang mempengaruhi lahirnya semangat ini; eksternal dan internal. Berikut ini adalah deskripsinya.
1. Dukungan (Eksternal)
Nah, pointer ini menurut sudut pandang saya. Dukungan boleh jadi datang dari pihak keluarga, kerabat, teman, dan sahabat. Untuk menjelaskannya, saya beri contoh. Pada saat melakukan migrasi dari Blogger ke Wordpress ini yang hasilnya tidak sesuai harapan saya, ditambah pula setelah menerbitkan “artikel yang panas” beberapa hari yang lalu, jujur, saya sedikit mengalami pengenduran semangat. Tapi, ada banyak sahabat saya yang selalu punya perhatian besar kepada saya. Diantaranya, dua yang paling menonjol:
Pertama, Pak Aldy. (Beliau ini mau saya panggil dengan sebutan apa ke depan ya? Bapak atau Mas? Sepertinya, dipanggil “Mas” aja deh. Biar asyik dan lebih akrab, hehehe…). Beliau ini tak henti-hentinya memberikan support dan masukan soal theme kepada saya. Sepertinya, setiap kali berkunjung kemari, dia selalu menyempatkan bermain di area Pembenahan Ini Belum Usai. Semua komentar dia pelototi di sana. Nah, perhatian beliau yang besar ini sangat membantu membangun kembali semangat saya. Padahal, saya kenal beliau belum genap sepuluh hari.
Kedua, Mas Candra Tri Wardana. Perhatikan isi komentarnya di “Pembenahan Ini Belum Usai”,
“…soal besar font di kolom komentar memang kecil, Mas. Nanti saya bantu deh edit css-nya. Mudah-mudahan ada waktu ketemu di YM…”
Duh, saya membaca ini serasa mendapat tenaga baru. Mas Candra boleh dibilang sahabat pertama saya dalam dunia perbloggeran di tanah air. Saat komentar-komentar di blog ini masih bisa dihitung dengan lima jari, beliau termasuk salah satunya.
Saya tidak ingin “klaim” bahwa saya orang yang baik dalam kasus ini. Tidak. Tidak begitu maksud saya. Tapi, tentu saja, dukungan dari berbagai pihak terjadi karena seseorang senantiasa berupaya menjaga hubungan baik. Itulah kesimpulannya. Mohon ini tidak diterjemahkan dalam wilayah “kenarsisan”.
2. Harapan (Internal)
Nah, yang ini menurut Aa Gym. Harapan yang positif, sudah barang tentu, menghasilkan semangat dan optimisme. Namun, ternyata, harapan tidak lahir begitu saja. Harapan akan muncul apabila kita menguasai suatu hal. Yakni, informasi.
Informasi yang dikuasai ini pun harus ada kriterianya; benar, akurat, dan lengkap. Menguasai informasi tentang apa yang terjadi di masa lalu dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan, menyebabkan seseorang akan mengerti posisi. Mengetahui posisi, akan memudahkan seseorang melakukan setting dalam situasi dan terhadap kondisi, bahkan menciptakan pra kondisi. “Kekuasaan” manusia dalam area dan/atau siklus inilah yang membuat “hidup lebih hidup”. Itulah semangat.
Sementara ini, mungkin dua hal itu saja. Adakah tambahan pendapat? Atau, justru pendapat yang berbeda? Mari kita berembug.

optimis,,harus,,pertama nih
[Reply]
arsumba reply on February 5th, 2010 4:06 am:
Nunut Pertama ya mas..
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 6th, 2010 7:56 am:
Saya nebeng juga…
[Reply]
hpnugroho reply on February 6th, 2010 10:00 am:
numpang juga, sebab namanya beda tipis .. hehehehhe
IwanKus reply on February 8th, 2010 6:01 am:
hehehe…yg punya blog ikutan nebeng