Refleksi dan Catatan-Catatan Kecil

Filed under Humanisme

Tentang Kebenaran dan Kebaikan

Empat hari saya terpuruk di sebuah desa di pedalaman dalam sebuah kegiatan survey, selama itu pula saya tak bersentuhan dengan komputer dan internet. Lalu, ketika saya pulang dan melihat blog ini, saya malah bingung mau update apa. :D Saya putuskan saja untuk berjalan-jalan ke toko buku. Saya menuju barisan novel-novel. Disanalah, pada sebuah buku saya temukan kata “kebenaran”, dan pada buku yang lain saya temukan kata “kebaikan”.

Kebenaran asal katanya adalah “benar”. Sedangkan kebaikan asal katanya adalah “baik”. Apakah “benar” itu? Dan apakah “baik” itu? Manakah yang harus lebih dahulu ada dari kedua kondisi ini? Benar dulukah? Atau, baik dulukah?

“Benar” itu, ada ukuran dan rujukannya. Kalau saya tinggal di sebuah lingkungan yang penuh dengan kemaksiatan; zina, judi, minuman keras, korup, fitnah, dan lain-lain, sedangkan saya berpegang teguh untuk tidak terbawa arus lingkungan saya tersebut – artinya, saya tidak ikut-ikutan berzina, berjudi, minuman keras, memfitnah, serta korupsi – maka, pada kondisi ini, perbuatan lingkungan saya tersebut adalah perbuatan yang tidak benar, dan sikap serta perbuatan saya adalah perbuatan yang benar.

Pada kasus ini, untuk menyatakan sebuah perbuatan itu benar atau tidak benar rujukannya adalah agama, nilai luhur budaya, akal, dan nurani manusia. Sampai tahap ini, saya kira, apa yang dimaksud dengan “benar” itu sudah jelas.

Lalu, apakah “baik” itu? “Baik” adalah proses lanjutan dari sesuatu yang sudah dikatakan “benar”. “Baik” itu, sudah mengandung nilai-nilai estetika dan menuntut kualitas dari sebuah sikap dan perbuatan.

Sikap saya yang tidak mau terbawa oleh lingkungan yang penuh kemaksiatan memang sudah “benar”. Tapi, sikap yang demikian saja tidak cukup untuk bisa dikatakan “baik”. Saya baru bisa dikatakan melakukan “kebaikan” apabila saya berupaya menegakkan “kebenaran” itu menjadi lebih hakiki. Saya baru bisa dikatakan melakukan “kebaikan” apabila saya memerangi “ketidakbenaran” itu dan mengajak serta menyerukan “kebenaran” kepada lingkungan saya “yang tidak benar” tersebut.

Oke, kita lihat kasus lain. Dalam persfektif Islam, menjadi muslim itu adalah “benar” ketimbang tidak menjadi muslim. Tapi, untuk menjadi muslim yang “baik” haruslah menunaikan shalat, berpuasa, menunaikan zakat, berinfak, dan seterusnya… dan seterusnya…

Dalam persfektif ilmu pengetahuan, bersekolah itu adalah “benar” ketimbang tidak bersekolah. Tapi, untuk menjadi seorang pelajar yang “baik” haruslah rajin membaca buku, serius mengikuti jadwal pelajaran, rajin melakukan diskusi, sering melakukan penelitian, dan seterusnya… dan seterusnya…

Sampai disini, saya kira, apa yang dikatakan “benar” dan apa yang dikatakan “baik” itu sudah cukup jelas. Dan, sejauh itu sajalah pemahaman saya tentang “kebenaran” dan “kebaikan”. :)

59 Responses to “Tentang Kebenaran dan Kebaikan”

  1. arkasala says:

    Merasakan indahnya pertamax dulu disini :)

    [Reply]

    candradot.com reply on February 11th, 2010 1:17 pm:

    numpang pertamax juga deh

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 11th, 2010 4:10 pm:

    Sammax… :lol:

    [Reply]

    Ruang Hati reply on February 11th, 2010 5:06 pm:

    pengen ikutan pertamax juga kali aja masih ada tetes tetes pertamax

    [Reply]

    Vulkanis reply on February 11th, 2010 5:28 pm:

    Ikutan seselip,, ya Boz

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 11th, 2010 5:41 pm:

    Maaf! Persediaan pertamax habis. Tinggal bensin ama solar aja yah… :P

    [Reply]

    Rafi reply on February 12th, 2010 1:23 pm:

    Yawdah Saya Solar aja jg gpp dah….Sallam kenal mas Khery :)

    [Reply]

  2. arkasala says:

    Saya menemukan proses idealisasi yang dituturkan Mas Khery disini. Saya baru menyimpulkan sacara cara saya menangkap artikel ini. Baik = 1 dan benar = 1. Jika dilakukan keduanya sebagaimana di atas tentunya ideal sekali. Namun keduanya ada sisi persamaan behwa baik dan benar adalah nilai serta kebaikan dan kebenaran adalah proses yang melalui perjuangan kadang berat kadang juga ringan.
    Trims Mas atas artikelnya yang menarik :)

    [Reply]

    Vulkanis reply on February 11th, 2010 5:31 pm:

    Jadi kalo 1 dan 1 digabungkan jadi 11 dong ?
    he..he
    Kita baik pun belum tentu benar..
    Sebaliknya benar sudah pastikah baik ?

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 9:01 am:

    Walah, Pak Dadang kemana2 aja nih wacananya… :lol:

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 9:00 am:

    Saya kira kita satu pandangan dalam hal ini tampaknya, Kang… :)

    [Reply]

  3. Ricky says:

    Orag baik belum tentu benar ya mas, tapi orang benar sudah pasti baik..hehe..pa kabar mas khery

    [Reply]

    candradot.com reply on February 11th, 2010 1:19 pm:

    apa kabar juga mas,
    ini yang punya rumah lagi berendem mas wkekekkekek

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 8:36 am:

    Berendem dimana? Sok tau! :lol:

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 8:35 am:

    Alhamdulillah sehat wal-afiyat, Mas Ricky… :)
    Prosesnya itu “benar” dulu baru menjadi “baik”…

    [Reply]

  4. Rama says:

    Dalam Quran sendiri telah dijelaskan
    bahwa kebenaran adalah apa-apa yang datang dari Robbmu,
    segala sesuatu harus disesuaikan dgn Quran, jika
    tidak sesuai, maka itu tidak benar..

    sedang kebaikan itu sudah kita kenal dgn baik,
    kalo kita berbuat kebaikan, pasti rasanya nyaman,
    tenang, dan damai,

    tapi kalo berbuat buruk, pasti rasanya ga enak perasaan
    ini, takut orang lain tahu, dsb.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 8:38 am:

    Oleh sebab itu, “benar” itu ada rujukan dan ukurannya. Setelah kita “benar”, mudah2an setelah itu kita menjadi “baik”. Amin… :)

    [Reply]

  5. darahbiroe says:

    sumber dari dua buku dunt ceritanya heheheh kebenaran dan kebaikan sippp

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya terima kasih

    salam

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 9:04 am:

    Kata yang saya temukan dari buku itu hanya inspirasi saja untuk menjadikannya artikel ini… :)

    [Reply]

    darahbiroe reply on February 13th, 2010 12:56 pm:

    siippp tapi mantap kok jadi terinspirasi

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasihhh :D

    [Reply]

  6. narno says:

    benar-benar jelas untuk menjadi baik

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 9:07 am:

    :)

    [Reply]

  7. fadly muin says:

    saya kepayahan kalau sudah bicara masalah “hakikat” rujukannya sangat dalam. dan sentuhan filsafat sangat kuat untuk mendeteksi itu.

    namun kulit tentang kebenaran dan kebaikan yang coba di kupas mas Khery, buat saya cukup memberikan perspektif yang sederhana namun mengena.

    *sekarang sudah kembali lagi mas?

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 9:16 am:

    Orang yang sedang berfilsafat itu kan orang yang sedang bingung. Alhamdulillah, sekarang sudah kembali, Bang. Namun, masih ada aktifitas offline lainnya sedikit yang mesti diselesaikan dulu… :)

    [Reply]

  8. arsumba says:

    jadi ingat sama mata kuliah filsafat nih..
    dulu dosen saya pernah mempertanyakan perbedaan antara kedua kata itu. Tapi saya belum begitu mudeng, dengan contoh yang sederhana ini alhamdulillah jadi mengerti sekarang mas..
    matur tengkiyu… :D

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 9:19 am:

    Ini saja masih bisa diperdebatkan… :D

    [Reply]

  9. Dangstars says:

    Satu wacana yang ringan tapi padat maknanya,,suwun Mas..

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 9:19 am:

    Hehehe… Pak Dadang bisa aja… :)

    [Reply]

  10. Ma Khery berusaha untuk mencari hakikat kebenaran dan kebaikan itu juga “benar”. Dan kemudian menulis artikel ini untuk menciptakan manfaat bagi sesama itu “baik”.

    Allahu yakhuzu bi aidina ila ma fihi khairan lilislami walmuslimin, amin!

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 9:20 am:

    Hehehe… sebuah contoh yang menarik. Trims, Kang… :)

    [Reply]

  11. ALRIS says:

    Postingannya dalam, saya baca sekali lagi baru komeng…xixixi…
    salam

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 9:35 am:

    Udah lama ditunggu, kok belum nongol juga komen keduanya, xixixi…

    [Reply]

  12. ngeblog yang baik itu sudah pasti benar, dan untuk ngeblog yang benar butuh belajar yang baik dulu :)

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 8:50 am:

    Filosofi sesuatu selalu saja bisa diperdebatkan… :)

    [Reply]

  13. Oyah says:

    Numpang comment neehh brow… klo mnurut aq, kedua istilah itu hanya milik mutlak SANG BIG BOSS … hehehe… qta2 cuma kecipratan sebagian dr kedua kata itu… Yg plg banyak, justru kebalikan dr kedua kata itu… soalnya, yg namanya manusia gak lepas dr yg disebut HAWA NAFSU.
    Dari nafsu yg ringan s/d yg berat… Siapa yg sanggup mengendalikan diri, pasti mengarah kpd kedua kata itu… disini berarti msg2 diajak mengukur lewat hati nurani… tapi … ini khan sulit ngukurnyaaaa … gak ad angka-nya seehhh… kalo jumlah pengunjung blog sih, bisa dihitung…
    Btw, klo dibahas, kyknya 7 hari 7 malem gak bakalan ad abisnya…. soooo… segini az dlu y kawan2…

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 9:42 am:

    Trims atas tambahannya, Mbak Oyah… :)
    Btw, blognya kok berat amat loadingnya, Mbak. Saya kesulitan masuk kesana. Berkali2 refresh baru berhasil. Sepertinya blognya kebanyakan flash, Mbak..

    [Reply]

  14. aguscwid says:

    Saya dulu pernah dapet materi beginian waktu kuliah.cuman mata kuliah apa ya? pokoknya berhubungan dengan filosofi. “Baik dan Benar” :) . Anyway it’s nice topic. Salam kenal dan persahabatan.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 8:48 am:

    Kita sudah saling kenal sebenarnya, Mas. Sebelum di wordpress, saya dulunya di blogspot. Mas Agus sudah pernah berkunjung ke blogspot saya sebelum ini, dan saya pun sudah pernah berkunjung ke blog Mas Agus dulunya. Tapi, mungkin lupa… :)

    Btw, soal ini hehehe…., ada istilah yang menarik bahwa “orang yang sedang berfilsafat itu justru orang yang sedang berada dalam kebingungan”… :)

    [Reply]

  15. intan rawit says:

    contoh dan penjelasannya mengena sekali, yup mari kita menjadi seseorang yang “benar dan baik”! salam kenal!

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 7:26 pm:

    Salam kenal, Mbak Intan. Amiiin… :)

    [Reply]

  16. arkum says:

    Dlm filsafat etika,benr dn baik mmg tak bs dpisahkn.kduanya tetap dbthkn u menilai sbuah perbuatan.
    so,ms sudeska ada rencana nulis lanjtnnya,misal tg standar B/S

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 7:25 pm:

    Hehehe… Saya justru mau tanya sama Mas Aries, menurut Mas mana yang lebih dahulu? “Benar” atau “Baik”?

    [Reply]

    Aries Kusuma | Tipssukseskarir reply on February 16th, 2010 2:11 pm:

    kalau yg mendasar ya tetap kebenaran mas.

    [Reply]

  17. iskandaria says:

    Wah, membahas filsafat kebenarannya nih Mas.

    Kebenaran untuk setiap orang adalah yang sesuai dengan kondisinya. Benar untuk satu orang dengan kondisi tertentu bisa menjadi tidak benar untuk kondisi berbeda pada orang lain.

    Namun jika ditelisik, kebenaran hakiki pada hakikatnya bersumber pada hati nurani kita masing-masing. Suara batin istilah lainnya. Ada juga yang menyebutnya sebagai ilham. Namun untuk bisa mendengarkan suara batin tersebut, hati kita sendiri mestilah dalam kondisi jernih/bersih, agar pancaran cahaya kebenaran bisa tertangkap olehnya.

    Itu dulu komentar saya Mas.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 12th, 2010 7:20 pm:

    Yups! Pada kondisi yang dijelaskan terakhir, saya setuju. Pada saat itu (mungkin) “nurani itu menjadi mahkamah Illahi”. Wallahua’lam… :)
    But, mungkin tak selamanya nurani itu dalam kondisi yang demikian. Oleh sebab itu manusia butuh rujukan kebenaran yang lebih absah, yang bersumber dari Tuhan melalui Nabi-Nya. Sekali lagi, Wallahua’lam… :)

    Hakikat yang sedang saya coba cari disini adalah proses, mana yang lebih dahulu “benar” atau “baik”?

    [Reply]

  18. sauskecap says:

    orang yang baik belum tentu berbuat benar lho…. orang yang berbuat kebenaran juga belum tentu orang yang baik…

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 15th, 2010 1:52 am:

    Contoh untuk kasus ini ada, Mbak Arianti?

    [Reply]

  19. agoenk70 says:

    kebenaran dan kebaikan khan saling melengkapi… jadi keduanya harus ada… hoho…

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 15th, 2010 1:54 am:

    Yang sedang kita cari prosesnya lho, Mas Agung. Secara filosofi, mana yang lebih dahulu harus ada dari kedua hal itu? :)

    [Reply]

  20. yap… pelajaran tentang yang benar dan yang baik…
    makasih sharing nya…

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 15th, 2010 1:55 am:

    Sama-sama… :)

    [Reply]

  21. Salam super-
    salam hangat dari pulau Bali-
    mas, saya meyakini.. kalau Kebenaran sudah pasti menjadi kebaikan.
    tapi kebaikan itu sendiri, belum tentu adalah kebenaran…
    setuju ?

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 15th, 2010 1:51 am:

    Wah, gak perlu dikoreksi lagi penyataannya nih, Bang Andry? :D

    [Reply]

  22. hpnugroho says:

    membutuhkan orang lain untuk bisa menilai apakah kebaikan kita sudah benar atau kebenaran yang kita lakukan sudah baik.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on February 15th, 2010 1:49 am:

    Bener juga, Mas Nug. Trims banget atas tambahannya… :)

    [Reply]

  23. Sering terjadi kebenaran dan kebaikan itu menjadi relatif tergantung pada kebutuhan masing2 individu terhadapnya.
    Namun, sebenarnya utk mendapatkan kebenaran dan kebaikan itu mudah saja, cukup dengarkan kata hati dgn hati yg jernih, jangan ada harapan selain dariNYA.
    Maka insyaallah, kita tau dan yakin yg mana yg benar dan baik itu.
    Maaf Mas Sudes komen bunda kepanjangan ya.
    Salam.

    [Reply]

  24. Saya mendapatkan point seperti ini mas Khery…. jadi intinya jangans sampai kita hanya puas dengan kebenaran, tapi selalulah berusaha untuk menjadi sebuah orang yang full kebaikan ! gitu ya mas…

    emmm saya senang artikel yang menghungkap sebuah analogi atau permainan logika,,rasanya otak jadi anget dan senyum-senyum sendiri setelah bacanya gitu…

    nice post mas Khery… ^_^

    [Reply]

  25. [...] diskusi tujuannya adalah untuk – setidaknya berusaha – mencari “kebenaran“ atas sebuah masalah. Penting dalam sebuah diskusi, masing-masing peserta untuk sadar akan [...]

  26. [...] bejat itu tidak sama. Privasi itu adalah hak. Sedangkan kelakuan bejat itu adalah melakukan perbuatan yang bukan hak; perbuatan itu melanggar nilai, norma, agama, dan hukum yang berlaku. Dalam bahasa lainnya, [...]

Leave a Reply