Filed under Budaya
Tunjuk Ajar Melayu
Tunjuk ajar adalah ungkapan-ungkapan bijak yang dikemas dalam pantun atau syair – di lain waktu ia juga bisa berupa gurindam atau hikayat – berisi petuah, pengajaran atau nasehat orang tua kepada anak secara turun-temurun – atau dari orang tua-tua kepada generasi muda – dari generasi ke generasi dalam masyarakat Melayu. Defenisi ini adalah hasil tafsiran saya sendiri terhadap Tunjuk Ajar Melayu ini. Oleh sebab itu, mungkin, belum terlalu tepat benar.
Tunjuk ajar ini, dahulunya, hanya tersimpan dalam minda dan tersebar melalui tutur dari mulut ke mulut (ungkapan). Dan (mungkin) sejak era kepengarangan Raja Ali Haji ada upaya untuk “menyimpan” – dan juga menggubah – hal semacam ini dalam bentuk nukilan atau karya sastra. Tapi, tetap saja jumlah yang ternukil itu tak seberapa jumlahnya dibanding yang tersebar dalam tutur. Demikianlah betapa banyaknya ungkapan-ungkapan bijak ini jumlahnya.
Dewasa ini, di Riau, salah seorang budayawan yang amat berkhikmad dalam upaya menghimpun kembali Tunjuk Ajar ini dalam bentuk buku adalah Bapak Tennas Effendy. Untuk menyebarluaskannya lebih jauh lagi, sebagian dari apa yang telah beliau himpun dalam buku yang bertajuk Tunjuk Ajar Melayu itu, saya kutipkan di sini. Selamat menikmati.
Wahai ananda hendaklah ingat,
hidup di dunia amatlah singkat
banyakkan amal serta ibadat
supaya selamat dunia akhirat
wahai ananda dengarkan peri,
tunangan hidup adalah mati
carilah bekal ketika pagi
supaya tidak menyesal nanti
wahai ananda dengarlah madah,
baikkan laku elokkan tingkah
banyakkan kerja yang berfaedah
supaya hidupmu beroleh berkah
wahai ananda dengarlah pesan,
kuatkan hati teguhkan iman
jangan didengar bisikan setan
supaya dirimu diampuni Tuhan
wahai ananda peganglah janji,
berbuat khianat engkau jauhi
banyakkan olehmu bertanam budi
supaya kelak hidup terpuji
wahai ananda cahaya mata,
janganlah tamak kepada harta
mencari nafkah berpada-pada
supaya hidupmu tiada ternista
wahai ananda sibiran tulang,
betulkan kaji, tegakkan sembahyang
umur yang ada jangan dibuang
supaya hidupmu dipandang orang
wahai ananda belahan diri,
kerja menyalah jangan hampiri
berbuat maksiat jangan sekali
supaya hidupmu diberkahi Ilahi…
Ini hanya sebagian kecil saja dari yang ada. Boleh jadi, di lain masa, akan saya kutipkan juga petuah-petuah yang lainnya. Semoga bermanfaat.
lama saya tidak pernah membaca karya-karya seperti ini Mas. Selain indah juga sarat petuah dan makna.
Trims.
Salut saya atas upaya Mas Khery menggali sastra dan budaya negeri.
Salam hangat selalu
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 18th, 2010 7:16 pm:
Trims sekali atas apresiasinya, Kang. Semoga saja ada manfaatnya…
[Reply]
Bang saya jadi ingat tunjuk ajar Soeman HS.
Tks Artikelnya
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 18th, 2010 8:05 pm:
Hehehe… so pasti, Fid!
[Reply]
wah saya baru dengar, dari komposisinya lebih panjang daripada soneta…
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 18th, 2010 8:11 pm:
Kalo jumlah kalimat perbait sebenarnya tak terlalu banyak. Ini layaknya pantun biasa. Cuma saja, jumlah dan topiknya sangatlah banyak. Tapi, tetap bermuatan “tunjuk ajar”. Itu mungkin yang membedakan isinya dari pantun biasa…
[Reply]
isinya penuh makna..semoga diri kita bisa menerapkannya
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 18th, 2010 9:46 pm:
Amiiinn…
[Reply]
wahai ananda sibiran tulang
sudeska belahan diri
bolehlah esok kaji diulang
tunjuk ajar melayu menarik hati
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 18th, 2010 9:45 pm:
Bukittinggi ranahnya Mande
tempat siput belajar di rumput
kalaulah demikian keinginan Mande
pinta kan dijemput gayung pun disambut
[Reply]
saya baru tahu mas.. dengan istilah tunjuk ajar kebudayaan melayu ini..
puisinya membawa pesan yang mulia.. keknya syair2 tunjuk melayu ini akan lebih berisi, berguna dan bermanfaat daripada syair2 lagu cengeng anak sekarang.. hehehe… *peace*
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 18th, 2010 9:47 pm:
Husss! Jangan cari perkara, Crit! Weekekeke…
[Reply]
arsumba reply on February 18th, 2010 10:11 pm:
maksudnya diantara para cengeng itu adalah saya mas.. wekekekekeke… *biar ndak jadi perkara*
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 18th, 2010 10:21 pm:
Berarti komeng sampean di artikel Keroncong itu separuh hati ya?
arsumba reply on February 18th, 2010 11:10 pm:
hihihi… jadi malu.. malah keliatan cengengnya nih… wekekekekek…
Khery Sudeska reply on February 19th, 2010 8:11 am:
Yang jelas, mata kita kan kian terbuka lebar. Betapa kayanya bangsa kita ini dengan budaya yang punya nilai positif. Bukan begitu, Crit?
arsumba reply on February 20th, 2010 9:30 pm:
iya mas… setidaknya dengan ngeblog ini dan bisa kenal dengan mas sudeska bisa membuka mata ini dengan lebar akan kekayaan budaya bangsa yang kita miliki … hehehe..
thanks ya mas.. “you are my best inspiration”
kalau tidak salah, pernah diajarkan saat sekolah, dalam bahasa Indonesia disebut pantun bertuah .. hhmm benarkah ?
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 18th, 2010 11:13 pm:
Kalo istilah pantun bertuah itu saya kira nggak ada, Mas. Yang ada itu justru istilah Melayu Bertuah. But, kalau “petuah” ada. Dan petuah itu memang lazimnya berbentuk pantun. Dan, isi petuah itu memang berupa tunjuk ajar ini…
[Reply]
hpnugroho reply on February 20th, 2010 10:52 pm:
mungkin maksudnya itu kali ya ..
maklum mas, dapetnya waktu sekolah dulu … hehehehe
[Reply]
thanks for review..
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 24th, 2010 1:26 pm:
Heiiiy, Kawan… Apa kabar?
[Reply]
Salam super-
Salam hangat dari pulau Bali-
wah,,, nice posting mas…
saya sampai baca dua kali ,biar paham…..
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 20th, 2010 4:31 pm:
Masa sih, Bang? Bahasanya kan mudah sekali dimengerti…
[Reply]
oh ini kayak pantun ya… bagus deh harus dilestarikan nih
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 20th, 2010 4:32 pm:
Tapi jenis pantun ini tak bersampiran. Perhatikan saja, semua baris dalam bait adalah isi…
[Reply]
Saya kurang paham dengan petuah-petuah melayu seperti ni mas..Tapi setelah baca-baca sebenarnya amat saya yah kalo hal-hal semacam ini tidak dilestarikan..
Sepertinya makin sering membahas kebudayaan yah mas,
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 20th, 2010 4:34 pm:
Bahasanya kan sederhana, Mas Ricky. Untuk mensosialisasikannya lebih luas lagi maka saya posting…
[Reply]
pantun yang bagus sekali mas sudeska, uda lama nich ngak dengerin pantun
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 20th, 2010 4:36 pm:
Maksudnya memang agar dibiasakan lagi mendengarnya dan lebih mengakar kepada kita. Hehehe…
[Reply]
syair-syairnya indah dan dalam maknanya.. kali ini cukup meresapi dulu mas Khery… di lain masa bolehlah kita berbincang lagi
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 20th, 2010 4:37 pm:
Ternyata bahasa Melayu itu kalau dituliskan dan dibaca enak juga rasanya ya, Bang…
[Reply]
fadly muin reply on February 20th, 2010 5:18 pm:
seru… tapi kalau ga biasa jadi kelipat-lipat nih lidah mas khery :p
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 20th, 2010 5:34 pm:
Bisa itu pun karna biasa kan Bang?
trims tujuknya bos
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 24th, 2010 2:31 pm:
Sama2, Mas Suwung. “Tunjuk” ya… bukan “tujuk”.
[Reply]
Wah…maknanya dalam sekali ternyata
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 24th, 2010 2:49 pm:
Ah, yang bener, Mas?
[Reply]
petuah2 seperti ni pernah dengar dulu sewaktu masih sekolah saja, banyak yg karangan Raja Haji Ali.
sekarang sudah sangat langka ya Mas Sudes.
padahal kalau saja sekarang diaktifkan kembali,
kita semua masih bisa mengambil petuah dari sini.
Salam.
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 24th, 2010 3:03 pm:
Mudah2an saja, Bunda. Amin…
Salam hangat selalu buat Bunda sekeluarga…
[Reply]
Hmmm, posting ini membuat pikiran saya melayang ke masa lalu. Jadi kangen sama guru-guru sekolah.
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 24th, 2010 4:11 pm:
Hehehe… Alhamdulillah kalo begitu, Mas Agus. Mudah2an, paling tidak, ini bisa menjadi perantara kerinduan tersebut…
[Reply]
mas sudes artinya berpada-pada apa ya. tunjuk ajar kali ini
pelajaran yang sarat nasehat yang sangat bermanfaat untuk membentuk pekerti untuk generasi mendatang .
bagus mas ide anda.
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 24th, 2010 4:23 pm:
Berpada-pada itu artinya kenal batas, Bu. Jangan terlalu bernafsu sehingga menghalalkan segala cara dan lupa yang paling pokok oleh sebab mencari harta tersebut. Kira2 demikian maksudnya, Bu…
[Reply]
Gaya bahasanya mirip banget dengan bahasa Malaysia nih mas. Saya ngerti sih. Sori nggak bisa komen banyak. Cuma mau baca aja dulu
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 24th, 2010 4:28 pm:
Bila dituliskan, Bahasa Melayu itu kan sebenarnya sama saja dimana dia berada, Mas Iskandaria. Hampir tak berbeda dan tak mengenal tingkatan. Ini bisa dilihat dan dibuktikan pada teks karya sastra lama di Riau dan Malaysia. Hampir susah dibedakan.
[Reply]
Baru kali ini mas, sy tahu ada istilah tunjuk ajar, namun nuansa bahasanya yg memang gurindam ya mas, seneng membacanya, ada khas huruf yang sama setiap baitnya….hehehe bener nggak ya…waja ms kagok kalo ngomong bahasa…dan kaya akan hikmah walau terkadang ada perbedaan setiap bagiannya.
[Reply]
manteps lah.. hehehehehhee
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 24th, 2010 1:54 pm:
Thanks…
[Reply]
Maaf, tanpa sengaja, Saya telah Hiatus……
Ini berkaitan dengan realisasi planning di tahun 2010. Akibatnya, ada sekian banyak agenda aktifitas offline yang mesti saya lakoni. Konsentrasi yang terfokus pada sebuah titik, mau tak mau, menyebabkan perhatian pada titik yang lainnya sedikit terabai…
Asam gandis asam gelugur,
asam jawa berbiji dua,
sungguh manis nanda bertutur,
menggugah hati, kami yang tua.
ops…
lama sudah saya tidak berpantun tuah, gagap nian lidah mengucap.
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 27th, 2010 6:38 am:
Letak hidangan di bentangan tikar
dihias jambangan bunga kesturi
sungguh senang hati mendengar
sang raja pantun datang kemari
[Reply]
[...] maka dunia internet ini akan menjadi rimba belantara yang tak terkontrol oleh tata krama. Bak kata pepatah, “bahasa itu menunjukkan tinggi atau rendahnya budi orang yang [...]
salam kenal e.. awak juge budak melayu ne.. bintan island wak punye name tu daerahe..
[Reply]