Filed under Wacana Umum
Sidang, Diskusi, Debat, dan Etika Dalam Rapat (Sidang)
Ada sidang atau rapat, ada diskusi, dan ada debat. Apakah bedanya?
Kalau dilihat dari bentuk dan teknis pelaksanaannya, maka ketiganya sangat sulit sekali untuk dibedakan. Bedanya tipis sekali. Sebab, pada dasarnya, ketiganya adalah wadah untuk menyalurkan pendapat. Agar bedanya tampak lebih kentara, maka kita harus melihat perbedaan ketiganya dari tujuannya.
Sidang atau rapat tujuannya adalah untuk mencari atau mencapai keputusan. Tujuan atau keputusan sebuah sidang bisa saja tercapai dengan kemufakatan suka rela. Tapi, tidak menutup kemungkinan, tujuan sebuah sidang juga tercapai atas tekanan politis atau pun fisik. Oleh sebab itu, boleh jadi, keputusan sebuah sidang itu tercapai atas hasil sebuah rekayasa. Semua itu tergantung pada kondisi dalam sidang dan situasi yang berlangsung di luar sidang tersebut.
Sementara, diskusi tujuannya adalah untuk – setidaknya berusaha – mencari “kebenaran“ atas sebuah masalah. Penting dalam sebuah diskusi, masing-masing peserta untuk sadar akan posisi dan menggali sebanyak mungkin referensi untuk mencapai sebuah “kebenaran” yang lebih absah. Paling tidak, untuk saat itu. Oleh sebab itu, selayaknya sebuah diskusi yang ideal, haruslah berlangsung dalam suasana yang “dingin”.
Lalu, bagaimana dengan tujuan debat? Tujuan debat adalah untuk meyakinkan. Objek peyakinan ini tertuju kepada dua orang atau dua pihak yang berdebat dan khalayak yang menyaksikan perdebatan tersebut. Tidak ada hakim yang bertindak sebagai pengadil atas hasil sebuah eksplorasi pendapat dalam debat telah berhasil meyakinkan atau tidak. Keyakinan akan akurasi sebuah pendapat dalam debat diputuskan oleh masing-masing individu yang terlibat dalam debat dan individu-individu yang menyaksikan debat tersebut. Persetujuan akan sebuah pendapat terjadi dengan sendirinya pada masing-masing individu tergantung sejauh mana pendapat tersebut mampu memberikan nilai logika dan menyajikan fakta.
Maka, teknik bersoal jawab, membantah dan dibantah dalam debat, pada dasarnya juga bertujuan menggugah orang untuk berpikir, mengoreksi hidup, dan kemudian setelah itu menjadi lebih bijaksana. Oleh sebab itu, penting sekali dalam debat itu untuk senantiasa menghidupkan aliran logika.
Lalu, bagaimana soal keterlibatan emosi dalam debat? Emosi itu manusiawi. Selagi emosi itu berada di bawah kendali logika, tidak masalah. Emosi itu yang justru akan membawa seseorang lebih jauh pada wilayah kedalaman sebuah logika. Dan, pada saat itu juga, akan segera terlihat siapa yang lebih bijak dan terbuka terhadap perbedaan pendapat. Teknik inilah yang dinamakan oleh Socrates sebagai eclenchus.
Maka, tidak perlu takut pada sebuah debat akan mengarah pada debat kusir selagi emosi dalam debat tetap berada di bawah kendali logika. Justru sebuah debat akan berpotensi selanjutnya menjadi debat kusir apabila terburu-buru sejak awal mendakwa sebuah debat dianggap debat kusir. Karena, pada saat itu juga seseorang telah mencoba mematikan aliran logika sejak awal.
Namun, harap diingat, tidak semua persoalan dalam kehidupan manusia bisa diperdebatkan. Oleh sebab itu, ada istilah masalah yang sifatnya debatable dan ada masalah yang tidak debatable. Artinya, untuk masalah yang tidak debatable itu telah ada hukum tetap yang mengaturnya, baik itu hukum yang berasal dari Tuhan atau hukum atas hasil kemufakatan bersama, yang tidak bisa diperdebatkan lagi. Penting sekali untuk mengetahui batasan-batasan ini sebelum memulai sebuah debat.
Etika Dalam Rapat (Persidangan)
Mengapa etika dalam persidangan ini yang kita sorot kali ini? Karena masalah ini yang pernah “mengguncang” di Gedung Nusantara sana baru-baru ini.
Secara gamblang, etika berarti tata krama. Etika dalam persidangan – biasanya – telah diatur dalam tata tertib sebuah sidang. Oleh sebab itu, masing-masing tata tertib sidang dalam berbagai tingkatan juga biasanya berbeda-beda penjelasan teknisnya. Namun, untuk semua sidang, ada hal-hal yang umum berlaku sebagai etika persidangan, seperti dilarang menyerang hal yang bersifat pribadi pada seseorang, menyinggung atau mengejek cacat fisik seseorang, mengucapkan kata-kata kotor atau tidak pantas, dan lain-lain. Ini berlaku dan dijaga untuk tidak terjadi pada sidang manapun di dunia ini. Sebab, ini penting sekali agar sebuah sidang berlangsung secara sehat.
Maka, bila ada seseorang dalam sebuah sidang atau rapat mengucapkan kata-kata seperti “Bangsat Kau!”, saya kira kita semua sudah bisa menilai bahwa orang yang bersangkutan telah melanggar salah satu etika dalam persidangan.
Biasanya, kalau seseorang sudah melanggar etika yang diatur dalam tata tertib sebuah sidang, seharusnya dikenai sanksi administratif. Tapi, entah bagaimana tata tertib sidang yang berlaku di Gedung Nusantara sana. Sebab, saya belum pernah membacanya dan juga belum pernah duduk di sana.
Semestinya, hal ini diatur dalam tata tertib dan bagi yang melanggarnya dikenai sanksi berupa sanksi administratif. Kalau tidak, bisa dibayangkan bila hal ini dianggap wajar dan seterusnya menjadi kebiasaan. Mau jadi apa para wakil rakyat kita tersebut?
mumpung masih anget.. tak Pertamaxxx i dulu ah.. hihihi..
[Reply]
kucrit reply on February 25th, 2010 2:58 pm:
keknya penunggunya masih jalan-jalan nih.. hehehe..
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 25th, 2010 3:04 pm:
Nebeng dah kalo gitu di Pertamax-nya…
[Reply]
Bener mas, etika dalam rapat memang harus tetep dijaga dan diamalkan. Dan setidaknya para pe”rapat” yang berada di gedung nasional bisa membedakan antara Sidang, Diskusi, Debat seperti yang mas jelaskan di atas. Karena masing-masing mempunyai proporsi sendiri-sendiri. Sehingga rapat bener-bener untuk rakyat bukan untuk pribadi atau golongan yang salah kaprah.
Mudah2an bener nih komengku.. wekekekekkeke…
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 25th, 2010 9:39 pm:
Komeng sampean udah bener kok, Crit…
[Reply]
rapat, diskusi, sidang atau apapun namanya yg melibatkan banyak orang utk diajak bertukar pikiran,dalam penyelesaian suatu masalah, tetaplah harus menjunjung tinggi kesopanan dan saling menghargai.
salam
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 25th, 2010 9:38 pm:
Setuju sekali, Bunda. Saya memberikan contoh yang spesifik pada etika sidang karena fenomena yang pernah berlaku di Gedung Nusantara beberapa waktu yang lalu. Mudah2an ada manfaatnya.
Salam hangat selalu buat Bunda sekeluarga…
[Reply]
izin komentar kanda….
mungkin ada sedikit ketidaksepakatan dalam tujuan diskusi yang kanda maksudkan…. tujuan diskusi itu menurut aku adalah utk menemukan masalah, mencari sebab nya dan solusi penyelesaiannya… bukan mencari kebenaran…
karena kebenaran itu sesuatu yang relatif, tidak absolut dimiliki oleh manusia. setiap orang memiliki point of view yang berbeda dalam melihat sebuah masalah, dan hal itu lah yang akhirnya membuat terjadi perbedaan pendapat itu.
dan soal etika,,, sepakat sekali kanda. tidak hanya saat sedang diskusi, debat atau sidang saja. etika tetap harus menjadi prioritas penting dalam sebuah interaksi sesama manusia.
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 25th, 2010 4:43 pm:
Oleh sebab itu, kebenaran yang tertulis di atas kan dalam tanda petik, Deny. Mencari sebab dan solusi dari sebuah masalah itu juga pada hakikatnya menggerakkan manusia menemukan “kebenaran” dari masalah tersebut. Hanya sebatas itu saja, sebatas usaha manusia, pada waktu itu saja, dan untuk lingkungan itu saja. Jadi, kebenaran yang ditemukan dari hasil diskusi atas sebuah masalah itu, boleh jadi, hanya bersifat parsial dan sementara. Selebihnya, kita pasti sepakat, bahwa sepenuhnya kebenaran hakiki itu berasal dari Tuhan.
Trims sudah mengoreksi dan menambahkan, Deny…
[Reply]
ulasan yang menarik bro,,
memang perlu dijernihkan letak persoalannya..
kadang orang banyak yang lupa bahkan gak tahu.
bagaimana etika itu perlu dijalankan,
tanpa kehilangan kecerdasan dalam menyelesaikan masalah.
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 25th, 2010 9:35 pm:
Trims sekali, Bro. Mudah2an tulisan ini ada manfaatnya…
[Reply]
hi…my friends
is my first time to visiting her…, wow this is great writing, I have not read that as good as this. and I agree with very good writing. keep on blogging my friends. can we link x-change with me. tell me ok.
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 27th, 2010 1:25 am:
Trims sekali atas apresiasinya. Salam kenal dan Selamat Datang di Sudeska.Net…
[Reply]
Tumben kali ini tulisannya serius buanget, Bang. Apa gara-gara habis mudik kemarin itu?
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 25th, 2010 9:34 pm:
Ah, masa sih, Mas Alam? Rasa2nya biasa2 aja kok. Emang selalu seperti ini kan? Hehehe…
[Reply]
bagaimanapun sebagai orang timur sepantasnya dalam perkumpulan yg melibatkan orang banyak, sopan-santun dalam bertutur kata tetap dijunjung tinggi
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 27th, 2010 12:56 am:
Setuju sekali, Mas…
[Reply]
wouw.. saya perlu tambahan energi untuk merespon tulisan anda kali ini.
tapi sebenarnya saya sudah menemukan semacam pesan-pesan padat di setiap deskripsi yang mas Khery paparkan.
saya hanya ingin menambah dukungan pada poin “etika”. bahwa etika disini akan sangat menentukan penerimaan seseorang atau khalayak. apalah dalam ruang diskusi, keterlibatan dalam sebuah perdebatan adu argumentasi dan benturan intelktualitas lainnya, efek penerimaan logisnya akan sangat di pengaruhi oleh seberapa besar kita menjaga nilai-nilai etika.
misalkan jika saya mengatakan bahwa “mencuri karena terpaksa” itu bisa di benarkan. Dengan argimentasi yang bisa menyentuh sisi “human interest”, dan memegang teguh prinsip moralitas, ada kemungkinan argumentasi saya di terima. atau setidaknya bisa di maklumi.
*disinilah kekuatan etika bisa di manfaatkan.. ini akan sangat terkait dengan teknik berdiplomasi
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 27th, 2010 1:01 am:
Moga maksud “tambahan energi” yang Abang sebutkan tersebut tidak berarti bahwa tulisan ini “sulit dipahami”. Hehehe…
Trims sekali ata “penguatan” yang Abang berikan pada point etika tersebut, Bang. Dan saya sangat setuju sekali etika bisa menjadi entry point saat berdiplomasi dengan hasil yang memuaskan…
[Reply]
fadly muin reply on February 27th, 2010 1:23 pm:
justru karena deskripsinya sudah padat, jadi saya perlu menguras pikiran mencari elah yang maish kosong
etika memang memainkan peranan penting. halus tapi berdampak luar biasa mas Khery
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 28th, 2010 9:51 pm:
Setuju!
nantinya kembali ke kesadaran dir masing2
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 27th, 2010 12:47 am:
Betul, dan seharusnya memang begitu…
[Reply]
Untung pas pemilu kemarin saya nggak milih anggota dewan yang teriak “Bangsat Kau!”
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 27th, 2010 12:46 am:
Waakakakaka….
[Reply]
mungkinarti debat kusir perlu didefinisikan juga.. selama masih logis dan tidak melanggar etika saya rasa belum masuk ke dalam koridor debat kusir…
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 27th, 2010 12:54 am:
Setuju sekali, Mbak Arianti. Debat kusir itu adalah debat yang tidak menggunakan logika dan tidak beretika dalam menyampaikan gagasan, serta orang yang debat kusir itu sebenarnya tidak berniat untuk debat; hanya ingin mengacau dan meracau. (Meracau=bicara ngelantur, ngalor-ngidul kaya orang menggigau-red.)
Memang, konsekuensi sebuah debat akan sangat banyak menguras energi saat mengumpulkan logika argumentatif dan mengelola emosi. Itulah tantangan sebuah debat. Kalau tidak siap untuk itu, sebaiknya memang tidak usah berdebat…
[Reply]
Wow, pemaparan yang lengkap sekali mas khery. Setelah baca artikel diatas, sepertinya ada keterkaitan antara sidang, diskusi, debat dan etika dalam sidang. Jadi sebenarnya dalam sebuah sidang sangat wajar akan ada diskusi dan debat dari para audience nya…Tapi alangkah baiknya bila argumen-argumen yang dikeluarkan harus tetap menjunjung tinggi etika dan asas saling menghargai pendapat.
Sharing yang menarik mas,
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 27th, 2010 1:05 am:
Oleh sebab itu, tujuan dari ketiganya harus benar-benar dipahami. Trims sekali, Mas Ricky…
[Reply]
wahh om om wakil rakyat harus tau nuy etika berdebat yang baik orang ditonton ajah keke gitu apalagi klo tidak
berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasih
salam sukses
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 27th, 2010 2:40 am:
Sip!
[Reply]
tukeran link yuk
http://journal-indonesian.blogspot.com/
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 27th, 2010 2:49 am:
Boleh, Mas. Dengan catatan, konsisten ngeblog dan konten positif. Udah dipasang…
[Reply]
yang lagi duduk manis di Gedung nusantara kemaren itu dari rumah pasti sudah siap2 bawa okol dan dengkul bukan akal. Sebab, jika yang dibawa adalah akal, pastilah akan terjadi perdebatan yang adem ayem.
Bukannya malah, seperti yang dijelaskan diatas, menyerang hal yang bersifat pribadi pada seseorang, menyinggung atau mengejek cacat fisik seseorang, mengucapkan kata-kata kotor atau tidak pantas, dan lain-lain.
Byuh byuuh byuuuhh…. opo pantes ngono kwi?
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 27th, 2010 1:06 am:
Hehehe… Tentu saja kita berharap tidak demikian kenyataannya, Mas. Semoga!
[Reply]
ikut menyimak danterima kasih
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 28th, 2010 10:13 pm:
Semoga bermanfaat, Pak Narno…
[Reply]
Kalau udah terbawa emosi kadang-kadang bisa lupa dengan peraturan dan akhirnya menjadi debat kusir…. mampir di blog baru saya yah…
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 28th, 2010 10:11 pm:
Itulah tantangan sebuah debat, Mas. Debat memerlukan keterampilan dalam memuat argumen yang logis, kecerdasan dalam mengelola emosi, dan penguasaan diri menghadapi suasana dalam perdebatan. Makanya, debat itu juga untuk menggugah pikiran, mengoreksi hidup, dan menjadi bijak setelah itu, sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas.
Jika sudah berdebat, akan sangat banyak sekali energi yang terkuras. Kalau tidak siap dengan konsekuensi itu, sebaiknya tidak usah berdebat…
[Reply]
Salam kenal Mas Khery.Ya, dalam sebuah forum, sidang, rapat atau apapun namanya yang terkait dengan hubungan antar manusia langsung atau tidak langsung. Ucapan/tulisan yang tidak sesuai dengan budaya/harkat manusia dimanapun, sangat patut untuk dihindari. Apalagi dalam forum terhormat dan resmi yang difasilitasi Negara. Salam Sukses.
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 28th, 2010 10:12 pm:
Saya setuju, Mas. Salam kenal kembali…
[Reply]
Maaf saya ada undangan disini
Ada PR Untuk Anda Disini
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 28th, 2010 10:16 pm:
Makasih atas PR-nya, Pak Dadang. Mudah2an, kalo ada kesempatan, nanti akan saya kerjakan…
[Reply]
berkunjung lagi kesini mas khery, setelah sekian lama absen dan baru tahu juga klo udah migrasi ke wordpress.
debat, sidang, rapat, ataupun diskusi atau apa sajalah namanya, bagi saya harus tetap bisa menjunjung tinggi kebersamaan, jangan hanya membawa satu bendera saja. sehingga kesepakatan yang mungkin dihasilkan adalah buah pemikiran bersama, dan tidak adalagi perasaan terdzalimi dan di dzalimi.
ngomong2 soal sidang amit2 deh klo sampe ada yang bilang”bangsat kau” apalagi sampai naik meja. klo spt itu saya fikir belum layak jadi pemimpin mungkin lebih layak jadi preman.
maaf mas komengnya terlalu panjang!!!
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 28th, 2010 11:06 pm:
Blog Sudeska.Net ini terbuka terhadap pendapat yang panjang lebar dan moderat terhadap perbedaan pendapat, Mas Andrik. Maka, jangan sungkan2 untuk berkomentar panjang lebar. No Problem!
Saya kira, soal kebersamaan pada ketiga hal itu ada proporsinya sendiri. Pada sidang dan debat, tak jarang – atau boleh juga dibilang sudah lazim – setiap kelompok atau organisasi membawa kepentingan masing-masing. Agar kepentingan itu bisa tercapai, maka berbagai strategi dan taktik dimainkan. Hal itu wajar saja. Namun demikian, apapun strategi dan taktik yang dimainkan, bukan berarti menghalalkan segala cara. Semua itu memerlukan sebuah etika yang santun agar sebuah kepentingan itu bisa diraih dengan cara terhormat, kalau sekiranya semua kepentingan tak bisa diakomodir. Untuk hal itu diperlukan teknik berdiplomasi yang piawai sebagaimana yang telah dijelaskan Bang Fadly Muin di atas…
[Reply]
nya… susah pisan ngabenten keuna….
[Reply]
kalau tidak punya pendapat, sy lebih baik diam, manggut-manggut saja dalam rapat …
seperti saat ini cuma bisa manggut-manggut …..
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 28th, 2010 10:19 pm:
Berpendapat atau tidak berpendapat itu kan sebuah hak, Mas Nug…
[Reply]
hpnugroho reply on March 3rd, 2010 10:20 pm:
tapi lebih baik diam mengikuti rapat/debat dengan seksama khan daripada walkout karena pendapatnya berbeda dengan yang lain atau merasa kalah dalam debat …
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 5th, 2010 1:45 am:
Waakakakaka…, betul juga…
Sebenarnya dalam sebuah rapat selalu ada moderator atau ketua sidang yang biasannya berfungsi sebagai penengah atau mengarahkan kemateri awal persidangan jika sudah ada yang keluar jalur terlalu jauh.
Mengeluarkan kata-kata yang tidak patut dalam sidang atau rapat secara langsung menunjukan siapa dirinya.
Pengalaman saya enak bersidang atau rapat dengan orang yang pintar dari pada yang berlagak pintar.
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 28th, 2010 10:37 pm:
Ketua atau Pimpinan Sidang (Rapat) itu adalah salah satu dari yang dinamakan “Perangkat Sidang”, Mas Aldy. Dan “mengarahkan” itu hanya salah satu dari tugas Pimpinan Sidang. Materi penjelasan untuk hal itu dinamakan Teknik Persidangan. But, pada kesempatan ini, saya tidak sedang mencoba untuk menjelaskan hal itu lebih jauh. Saya baru hanya mengungkap sebuah “Pengantar Ringkas” saja tentang ketiga hal yang telah saya sebutkan di atas. Jika saya jelaskan semua disini, maka tulisan ini akan menjadi sangat panjang. Mungkin, di lain waktu, jika memang dirasa perlu, boleh juga saya buat tulisan untuk itu.
Dan, soal mengeluarkan kata-kata yang tidak patut itu memang “tercela” dalam sidang atau rapat manapun. Oleh sebab itu, peserta atau anggota rapat semestinya adalah utusan yang terdiri dari “orang-orang pilihan” dalam sebuah organisasi…
[Reply]
Berkunjung malam mas khery .. tetep semangat
[Reply]
Khery Sudeska reply on February 28th, 2010 10:41 pm:
Insya Allah, selalu bersemangat, Mas Teten…
[Reply]
ku ga begitu peduli rapat..masa bodoh ah mau rapat kayak apa apalagi pansus sentury yang hanya mengedepankan hak sendiri untuk menyampaikan ide
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 3rd, 2010 12:26 am:
Nilai luhur budaya dan bahkan agama amat menyuruh bahwa mengambil keputusan itu perlu dengan musyawarah dan kemufakatan. Hanya saja, etika dalam rapat atau musyawarah itu yang mesti dijunjung tinggi. Berikut ini ada ungkapan adat dalam pantun:
Wahai ananda dengarlah amanat
jangan sekali meninggalkan mufakat
elok berunding sebelum berbuat
supaya kerjamu jadi selamat
Wahai ananda dengarkanlah petuah
dalam berunding janganlah lengah
lapangkan dada lembutkan lidah
mana yang baik jangan dibantah
Dalam kitab suci sendiri silakan dilihat tentang pentingnya bermusyawarah ini…
[Reply]
Artikel yg sangat panjang boz…
Saya setuju sekali memang dalam segala hal yang sangat di sukai oleh semua orang adalah kebebasan dan bila di kaitkan dalam masalah ini semua orang memang di bebaskan untuk berpendapat selagi pendapat itu tidak melenceng dari aturan-aturan yang melanggar hukum-hukum yang ada,perbedan pemdapat adalah rohmah
Betul nggak?…
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 3rd, 2010 12:28 am:
Semoga saja, Mas Rizdan…
[Reply]
tampaknya siang ini sidang tsb tambah meracau, sudes.. ikutan pusing niyh bundo
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 3rd, 2010 12:31 am:
Soal kejadian itu, saat ini, aku tak mau memberi penilaian dulu, Mande. Memberikan penilaian dalam hal ini sangat rentan akan tarikan politiknya. Jadi, No Comment dulu lah…
[Reply]
jadi ingat waktu kuliah dulu mas…
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 3rd, 2010 12:32 am:
Ah, Mas Berry. Masa sih?
[Reply]
mampir lagi mas,, wakh debat yah…hmmmmm tadi liat di tepe…DPR/MPR debatnya kek anak balita yah….hehehehe
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 3rd, 2010 12:33 am:
Soal itu, saya No Comment dulu…
[Reply]
telat diriku datang kemari he he, beberapa hari off banyak ketinggalan Mas ….
repot memang yang tidak bisa menahan emosi manakan ada perbendaan pendapat ini. Sayapun kadang suka hanyut dan masih belum bisa mensikapi emosi ini dengan baik
Namun ada sedikit catatan harusnya ketika skalanya tinggi dan ketika berdebat serta mempertahankan perndapat bersikap lebih bijaksana mungkin akan lebih dihormati
[Reply]
[...] dalam pengertian dan tujuan, memang sangat berbeda dengan rapat dan diskusi. Rapat bertujuan untuk mencari keputusan. Diskusi [...]
[...] tak mengherankan bila percakapan dan debat – dengan sikap yang membela rakyat – yang kita ikuti di koran dan televisi selama ini, [...]
[...] seorang laki-laki lain, berwajah Mongol, mendebat pendapat orang itu. “Tidak! Teknik itu cuma [...]