Filed under Menulis
Tentang Sebuah Tulisan
Mungkin, Milan Kundera benar, bahwa “tugas manusia bukanlah untuk menaklukkan masa depan, tapi menciptakan sejumlah kenangan yang dapat disebut dengan manis pada masa mendatang”.
Sudah menjadi takdir, perjalanan sejarah seorang manusia di muka bumi, dibatasi oleh ruang dan waktu. Ruang yang terbatas oleh kemampuan untuk menjangkaunya dan waktu yang terus saja berjalan, tak mengenal kompromi, tak tertaklukkan oleh kemampuan manusia yang nisbi. Hingga, akhirnya ia bertemu dengan kematian. Dengan cara seperti apakah manusia mencoba memperpanjang usia?
Agaknya, tawaran dari Francis Bacon ini menarik, bahwa manusia boleh mati, tapi ia bisa memperpanjang umurnya jika ia meninggalkan sesuatu yang “abadi”, yakni sebuah karya. Karya itu bisa berupa sebuah tulisan, buku, sebuah novel, atau mungkin puisi.
Lebih jauh, sejarah membuktikan, sebuah karya yang terbuat dari pengetahuan dan kearifan memiliki kemungkinan bertahan lebih besar dari hasil-hasil karya yang lainnya semisal monumen istana, candi, atau sebuah kota. Maka, sampai di tahap ini, tak syak lagi, pentingnya posisi manusia yang mempunyai karya tulis itu. Karya inilah yang membuat seorang manusia dapat bertahan lebih lama ketika melawan waktu.
Pertanyaan yang sering mengusik kemudian adalah “sudahkah kita membuat tulisan yang berguna atau tidak?” Untuk memperoleh jawaban yang pasti soal ini pun menjadi relatif. Kebergunaan sebuah tulisan itu pun dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Pada ruang atau lingkungan tertentu, boleh jadi tulisan kita tersebut dianggap bermanfaat. Tapi, pada lingkungan yang lain, mungkin saja akan menganggap bahwa tulisan tersebut sama sekali tak bernilai guna.
Dan, soal waktu, betapa sejarah membuktikan bahwa karya-karya Leonardo Da Vinci tentang anatomi tubuh dan pesawat terbang pada masanya dianggap “sampah”. Da Vinci dianggap nyeleneh, mempunyai kelainan, bahkan dikatakan sudah gila. Puluhan tahun kemudianlah baru orang tahu manfaat karya Da Vinci tersebut.
Belum lagi, kalau kita mau mengukur sejauh manakah manfaat puisi-puisinya Chairil Anwar bagi orang banyak? Seberapa pentingkah Tetralogi Buru-nya Pramoedya Ananta Toer bagi kehidupan manusia? Tak ada jawaban yang pasti. Yang saya yakini, Chairil dan Pram sudah mencoba untuk membuat sebuah karya yang berguna. Oleh karenanya, kalau mau kita anggap kebergunaan sebuah tulisan itu sebuah masalah, saya sepakat dengan Deny Rendra, bahwa manusia itu memiliki point of view yang berbeda terhadap sebuah masalah, kebenaran penilaian itu tidak absolut dimiliki oleh manusia. Ia relatif, karena manusia itu nisbi.
Maka, soal perasaan tulisan itu telah berguna atau tidak, saya sependapat dengan Chaidir – penulis buku 1001 Saddam – bahwa perasaan serupa itu tidak relevan untuk dipelihara.
Jadi, yang saya tahu, menulislah dan teruslah menulis. Dalam menulis itu pun kita akan belajar menulis, menemukan karakter tulisan masing-masing kita yang unik. Sebab, belajar dari pengalaman dan peristiwa sudah merupakan kecenderungan manusia. Tidak ada yang lebih pandai untuk mengajarkan bagaimana cara menulis kepada anda selain diri anda sendiri. Memberi respon dan mencurahkan isi hati (self disclosure) dalam sebuah tulisan itu sangat penting bagi kesehatan tubuh. Setidaknya, begitu kata James W. Pennebaker dalam “Ketika Diam Bukan Emas”.
Akhirnya, apa yang dikatakan Al Azhar – sarjana tamatan Universitas Leiden – berikut ini pun benar adanya. Bahwa “…setiap orang yang memutuskan untuk menulis, senantiasa menaruh harapan kesejarahan; memperpanjang atau mengekalkan usia atas apa-apa yang pernah dialami, gejala, fakta, imajinasi, dan sebagainya… dan sebagainya…”
Apa khabar mas khery…
minggu ini banyak yang memberi ilustrasi tentang menulis yah mas
menulis ini memang memendam rasa yang misterius. ada rasa nikmat, keingin-tahuan, percakapan internal. hal-hal yang selalu memancing kita untuk berungkap,berfikir, merenung, menyadari.. fuih…! banyak deh pokoknya
bayangkan, walau seorang terkesan diam, tertutup, introvet. tapi di balik tulisannya tersimpan Sejuta Rasa yang selalu bergelora, membara, membakar. aneh memang.. tapi tetap nikmat
*yuk terus menulis..
[Reply]
kucrit reply on March 3rd, 2010 3:57 am:
ayuks…
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 3rd, 2010 12:46 pm:
Bang Fadly, kok komengnya kalem amat kali ini?
Tulisan ini justru terinspirasi dan mendukung tulisan Abang. Walau ada perbedaan sudut pandang sedikit, tapi saya kira tidak terlalu substantif.
Atau karena saya tidak komeng banyak di tulisan Abang tersebut sehingga menyebabkan Abang ragu akan keselarasan pendapat kita berdua? Namanya juga kan trackback, komeng jarak jauh…
[Reply]
fadly muin reply on March 3rd, 2010 9:22 pm:
sesekali memberi kebebasan kepada diri sendiri untuk sekedar melonggarkan syaraf2 mas Khery:D
tidak ada unsur simbiosis engatif disini kok
semata-mata karena memang lagi kalem aja mas..
Tulisan mas khery selalu menginspirasi saya loh…
suer deh!
[Reply]
Bundapreneur reply on March 4th, 2010 4:53 am:
Kedua maestro dalam filsafat menulis saling memberi komentar….wew,,,,sedikit menaikkan alis..hehehe
Bundapreneur reply on March 4th, 2010 4:56 am:
Wew,,,kedua maestro filsafat menulis saling memberi komentar…..
Khery Sudeska reply on March 4th, 2010 10:46 pm:
Ah, yang bener? Apa nggak kebalik? Justru saya yang merasa selalu terinspirasi oleh tulisan2 Abang yang begitu motivatif membakar semangat saya. Saya selalu menemukan unsur yang jelas pada setiap tulisan abang atas apa yang selama ini saya anggap kabur. Sebagai misal, penjelasan “tentang kesuksesan” itu…
Khery Sudeska reply on March 5th, 2010 1:29 am:
@Bundapreneur: Jangan bikin kami berdua jadi malu, Bunda
fadly muin reply on March 4th, 2010 11:53 pm:
OK deh.. deal!
Malu di perhatiin sama Bunda mas..
intinya saling belajar dari sudut pandang yang beraneka ragam..
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 5th, 2010 12:49 am:
Waakakakak…. Masing2 kita saling punya kekurangan dan kelebihan, Bang. Ada benarnya juga si Kucrit tentang Analisis Internal Vs Eksternal…
Indo Hijau reply on March 5th, 2010 3:50 pm:
Boleh Nimbrung ?
Maaf kalau nggak sopan main slong boy sahaja.
Saya tidak bisa membayangkan jika Mas Fadly, Mas Sudeska dan Bunda memiliki sudut pandang yang sama persis.
Saya melihatnya justru disinilah letak dinamika sebuah pendapat (artikel). Apalagi jika kemudian saya juga hanya manggut-manggut seperti jaran habis melahirkan, tidak ada makna dan dinamika yang kita dapatkan.
Beda pendapat ?
Kenapa tidak, kalau kita semua satu pendapat, percayalah suatu saat nanti hanya akan ada satu blog saja diranah maya ini.
Salam.
fadly muin reply on March 5th, 2010 5:08 pm:
@indo Hijau: tepat sekali, itulah dinamika yang semakin memperkaya cakrawala seseorang. berdiri pada satu sudut saja, hanya akan memberikan satu sudut pandang pula.
keberagaman dan keriuhan pendapat, akan semakin memperluas, memperdalam dan mempertajam penerimaan seseorang akan “sesuatu”.
Trims pendapatnya, salam kenal yah
Khery Sudeska reply on March 7th, 2010 9:54 pm:
@Bang Fadly dan Indo Hijau: Kalau nggak salah Indo Hijau ini punya Mas Aldy, ya? Trims banget atas tambahan opininya. Saya setuju!
Indo Hijau reply on March 8th, 2010 5:19 pm:
Yah rahasia saya kebongkar lagi, tapi memang disana ada halaman about yang menjelaskan pemiliknya kok
sepertinya tulisan-tulisan di blog ini pun akan menjadi kenangan mas..
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 3rd, 2010 4:00 pm:
Asal maksudnya jangan nyuruh saya cepet mati, Crit. Weekekeke… Mudah2an sebelum saya mati pun sudah dapat dikenang…
[Reply]
(maaf) izin mengamankan KEEMPAT dulu. Boleh kan?!
Semoga tulisan2 kita lebih kekal dari usia kita
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 3rd, 2010 4:02 pm:
Sepertinya, Mas Alam terbawa banget dengan suasana posting ini…
[Reply]
maka aku pun menulis. Mungkin adanya belum bermakna bagimu, tapi semua itu penting bagiku..
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 3rd, 2010 4:07 pm:
No… no… no… Untuk Mande tahu, aku telah hampir habis melahap semua tulisan Mande di Ladang Ilalang dengan gaya kadang wibawa, kadang nyeleneh, kadang becanda, kadang ntah apa itu.
Aku sangat menikmatinya pada waktu2 senggangku.
Cuma, jujur aja, belum semua habis kubaca. Masih ada beberapa kategori lagi yang belum kulahap. Masih menjadi PR bagiku. Bila senggang nanti, akan segera “kuhajar” tuh tulisan…
[Reply]
Semoga saya lebih mantap lagi untuk menulis.
Setelah baca ini artikel
Mantap
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 3rd, 2010 4:08 pm:
Mudah2an aja, Pak Dadang. Emang saya “guru nulis” neh?
[Reply]
Salam hangat dan semoga sukses
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 3rd, 2010 4:10 pm:
Salam hangat dan sukses juga selalu buat Pak Dadang sekeluarga. Semoga senantiasa dalam lindungan Allah Swt. Amin…
[Reply]
keep on writing…
i love writing
visit my blog here budaya indonesia
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 3rd, 2010 4:11 pm:
Wokey, My Friend!
[Reply]
banyak manfaat ketika kita menulis suatu tulisan..
saya merasa kemampuan menulis saya meningkat dalam ngeblog, sehingga berimbas ke penulisan yang lain..
ngintip tulisan saya yang pertama di blog dengan tulisan saya yang sekarang banyak sekali perbedaan..mungkin pola pikir juga ikutan berkembang ya..
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 3rd, 2010 4:12 pm:
Setuju sekali, Mas Anno. Mudah2an kita semua akan selalu berkembang lebih baik lagi nantinya…
[Reply]
Tulisannya bagus sekali mas. Saya suka sekali dengan pendapat yang dikemukakan oleh Francis Baron, meskipun baru pernah mendengar sosok tersebut tapi kata-katanya sangat mengena.
Memang umur manusia tidak bisa abadi, akan tetapi seorang manusia bisa tetap abadi dikenal sepanjang masa lewat karya-karyanya. Maka itu melalui tulisan yang berkualitas kita bisa membuat sesuatu yng berarti untuk orang lain.
Sharing menarik mas
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 3rd, 2010 4:15 pm:
Kalo untuk mengatakan tulisan itu telah berkualitas atau berguna itu relatif sekali, Mas Ricky. Yang jelas, kita terus berusaha untuk memberikan dan membuat sebuah tulisan yang bermanfaat. Semoga!
[Reply]
saat ini pun aku melakukan hal yang senada, terus menulis menulis dan menulis, walau mungkin orang lain belum bisa mengambil mnfaat dari tulisan q setidaknya aq sudah bisa membuat bangga diriku sendiri, dan mudah2an kelak apa yg aku tuliskan bisa menumbuhkan manfaat bg orang lain.
artikelnya mantab mas, memberikan suntikan motivasi agar senantiasa terus menulis. thanks
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 3rd, 2010 6:59 pm:
Dan, awalnya, dengan tulisan ini pun saya hanya belajar dan mencoba menulis saja, Mas. Dan saya tak tahu kalau tanpa sengaja rupanya Mas Andrik termotivasi karenanya. Hehehe…
Jujur, saya pun hanya mencoba belajar menulis dengan tulisan ini…
[Reply]
Menurutku tulisan hanya salah satu media saja, sudahkah anda membuat sesuatu yang berguna buat dunia lebih enak buatku… karena barang berguna itu tidak harus menulis. Orang yang berkompeten di bidang olah raga juga harus dihargai bila dia mengharumkan nama bangsa, tidak harus lewat tulilsan. Menurutku sih….
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 3rd, 2010 6:55 pm:
Setuju sekali, Mbak Ari. Perkara membuat sesuatu yang berguna tentu saja tidak hanya menulis saja. Masih banyak yang lain. Dan untuk hal itu, kita mesti memberi apresiasi yang pantas.
But, kalo perkara dikenang lebih lama itu memang lebih banyak tertuju kepada orang2 yang pernah mencurahkan gagasannya melalui tulisan. Nama mereka tetap hidup dan terkenang sampai kini, walau mereka berasal dari masa ratusan tahun yang lalu. Mungkin itu yang dimaksud Francis Bacon dalam hal ini…
[Reply]
lha kalo tulisanya ngak ngenah kayak tulisan diriku gimana bos?
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 3rd, 2010 7:05 pm:
Siapa yang bilang tulisan Mas Suwung itu nggak ngenah? Dalam bergurau dan nyeleneh justru banyak sekali kritik sosial dan hikmah yang dipetik dari tulisan Mas Suwung. Saya justru salut banget dengan gayanya Mas Suwung. Tapi, saya nggak pernah bisa menirunya. Maka, saya pikir2, ya sudah… masing2 kita punya gaya yang beda. Saya nggak mungkin niru gayanya Mas Suwung…
[Reply]
soewoeng reply on March 7th, 2010 5:53 pm:
terimakasih atas pujiannya
duh berat bos pujianya…
soalnya diriku kalo nulis ngasal bos….
mengalir sajah….
dan bener kata kata mas kherry
“masing2 kita punya gaya yang beda”
dan harus menjadi diri kita sendiri ya bos
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 7th, 2010 10:36 pm:
Saya justru tidak memuji, Mas. Saya hanya menyampaikan realitas yang saya tangkap dari blog Mas Suwung…
Pengen juga jadi orang yang berguna bagi dunia, biar ga bisa nulis tapi namanya dituliskan di buku sejarah…
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 4th, 2010 11:12 pm:
Gimana caranya tuh, Mas Irawan?
[Reply]
Irawan reply on March 5th, 2010 10:28 am:
banyak kok, pahlawan kemerdekaan kita ga pernah nulis masuk tuh di buku sejarah… nabi juga ga menulis tapi dituliskan oleh sahabatnya menjadi hadis… dsb…
[Reply]
Milan Kundera dan Francis Bacon itu siapa ya mas… biar tahu juga…takutnya orang terkenal, masa saya gak tau..
saya habis ikut semacam workshop penulisan dan penerbitan… dan yang disampaikan percis sama yang mas Khery barusan samapaikan…
dan setelah saya membaca artikel ini yang terlintas dipikiran saya adalah :
* kalo selama ini, baca buku, terus seneng karena dapet ilmu baru, terus praktek, terus berhasil, rasanya seneng banget !!!
* nah apa yang bisa saya lakukan supaya orang-orang bisa juga merasakan hal yang sama… jarak, tempat dan waktu, mungkis bisa saja memisahkan wadah kita untuk berbagi ilmu, tapi dengan tulisan tidak !
I love this artikel…
you’re my best friend tooo…. ^-^
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 4th, 2010 11:09 pm:
Ah, masa Mas Khalid nggak tahu siapa Milan Kundera ama Francis Bacon? Atau pura2 nggak tahu? Di googling aja deh. Hehehe…
And, thanks atas tambahan pendapatnya. Btw, baru pulang workshop kiranya ya? Sukses terus Mas Khalid…
[Reply]
masih terus belajar bagaimana menulis yang baik..makasih sharingnya mas Sudes
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 5th, 2010 1:09 am:
Sama. Saya juga begitu, Mas…
[Reply]
menulis yang baik adalah impian semua orang, apalagi sampai tulisannya akan jadi kenangan sepanjang masa bak pujangga ternama.
sejauh ini cuma mencoba memberikan sesuatu hal yang bisa berguna, setidaknya buat diri sendiri sebagai ungkapan perasaan dan sumbang saran, tetapi entah dengan penilaian orang lain.
apakah tulisan kita bisa bermanfaat bagi mereka ? hanya mereka yang mengetahui,…
apakah akan jadi kenangan ? cuma waktu yang bisa menjawab,..
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 5th, 2010 1:12 am:
Komengnya terbawa “arus kepujanggaan” juga nih, Mas. Hehehe… Tadinya sempat ragu, ini komeng Mas Nug apa bukan? But, setuju banget!
[Reply]
dengan internet batas ruang dan waktu gak ada lagi…
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 5th, 2010 1:14 am:
Ah, nggak juga, Bro. Tetep aja ada batas ruang dan waktu itu. Kalo dah sampe masanya, tetep mati kita…
[Reply]
Menulis dalam bahasa sederhana saya adalah memenuhi sebuah ruang kosong dengan rangkaian kata, kalimat, paragraf akhirnya menjadi artikel.
Apakah punya makna ?
Tentu Mas Sudeska, minimal untuk diri sendiri. Jika perumpamaan diatas diambil dari “kegilaan”nya davinci, saya mengambil dari kalimat Bung Charil Anwar yang mahsyur “Bung Ayo Bung”.
Apakah sebelumnya kita tahu, jika kalimat itu sebenarnya berasal dari ajakan “WN” kepada tamunya yang datang berkunjung ?
Hari ini mungkin tidak berguna, tetapi setahun kemudian ? biarlah waktu yang akan menentukannya.
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 4th, 2010 11:43 pm:
Saya setuju sekali dengan pendapat ini, Mas. Untuk tahap awal, atau paling tidak, tulisan itu bermakna buat diri pribadi dulu. Selebihnya, waktu yang membuktikan. Insya Allah!
Btw, bagaimana pendapat Mas Aldy soal tulisan saya ini? Tidak terlalu rumit untuk dipahami kan? Soal gaya bahasa, ya demikianlah gaya bahasa saya. Itulah yang agak “dipersoalkan” orang selama ini bahwa dikatakan gaya bahasa saya “melangit”. Padahal memang sudah demikian gaya saya dalam menulis.
Ini bukannya saya sengaja untuk jadi seperti ini gaya tulisan saya, apalagi untuk dimaksudkan berniat “pamer”. Sama sekali bukan. Ini juga terpengaruh secara tak langsung oleh buku-buku dan gaya-gaya tulisan para penulis yang sering saya baca…
[Reply]
aldy reply on March 5th, 2010 3:40 pm:
Mas Sudeska,
Buat saya sendiri gaya penulisan mas Sudeska tidak “melangit ” dan mudah dicerna. Semuanya juga terpulang kepada backgroundnya masing-masing.
Gaya bahasa, tutur kata dalam menulis tidak akan pernah terlepas dari literatur yang kita miliki. Gaya membumi atau sedikit keatas bukan sebuah masalah. Ada kalanya sebuah artikel dengan sangat terpaksa harus dibahas secara teknis sehingga kesannya menjulang.
Ini juga pernah saya sampaikan di blognya Mas Fadli Muin.
Saya sudah mengeksplorer blog ini hampir mencapai 90% dan gaya ini selayaknya mas Sudeska pertahankan. Setiap blogger memiliki gayanya masing-masing.
Please be your self, take it easy and idiot ( meminjam istilah Mas Adi (Rismaka.net)).
[Reply]
iskandaria reply on March 6th, 2010 3:16 am:
@ mas Aldy :
Soal menggunakan istilah teknis sih memang ada kalanya tidak bisa dihindari. Itu bukan tergolong bahasa menjulang kalau begitu
Yang penting disesuaikan dengan konten yang hendak kita tulis dan segmen pembaca yang kita sasar saja deh. Saya kira itu sudah jelas.
Tambahan lainnya, silakan simak juga komentar saya di bawah komentar mas fadly.
aldy reply on March 6th, 2010 11:08 am:
@Mas Iskandar,
Benar Mas, bahasa teknis adakalanya sulit dihindari dan jujur saja bagi sebagian teman sulit untuk memahaminya dikarenakan background yang berbeda.
Saya juga sudah sangat banyak membaca artikel mas Iskandar baik diblog yang lama dan blog yang baru. Kembali kepada Gaya penulisan.
Mas Iskandar, Mas Fadly Muin dan Mas Sudeska mungkin sudah terlatih menulis artikel di kondisi offline sebelumnya dan sangat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan literatur yang digunakan.
Buat saya ketiganya memiliki tujuan yang sama, tetapi memiliki cara yang berbeda dalam penyampaiannya. Bagi saya pribadi, saya tidak terlalu kesulitan menterjemahkan secara visual tulisan ketiga Sahabat Blogger ini. Dan bisa saya pahami dengan cukup mudah.
Keinginan mas Iskandar agar artikel yang di tulis mengena dihati user dengan pola tulisan yang membumi sudah sangat baik.
Cara Mas Fadly Muin menulis yang menurut sebagian blogger membuat kening berkerut, menurut saya tidak ada masalah.
Gaya Mas Sudeska membuat artikel dengan bahasa yang bagi sebagian sulit dipahami, juga bukan cara yang salah.
Bagi saya, jika saya menemukan kalimat yang sulit dipahami, kenapa tidak menggunakan kolom komentar yang disediakan untuk mendiskusikan hal-hal yang tidak di Pahami ? Saya kira dengan cara ini justru kolom komentar menunjukan fungsi yang sebenarnya.
Aldy reply on March 8th, 2010 5:30 pm:
Well, baru disini saya menemukan sebuah diskusi panjang yang bersifat saling mengisi.
Sekarang saya ketemu batunya, berhadapan dengan rekan-rekan blogger yang mampu mengapresiasi perbedaan tetapi tidak merasakan perbedaan.
Sebuah pembelajaran istimewa buat saya pribadi. Mas Sudeska ( Maaf, saya selalu menghilangkan Khery-nya ), Mas Fadly ( without Muin ) Dan Mas Is ( nor kandar ), betapa menyenangkan berdiskusi seperti ini,
Selama ini baru tiga blog milik 3 sahabat ini yang selalu penuh dengan diskusi dan memberikan argumentasi dengan sudut pandang masing-masing.
Sepertinya saya masih harus banyak belajar.
Khery Sudeska reply on March 8th, 2010 10:47 pm:
@Mas Aldy, Hehehe… jangan terlalu memuji, Mas. Saya justru senang teman2 semua ikut menyumbangkan pendapatnya disini. Sungguh! Saya pandang itu sebagai apresiasi teman2 semua terhadap blog ini. Dan saya tidak ada masalah dengan perbedaan sudut pandang kita. Ini justru semakin memperkaya wawasan saya dan blog ini.
Soal panggilan, saya tidak ada masalah dipanggil Khery, Sudeska, atau Sudes sekalipun. Tidak masalah. Teman2 yang lain juga banyak memanggil dengan ketiga panggilan itu. Yang penting halal buat yang memanggil, baik buat yang dipanggil…
fadly muin reply on March 5th, 2010 5:27 pm:
senada dengan semangat mas Aldy..
apa yang kita baca dan bagaimana tulisan kita, akan bertemu pada titik selera si penulis mas Khery.
saya pernah meminta, pengunjung setia blog saya untuk memberikan pendapat tentang tulisan saya. alhamdulillah saya dapat umpan yang menggiurkan
saya semakin paham, dari sudut mana mereka menilai. ini sangat berharga buat saya.
lambat laut, seiring dengan waktu. sebagai penulis, kita akan menemukan “keasyikan” pada gaya menulis kita…
@mas Aldy, makasih sudah memberikan penilaian pada blog saya
[Reply]
iskandaria reply on March 6th, 2010 3:03 am:
Saya ikutan diskusi ya.
Menurut saya sih, tergantung niat utama kita menulis saja mas Khery. Kalau cuma buat memuaskan dahaga intelektual atau cuma buat aktualisasi diri, tidak masalah banget menulis dengan gaya menjulang. Lain soal jika kita ingin tulisan kita bisa bermanfaat atau menginspirasi pembaca.
JIka kondisinya begitu (ingin memberi manfaat bagi pembaca), sebaiknya gunakan pendekatan yang bisa dengan mudah dipahami oleh pembaca. Ini bisa diupayakan kok. Yang penting niat saja.
Jadi intinya kembali pada niat utama menulis saja. Apakah cuma buat kepuasan pribadi atau ingin berbagi manfaat buat pembaca.
Ini cuma pendapat dari seorang penulis kacangan lho.. Mas Khery bebas memilih kok.
Khery Sudeska reply on March 7th, 2010 8:08 pm:
Trims atas tambahan pendapat dari Mas Aldy, Bang Fadly, dan Mas Iskandaria…
Saya kira, saya tidak terlalu perlu untuk menambahkannya lebih jauh. Pendapat2 ini sudah cukup untuk melengkapi dan memperkaya sudut pandang kita semua. Saya sangat senang dengan pendapat ini dan sangat mengapresiasinya.
Saya juga tidak akan menyimpulkan, kita persilakan kepada pembaca untuk membuat kesimpulannya.
Yang lebih penting dari itu, mari sama-sama kita perkuat persatuan dan persahabatan kita bersama selanjutnya dengan semangat saling menghargai.
Sekali lagi, terimakasih untuk Mas Aldy, Bang Fadly, dan Mas Iskandaria. Saya sangat senang akan diskusi ini, dan maaf kalau saya terlambat nimbrung karena kesibukan aktifitas offline saya…
(Baru pulang dari survey ke pedalaman nih…
)
yang jelas menulis bermanfaat sekali bagi diri sendiri,kita menjadi terbiasa berpikir runtut, cermat serta meningkatkan kemampuan dan daya analisa kita. Ini yang saya rasakan selama ini.
Salam sukses.
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 7th, 2010 10:05 pm:
Wah, Mas Sugiana sudah sampai pada sebuah pencapaian yang tinggi dalam menulis. Mudah2an saya juga segera merasakan hal yang sama…
[Reply]
Filsafat menulis yg daleeem banget..
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 5th, 2010 1:23 am:
Jangan bikin saya malu, Bunda. Ketahuan nih ceteknya tulisan saya…
[Reply]
abadi karena karya-karya kita yang dimanfaatkan oleh generasi setelah kita
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 7th, 2010 11:02 pm:
Mudah2an harapan itu terjadi hendaknya, Pak Narno. Amin…
[Reply]
yoi mas.. harus belajar secara otodidak
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 7th, 2010 11:12 pm:
Yo-i, Rief…
[Reply]
Tajamnya tulisan kadang-kadang lebih tajam dari pedang yang paling tajam, ya nggak?
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 7th, 2010 11:17 pm:
Setuju, Mas…
[Reply]
Salam super-
Salam hangat dari pulau Bali-
saya percaya kalau banyak membaca akan bisa pula banyak menulis.
jadi untuk bisa membuat tulisan yang bermutu juga harus banyak baca sebelumnya,,,, setuju ???
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 7th, 2010 11:21 pm:
Setuju banget, Bang Andry. Tak saya ragukan sedikitpun…
[Reply]
buat menulis gayanya mas sudes impian suatu ketika aku pengen bisa , memang sementara ini , menulis hanya sebagai suatu kebutuhan saja, mungkin orang lain belum bisa menikmati gaya saya, terima kasih tulisan anda membuat saya ingin bisa lebih baik.
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 7th, 2010 11:27 pm:
Dengan tulisan ini, saya juga sedang belajar untuk menulis itu, Bu. Saya hanya fokus pada dua hal saja dalam belajar menulis ini; terus membaca berbagai referensi dan terus saja menulis. Identifikasi diri melalui tulisan akan terjadi dengan sendirinya selaras dengan itu. Itu sih hanya menurut saya saja, Bu…
[Reply]
Hmm, saya tertarik sekali dengan pernyataan sebuah karya yang terbuat dari pengetahuan dan kearifan memiliki kemungkinan bertahan lebih besar. Sengaja saya potong sampai di situ saja kutipan kalimatnya, sebab saya cuma ingin membandingkan dengan sesama karya yang berbentuk tulisan. Bukan dengan monumen istana, candi, atau sebuah kota..hehe
Kesimpulan saya, sebuah tulisan yang bernilai besar-lah yang akan lebih berpeluang untuk dikenang. Plus lebih mampu membawa pengaruh besar bagi para pembacanya. Dan itu bisa melampaui batas ruang dan waktu.
Tentunya makna “bernilai besar” di sini juga relatif. Dalam kaitannya dengan dunia blogging, tulisan yang bernilai besar bisa kita ukur dari kadar manfaatnya buat diri kita sebagai pembaca. Apakah kita memperoleh inspirasi untuk menjadi lebih baik lagi setelah menyimaknya? Apakah kita jadi termotivasi untuk berbuat sesuatu yang lebih baik? Apakah kita jadi memperoleh solusi praktis usai menyimaknya?
Atau apakah kita memperoleh informasi berharga yang selama ini kita cari-cari?
Nah, itulah sebagian dari cara untuk menakar kadar manfaat sebuah tulisan (posting) blog. Jadi mengukurnya kita kembalikan saja pada diri kita sebagai pembacanya. Jika disimpulkan, semakin banyak pembaca yang merasakan manfaatnya, maka semakin besarlah nilai tulisan tersebut.
Soal perasaan tulisan itu berguna atau tidak, memang sebaiknya tidak perlu terlalu kita pusingkan. Toh, yang jauh lebih penting untuk kita benahi (sebagai penulis) ialah niat atau motivasi di balik aktivitas menulis kita. Sebab segala sesuatunya berawal dari niat. Kalau niat kita memang positif atau tulus untuk berbagi sesuatu yang kita anggap “baik”, Insya Allah tulisan kita tetap akan bernilai-guna. Setidaknya bagi segelintir pembaca.
Niat yang benar dan tulus juga akan memberikan energi atau “ruh” tersendiri terhadap tulisan yang kita hasilkan nantinya. Dari situlah, energi yang kita salurkan secara tidak sadar tersebut akan turut mengalir atau dirasakan oleh pembaca.
Waduh, jadi kepanjangan nih Mas. Sorry yach. Saya kalo udah ngomentarin soal menulis dan blogging suka lupa diri..hihihi
(lupa diri kalau saya sedang menulis sebuah komentar, bukan posting blog)
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 4th, 2010 10:54 pm:
Tampaknya, anda perlu membaca sekali lagi tulisan di atas, Mas. Apa yang anda jelaskan disini justru mengulang-ulang apa yang sudah saya uraikan pada tulisan di atas.
Kalau boleh saya mencermati, anda mencoba untuk berpendapat berbeda dengan saya. Tapi, komentar ini justru mengulang apa yang telah saya tulis di atas.
Mohon baca baik-baik kembali, Mas…
[Reply]
wakh sungguh luar biasa analisanya mas……jadi paham setelah dua kali membacanya
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 4th, 2010 10:56 pm:
Ah, masa sih, Mas? Hehehe… Trims atas apresiasinya…
[Reply]
hemmmm……….. saya cuman bisa geleng2 kepala.
so tulisan2 saya ga mudah tuk dipahami seperti tulisan mas deska ni, sangat bermanfaat.
salam met malam met bobo2 met mimpi menulis
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 12th, 2010 9:55 am:
Trims sekali atas apresiasinya, Mas. Salam hangat dan semoga sehat senantiasa…
[Reply]
beruntung saya ngeblog sehingga saya bisa menulis
Bebas apapun yang bisa saya tulis 
Trims MAs, inspiratif
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 12th, 2010 9:56 am:
Saya juga merasakan hal yang sama, Kang…
[Reply]
Nyoba berkomentar lagi, apa masih ilang
Santai saja mas. Saya cuma berusaha mendalami ulasan di atas. Kalau saya dianggap tidak membaca ulasan di atas secara baik-baik, saya tidak mengerti deh. Sebab saya menyimak tulisan di atas secara berkali-kali, dengan perlahan.
Semuanya agar komentar yang saya tulis punya korelasi kuat dengan isi posting.
Kalau dianggap cuma mengulang, terserah saja. Yang jelas saya sudah berusaha mengapresiasi ulasan mas Khery dari bahasa/pendalaman saya pribadi.
Jujur saja, untuk mengomentari ulasan mas Khery di atas, saya butuh energi agak besar. Kenapa anda terkesan kurang menghargai waktu dan energi yang saya luangkan untuk mengomentari tulisan anda?
Bukan berarti bentuk penghargaan itu harus berbentuk sanjungan lho. Setidaknya kita tidak sampai menuding sang komentator tidak menyimak secara baik-baik tulisan kita.
Pesan saya, sebaiknya tidak buru-buru menuding sang komentator cuma membaca sekilas atau kurang menyimak secara baik-baik tulisan kita. Apalagi jika dia sudah berkomentar panjang lebar demi memperkaya isi konten.
Saya jadi serba salah nih. Apa perlu saya cuma ngasih komentar berupa sanjungan atau pujian demi menyenangkan sang penulis?
Mengkritik salah. Melengkapi juga salah. Saya jadi nggak ngerti nih jenis komentar macam apa yang bisa memuaskan pemilik blog ini…hehehe
Padahal saya jujur aja ingin lebih akrab dengan mas Khery melalui komentar-komentar saya di blog ini, terutama komentar yang melengkapi isi tulisan.
Saya kurang mampu jika cuma memuji atau menyetujui isi tulisan tanpa berusaha memperkayanya dengan pandangan sendiri, walaupun akhirnya dianggap cuma mengulang-ngulang
Peace ya mas..(jangan dianggap saya ngambek lho). Saya cuma ingin lebih akrab aja.
Oya, ada hadiah backlink buat blog ini di salah satu artikel saya (tentang komentar berbobot). Silakan diambil ya mas hadiahnya..
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 7th, 2010 7:37 pm:
Okey, kalau demikian. No problem.
Mungkin hanya terjadi sedikit “perselisihan” sudut pandang di antara kita dalam memahami komentar Mas Iskandaria sebelum ini. Sebelumnya, saya hanya mencoba memahami Mas mencoba untuk berbeda pendapat dengan saya tentang tulisan di atas menyimak dari cara Mas Iskandaria menulis komentar tersebut.
Kebetulan selanjutnya, saya tidak menemukan perbedaan pendapat yang substantib dari komentar tersebut dengan isi tulisan. Kecuali pada cara “menakar kadar manfaat” dari sebuah tulisan, tapi anda katakan itu kemudian juga “tetap relatif”, yang paling terpenting adalah “niat”, sama dengan pendapat saya. Maka oleh sebab itulah saya katakan, tidak ada celah perbedaan yang substantib dari komentar tersebut dengan tulisan di atas yang mesti saya jawab kemudian. Saya hanya ingin memastikan itu.
Saya juga tidak tahu kalau Mas Iskandaria ternyata mencoba untuk “mengapresiasi dan melengkapi” tulisan saya. Sebab, dari “cara” Mas Iskandaria berkomentar sepertinya ingin berbeda pendapat dari saya. Itu yang saya tangkap. Maafkan kalau ternyata saya salah memahaminya.
Perlu juga untuk diketahui, saya tidak masalah dengan komentar yang panjang lebar dan berbeda sudut pandang sekalipun kalau itu bisa menimbulkan diskusi yang menarik selanjutnya. Silakan saja.
Okey, saya kira No Problem. Peace!
O, ya… Trims juga atas hadiahya… Akan segera saya ambil. Insya Allah!
[Reply]
Oya mas, komentar saya di atas bisa dihapus jika kurang berkenan di hati. Saya ikhlas kok. Maaf ya kalau isinya rada gimana gitu..(mungkin mood saya lagi kurang baik saja).
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 7th, 2010 6:34 pm:
Peace, Mas Iskandaria…
Tidak apa-apa. No Problem! Saya orang yang sedari dulu sangat terbuka terhadap perbedaan pendapat. Tak ada yang perlu dihapus. Komentar Mas Iskandaria melengkapi dan semakin mewarnai beragamnya pendapat kita semua. Cuma, kalo boleh saya saran, sebelum membubuhkan komentar, Mas harapkan stabilkan mood dulu agar diskusi kita lebih gayeng. Hanya sekedar saran. Okey? Peace!
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 7th, 2010 8:13 pm:
O, ya… Mas Iskandaria… Saya juga minta maaf kalau sudah salah memahami maksud komentar anda sebelumnya. Once again, PEACE!
[Reply]
kalau begitu saya akan lebih sering membuat tulisan blog yang bermanfaat bagi orang lain ketimbang curhat. apa betul begitu?
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 12th, 2010 9:58 am:
Curhat itu juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh, Mas Hanif. Mana tahu dengan curhat tersebut malah terbantu teman lain yang kiranya punya persoalan serupa. Why not?
[Reply]
dan……….akupun mencoba terus menulis, walaupun masih dalam ranah pembelajaran terus menerus yg juga selalu terinspirasi tiap kali berkunjung kesini.
salam.
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 12th, 2010 10:00 am:
Trims sekali atas apresiasinya, Bunda. Dan sesungguhnya, tulisan demi tulisan di blog ini juga merupakan wujud saya belajar dari hari ke hari. Tak lebih…!
Salam hangat senantiasa buat Bunda sekeluarga…
[Reply]
mereka yang menulis itu sedang berbgi dengan apa yang diketahuinya, dirasakannya. Mungkin tidak berguna sekrang tetapi di masa depan akan menginspirasi orang lain.
[Reply]
Khery Sudeska reply on March 12th, 2010 10:01 am:
Saya kira, itulah cita2 kita semua, Pak Mandor. Semoga terwujud. Amin…
[Reply]
Tulisan yang bagus bro. Ini yang harus dieprhatikan oleh para blogger, karena saya melihat ada blogger yang hanya mementingkan unsur SEO artikel blognya……
[Reply]