Refleksi dan Catatan-Catatan Kecil

Filed under Wacana Umum

Etika Jurnalistik

Jujur saja, saya tak lagi terlalu ingat benar pointer-pointer dalam Kode Etik Jurnalistik. Pengalaman itu sudah cukup lama berlalu. Semasa menjadi mahasiswa beberapa tahun yang lalu, saya memang sempat berkecimpung di surat kabar kampus; menjadi seorang reporter, bahkan sempat sebentar menjadi Pimpinan Redaksi Sementara. Selebihnya, saya lebih banyak berkhikmad di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Namun, pengalaman mengikuti Diklat Jurnalistik Mahasiswa di kampus UNILA Bandar Lampung dan sedikit pelatihan pengambilan gambar bersama Bapak Chaerul Umam di Jakarta, membuat saya cukup tahu secara garis besar bagaimana jurnalistik bekerja dalam menyajikan berita.

Jurnalistik, pada hakikatnya, melupakan peristiwa di atas peristiwa. Ketika sebuah peristiwa baru diberitakan, maka pada saat itu pula kita – secara pelan-pelan atau spontan – dilupakan kepada peristiwa lain yang terjadi sebelumnya. Di saat ia mengingatkan kita akan sebuah peristiwa, di saat itu pula ia melupakan kita akan peristiwa yang lainnya. Demikianlah siklus ini berjalan terus dari hari ke hari, jam ke jam, detik ke detik.

Jurnalistik adalah “jembatan” masyarakat dengan sebuah kejadian atau peristiwa. Jika sebuah kejadian tidak pernah diberitakan melalui media, maka besar kemungkinannya masyarakat tidak akan pernah tahu bahwa kejadian tersebut pernah berlaku.

Jurnalistik tak hanya menyampaikan “kejadian pasif” seperti bencana gempa bumi atau peristiwa kecelakaan lalu lintas, tapi jurnalistik juga menyampaikan “peristiwa aktif” seperti perseteruan politik atau bentrokan polisi dan mahasiswa. Pada saat menyampaikan “peristiwa aktif” inilah sebuah perimbangan sumber berita dari kedua pihak sangat diperlukan. Jika tidak berimbang, maka itu akan mempengaruhi penilaian masyarakat terhadap berita tersebut, yang pada gilirannya juga akan berat sebelah.

Jurnalistik bukan pengadil atau hakim atas sebuah kasus atau peristiwa. Jurnalistik hanya menyampaikan fakta, masyarakat sendirilah yang akan menilai kejadian tersebut lebih lanjut. Oleh karenanya, dalam jurnalistik tidak dibenarkan memberikan penilaian atas sebuah kasus, kecuali penilaian itu berasal dari nara sumber wawancara.

Tidak dibenarkan membuat istilah, kecuali istilah itu berasal dari nara sumber. Contoh, dalam kasus bentrokan Polisi dan HMI di Makassar beberapa hari yang lalu, saya mendengar seorang reporter televisi ketika melaporkan aksi mahasiswa yang bersiap menghadapi pasukan polisi mengatakan, “…tampaknya mahasiswa sudah siap mencari gara-gara dengan Polisi…”. Padahal, pihak mahasiswa saat itu tidak pernah sekalipun menamakan aksi mereka sebagai “aksi mencari gara-gara”. Alangkah lebih baiknya bila dikatakan, “…tampaknya mahasiswa sudah bersiap dengan segala kemungkinan dan seterusnya… dan seterusnya…”.

Dalam menyampaikan peristiwa, jurnalistik harus menyampaikan kronologis detil peristiwa tersebut, jangan dipotong-potong. Contoh, masih dalam kasus kerusuhan Polisi dan HMI di Makassar, sebuah laporan mengatakan, “…tanpa alasan yang jelas, para mahasiswa menyerang dan merusak salah satu Pos Polisi…”. Padahal, kronologinya, mahasiswa melakukan perusakan Pos Polisi tersebut adalah buntut atau tindakan balasan karena dirusaknya sekretariat HMI oleh oknum polisi sebelumnya. Jadi, tindakan mahasiswa melakukan perusakan terhadap pos polisi tersebut bukan “tanpa alasan yang jelas”, tapi karena “dirusaknya sekretariat mereka” oleh oknum polisi sebelum itu.

Saya kira, juga sangat penting dalam jurnalistik untuk mewawancarai sumber yang berkompeten, jangan asal-asalan. Saya lihat, ini sering dilakukan oleh para wartawan infotainment. Contoh, ketika terjadi sebuah bencana alam, para wartawan infotainment sering menanyakan pendapat selebriti tentang bencana tersebut. Lalu, hanya dengan mengenakan celana pendek yang kelihatan pahanya – kebetulan selebriti itu seorang perempuan – sambil duduk bersila di atas kursi selebriti tersebut menyampaikan pendapat, “Yaa… ini sebuah peringatan dari Yang Maha Kuasa kali ya… bahwa kita mesti banyak bertobat…” dengan intonasi seenaknya, dan dengan lagak yang seenaknya.

Jelas sekali sikap dan pendapat selebriti tersebut sangat sangat tidak sesuai, apalagi bila mau dibandingkan dengan kejadian yang telah menelan banyak korban harta dan nyawa tersebut. Cukuplah berita infotainment tersebut hanya seputar hiburan saja, jangan memaksa untuk menghubung-hubungkannya dengan berita bencana alam hanya karena berita itu sedang booming untuk mencari popularitas berita.

Apa yang saya utarakan ini adalah koreksi atas apa yang pernah saya saksikan dalam “cara pemberitaan” selama ini dengan landasan pengetahuan saya tentang jurnalistik yang tidak seberapa ini. Sebab, menurut saya, apabila “cara penyampaian” sebuah berita itu salah, maka akan turut pula “membantu” salahnya penilaian masyarakat atas sebuah kejadian. Boleh jadi, bila itu sebuah kerusuhan, seharusnya bisa selesai dengan cepat, tapi akibat pemberitaan yang salah malah menjadi berlarut-larut dan merambat melibatkan elemen masyarakat yang lebih besar lagi. Dan, tentunya, kejadian tersebut akan berakibat lebih tidak baik lagi.

Demikianlah, untuk selanjutnya, mari kita diskusikan bersama-sama. Dan bila ada di antara teman-teman wartawan atau pun teman-teman yang berkecimpung kesehariannya dalam dunia jurnalistik yang sempat membaca tulisan ini, dengan rendah hati, saya mohonkan sumbang pendapatnya dalam diskusi ini selanjutnya. Saya juga mohon koreksinya jika ada pendapat saya yang salah. Trims… :)

Sumber gambar: daengbattala.com

58 Responses to “Etika Jurnalistik”

  1. dafiDRiau says:

    Izin Pertamax Bang

    [Reply]

    dafiDRiau reply on March 7th, 2010 9:39 pm:

    Dua point diatas memang benar bang, kadang2 mereka juga sering bilang ****** dalam tanda kutip. Ingat masa di Aklamasi ya bang

    [Reply]

    dafiDRiau reply on March 7th, 2010 9:40 pm:

    Bang saya heran kok setiap mo komen harus mengisi form, biasanya jika udah pernah komeng, form terisi sendiri kecuali isi komengnya, jangan2 ini bukan WP ya….

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 7th, 2010 9:45 pm:

    Ah, ini asli WP, Fid… :D Aku juga heran nih, aku juga begitu, selalu harus ngisi form dulu. Apa karena pengaruh theme kali ya? Sabar deh, nanti dicari theme lain. Theme ini juga nggak terlalu SEO Friendly kayanya, lambat diserap oleh SE, perlu 2-3 hari baru ke-indeks…

    Khery Sudeska reply on March 7th, 2010 9:48 pm:

    Maksudnya, apa nih, Fid? Saya belum terlalu ngerti soal komentar kedua itu… :)

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 7th, 2010 9:47 pm:

    Kalau gitu, aku juga nebeng di Pertamax, Fid… :lol:

    [Reply]

  2. setiap peristiwa yang terjadi sepantasnya dilihat dari segala sisi, agar bisa berimbang berita dan fakta yang terjadi di lapangan..

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 8th, 2010 10:36 pm:

    Sedapatnya begitu…

    [Reply]

  3. setiap pekerjaan harus dijalani dengan ilmu.
    menjadi jurnalis tak sekedar bikin berita yang bakal membuat heboh, ada tanggung jawab besar disitu. begitu ya sudes?

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 8th, 2010 10:40 pm:

    Aku hanya melihat ada beberapa kejadian yang diberitakan rasa2nya tidak berimbang. Ini baru sepengetahuanku saja. Maka itu, aku butuh pendapat yang lain; kira2 bagaimana dalam memandang hal ini…

    [Reply]

  4. fadly muin says:

    masih ada korelasi yah mas Khery dengan postinganku tentang brutalisme itu?

    hmm.. apa yah

    saya menangkap substansi dari pembahasan ini, bahwa “perlunya komposisi berimbang dalam menyajikan sebuah peristiwa”.
    sepenuhnya saya sepakati substansi ini mas.

    disinilah seharusnya daya kreatif jurnalis dipertaruhkan, bagaimana menyajikan sebuah berita yang optimal. walau mungkin sumber informasi tidak sepenuhnya bisa di peroleh, karena keterbatasan dilapangan.

    gitu dulu komenku mas :)

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 8th, 2010 10:57 pm:

    Jadi jurnalis itu memang sulit, bukan tugas yang mudah, karena saya pernah mengalaminya semasa mahasiswa. Walaupun pengalaman itu mungkin tak bisa disebut sebagai “jurnalis beneran”, tapi pengalaman itu cukup untuk membuat saya tahu betapa beratnya tugas seorang jurnalis. Karena itu, saya sangat mengapresiasi profesi jurnalis ini.

    Dan tulisan ini, walau ada sedikit memuat kritik, tapi juga sebagai bentuk apresiasi terhadap profesi ini.

    Apa yang saya sampaikan disini, hanya sebatas pengamatan dan pengetahuan saya saja, yang tidak seberapa… :)

    [Reply]

    fadly muin reply on March 9th, 2010 4:24 pm:

    pada akhirnya, nanti, professionalisme, idealisme, integritas dan tujuan yang baik, akan menjadi kiblat yang menonjol untuk para jurnalis kita mas Khery.. (harapan saya sih begitu)

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 9th, 2010 11:31 pm:

    Saya juga berharap demikian, Bang. Semoga!

  5. Pa Kabar Mas Khery?
    Moga sukses selalu!

    Dah lama ngga mampir nih, bahasannya kode etik jurnalistik. Mas Khery Wartawan ato pemilik perusahaan media komunikasi? :-)

    Maaf ya, soalnya belum ngubek-ngubek blognya Mas Khery nieh :-) Jadi belum kenal karakternya. Harusnya enalan dulu ya? :) )

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 8th, 2010 10:58 pm:

    Saya bukan wartawan atau pun pemilik salah satu media, Kang. Hehehe… Kalo soal profesi, Bang Fadly tahu tuh apa kerjaan saya… :D

    [Reply]

    fadly muin reply on March 9th, 2010 9:55 am:

    iya kenalan dulu mas :)

    Mas Khery ini seorang Dosen.. Tepatnya Dosen Populer.. :)

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 9th, 2010 11:30 pm:

    Wedew! Mati aku! :D
    Jadi dosennya aja baru 1,5 tahun, dan belum sempurna lagi. Udah dibilang dosen populer. Mati aku! :D

    [Reply]

    aldy reply on March 10th, 2010 12:09 am:

    Untuk menjadi populer tidak dibutuhkan waktu yang terlalu lama.
    Yang disampaikan Mas Fadly harus saya amini.

    Khery Sudeska reply on March 10th, 2010 1:03 am:

    @Mas Aldy, Weekekeke…. Amin! :)

  6. Heuheuheu… heuheu… akhirnya. Jadi subcriber blog ini juga saya. Ditunggu artikel berikutnya Mas!

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 8th, 2010 11:00 pm:

    Kemarin RSS Feeds-nya sempat error setelah migrasi, Kang. Sekarang udah bagus kembali kayanya… :)

    [Reply]

  7. narno says:

    jurnalisme yang bertanggung jawab itu sangat penting, karena media sangat berperan dalam penggiringan opini masyarakat

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 8th, 2010 11:31 pm:

    Setuju, Pak…

    [Reply]

  8. arsumba says:

    hmm.. jadi begitu ya mas beberapa aturan dalam jurnalistik. Saya ndak paham blas yang beginian..
    sek tak baca lagi, sampek paham… hehehe..

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 8th, 2010 11:32 pm:

    Ini pun hanya sebatas pengetahuan dan pengalaman semasa menjadi pengurus surat kabar kampus dulu, Crit. Pengetahuan saya tak seberapa soal ini. Cuma garis besarnya aja…

    [Reply]

  9. Wempi says:

    jurnalis beken kalo bisa menyajikan berita biasa menjadi luar biasa ditangannya.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 8th, 2010 11:33 pm:

    Plus “bertanggung jawab”…

    [Reply]

  10. Aldy says:

    Saya tidak banyak tahu istilah Jurnalistik Mas,
    Yang saya tahu penulisan berita jurnalistik berbeda dengan artikel “How to” seperti blog saya.
    Saya belum bisa komentar banyak, masih menunggu umpan balik…;)

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 8th, 2010 11:05 pm:

    Umpan balik yang gimana maksudnya neh? ;-)

    [Reply]

    Aldy reply on March 9th, 2010 10:54 am:

    ;) kayak mancing aja ya mas ?
    Begini loh mas, apakah yang mas tulis ini bersinggungan langsung dengan istilah cover both side yang mahsyur itu ? ( ehm…nulisnya benar nggak ya ? ).

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 9th, 2010 11:34 pm:

    Memang, dalam pemberitaan itu wajib berimbang. Kalau belum mendapatkan perimbangan, setidaknya ada semacam keterangan seperti “sementara ini kami belum mendapat keterangan dari pihak A terkait kasus ini”. Seingat saya begitu…

  11. Iwan Kus says:

    mas khery ternyata seorang jurnalis ya?

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 8th, 2010 10:31 pm:

    Bukan, itu hanya pengalaman sewaktu mahasiswa dulu…

    [Reply]

  12. mariasunarto says:

    temen ku ini ternyata jurnalis , mau komen apa aku jadi keder nih.lagian aku gak jurusan sana ,ngacir minggir aja deh ,kalah set .
    salam hangat dari ujung gang menteng. membaca aja udah kenyang rasanya manteb banget. ilang kangennya.lanjutkan…..

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 8th, 2010 10:34 pm:

    Bukan, Bu. Saya bukan seorang jurnalis. Itu hanya pengalaman waktu mahasiswa dulu saya sempat menjadi wartawan surat kabar kampus. Sekarang tidak lagi… :)

    [Reply]

  13. “wartawan infotainment” —> kayaknya ada yang berpendapat kalo mereka bukan wartawan deh. emang sih, kerjanya mirip dengan wartawan, tapi tidak bisa diukur dengan nilai dan prinsip-prinsip jurnalisme. mereka lebih tepat disebut pekerja infotainment.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 9th, 2010 11:26 pm:

    Dan, hal itu pun tampaknya masih menjadi perdebatan di kalangan wartawan sendiri… :)

    [Reply]

  14. Salam super-
    Salam hangat dari pulau Bali-
    memang sudah seharusnya jurnalis itu mengahadirkan Fakta yang sesungguhnya, bukan fakta permintaan penguasa…

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 9th, 2010 11:26 pm:

    Setuju, Bang! :)

    [Reply]

  15. dani says:

    Mas Kherry, pas SMP dulu saya pernah terlibat di redaksi majalah sekolah. Mbak Ratna Hidayati senior saya. Beliau memang jadi jurnalis saat ini. Tapi saya tidak paham sepenuhnya seputar jurnalistik. Pernah juga saya tulis sedikit tentang etika blog terkait etika di dunia jurnalistik.

    Nah, terkait topik blog ini, bukankah sudah ada editor atau penyunting di tiap media tersebut di atas? Sehingga informasi yang tersaji tidak lantas menjadi terpotong atau salah interpretasi. Kecuali jika itu berupa siaran langsung atau memang sengaja dibuat heboh. :)

    Ini mungkin [OOT]: apakah di media massa elektronik memang dibenarkan menyebut sumber berita kutipan tanpa clickable links?

    [Reply]

    isnuansa reply on March 9th, 2010 12:53 pm:

    Ada sumber bacaan ‘aturan’ etika tentang pemberian link pada sumber berita dan sumber gambar, Bli?

    [Reply]

    dani reply on March 9th, 2010 7:31 pm:

    Mbak Nunik,
    maaf, saya insidental berkunjung kemari. Bukan dari notifikasi surel (adakah?).
    Saya tidak tahu tentang itu, mbak, maaf. Jika memandang bahwa itu suatu dokumen Web yang tersaji daring/dalam jaringan, menurut saya, rekomendasinya ya yang dari WCAG-nya W3C..cmiiw ya.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 9th, 2010 11:01 pm:

    Mbak Nunik,
    Mas Dani mungkin lebih mumpuni untuk menjawab itu. But, kalo untuk pemberitaan audiovisual atau cetak, penyebutan sumber itu seingat saya wajib, sesuai dengan jawaban saya kepada Mas dani di bawah ini…

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 9th, 2010 10:54 pm:

    Mas Dani…
    Yang saya saksikan ini adalah bersumber dari media elektronik (TV). Dan, soal penyiarannya, ada yang langsung dan juga yang tidak langsung. Maksud saya, terkait siaran (laporan) langsung ini, hendaknya cukup cerdas untuk pemilihan kata dalam menyimpulkan situasi. Sebab, kalo salah, bisa2 dampaknya ketika didengar dan dilihat oleh masyarakat kan jadi lain, atau dalam bahasa Mas Dani itu “salah interpretasi”. Dan, penyiaran yang tidak langsung itu, saya juga nggak tahu apa memang sengaja dibuat demikian atau karena kesalahan dalam penyuntingan. Ya, faktor kelalaian manusia pasti atau mungkin ada dalam kedua hal ini.

    Soal pertanyaan Mas Dani yang terakhir itu, saya kira, tidak dibenarkan. Karena sumber berita kan mesti mampu dipertanggungjawabkan? Kecuali sumber memang ingin dirahasiakan identitasnya. Seingat saya begitu… :)

    [Reply]

  16. Agus Siswoyo says:

    Memang, saat ini makin susah menemukan jurnalis yang mampu menyajikan berita secara faktual, riil dan tidak terimbas faktor kepentingan kelompok tertentu.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 9th, 2010 11:21 pm:

    Saya kira, tidak pula terlalu begitu keadaannya, Mas Agus. Ketimbang yang demikian, saya kira lebih banyak para jurnalis yang sangat bertanggung jawab sekarang ini. Mungkin apa yang saya temukan itu hanya sebuah kelalaian manusia saja. Tapi, itu tetap perlu dikoreksi. Bukan begitu, Mas Agus?

    [Reply]

  17. isnuansa says:

    “…tampaknya mahasiswa sudah siap mencari gara-gara dengan Polisi…”.

    Jurnalis televisi memang agak sedikit berbeda cara penyampaiannya jika dibanding media cetak. Kalo adem-adem saja beritanya [datar], ya nggak menarik.

    Apalagi ketika debat. Justru saya berpikir bahwa memang sengaja diciptakan ‘pertanyaan bodoh’ yang memancing dan memperkeruh suasana sehingga perdebatan menjadi lebih hidup.

    Soal etika, saya sendiri mungkin banyak melanggar, saya menulis di blog berdasarkan sudut pandang sendiri, dan kadang lupa menyertakan link, padahal ide tersebut saya dapat setelah membaca postingan orang lain.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 9th, 2010 11:14 pm:

    Kalo untuk pemberitaan, setahu saya mengada-ngada itu tidak dibenarkan, Mbak.

    But, kalo untuk debat, tak jarang kadang unsur politisnya ada. Jadi apa yang Mbak Nunik katakan itu boleh jadi muncul dalam sebuah debat. Dan, saya kira, kalau kita yang terlibat dalam debat itu, tergantung kepada bagaimana sikap kita saja menghadapi situasi dalam debat itu. Tantangan debat memang disitu, perlu cepat mendapatkan jawaban dengan argumentasi yang logis, atau cepat berkelit ketika mendapat pertanyaan yang menjebak yang membuat pertanyaan itu “putus” seketika tanpa ada pertanyaan lanjutan kembali…

    [Reply]

  18. hpnugroho says:

    maaf mas, kali ini sy cuma absen saja …
    turut menyimak saja dan berharap semoga sy tidak (banyak) melanggar etika yang berlaku …

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on March 9th, 2010 11:17 pm:

    Waakakaka… etika yang mana maksudnya nih? :)

    [Reply]

  19. [...] berita harus berimbang. Salah seorang sahabat saya menulis diblog-nya masalah ini, silah baca Etika Jurnalistik. Bahkan dalam kode Etik Jurnalistik BAB II Pasal 5 disebutkan : Wartawan Indonesia menyajikan [...]

  20. arkasala says:

    sama dengan MAs Nugroho, saya ikut menyimak dan ikut belajar saja Mas.
    Trims.
    Salam :)

    [Reply]

  21. iskandaria says:

    Saya tidak punya kapasitas untuk mengomentari ulasan Mas Sudes di atas dari sisi jurnalistik mainstream. Sebab saya belum pernah memperoleh diklat jurnalistik ataupun punya pengalaman sebagai wartawan kampus.

    Namun tentang perlunya mengedepankan obyektivitas dan berita yang berimbang, saya sangat setuju. Itu wajib hukumnya untuk sajian berjenis news atau berita.

    Kalau saya kaitkan dengan blogging, maka sudah selayaknya para narablog memberikan feed-back yang lebih baik. Misalnya menulis tentang ulasan sebuah peristiwa hangat dengan sudut pandang yang agak berbeda dan lebih mendalam. Masyarakat juga harus diberikan alternatif selain dari media mainstream. Oleh sebab itu, menulis di blog bisa menjadi semacam media edukasi kepada masyarakat (yang boleh jadi menerima sajian jurnalistik yang kurang obyektif dan kurang bijak dari media mainstream).

    Contoh konkret, saya lebih suka menulis ulasan peristiwa hangat seputar dunia hiburan ketimbang sekadar memberitakan seperti halnya portal gosip atau portal entertainment (kayak kapanlagi maupun detikhot). Saya ingin para pencari informasi via search-engine memperoleh sudut pandang dari sisi konsumen.

    Harapan saya, apa yang saya tulis itu bisa memberikan khasanah baru bagi para pencari informasi.

    Itu saja komentar saya Mas. Mungkin kurang nyambung ya dengan ulasan di atas

    [Reply]

  22. Along says:

    Salam hormat.
    Tulisan yang banyak info walaupun saya kurang memahaminya.
    Tahniah.

    [Reply]

  23. bunda ikut menyimak sambil belajar duduk manis disini Mas Sudes.
    salam

    [Reply]

  24. fuvenanda says:

    keren nih.. main-main ke blog saya ya mas..

    [Reply]

  25. [...] dikatakan mengambil langkah positif apabila kita juga mempertimbangkan aspek-aspek negatif dari cara pemberitaan kasus ini oleh media – yang kadang kala kurang bijak – sehingga menimbulkan kontroversi [...]

Leave a Reply