Filed under Humanisme
Etika Kehendak
Saya kira, kita harus setuju, bahwa pernyataan yang mengatakan masyarakat kita sekarang ini sudah cerdas, agaknya benar. Masyarakat lebih tahu apa yang mereka butuhkan. Setiap kali ada kebijakan yang tidak bisa untuk mereka terima, maka dengan serta merta mereka akan melakukan antitesis terhadap kebijakan itu. Dasar pertimbangan mereka, tentu saja, logika kehidupan mereka.
Antitesis itu bisa bermula dari skala yang kecil, komunikasi intrapersonal, hingga bisa pula berujung kepada sebuah gerakan massif, gerakan sosial.
Berbicara tentang gerakan sosial atau people power, pada hakikatnya, adalah sebuah gerakan informal. Namun, sejarah membuktikan, gerakan sosial pada gilirannya membawa perubahan besar pada sebuah bangsa. Revolusi Prancis 1789, Revolusi Islam Iran yang dikomandoi oleh Ayatullah Khomeini, tumbangnya Ferdinand Marcos dan kemudian Estrada di Filipina, kemerdekaan Indonesia tak akan tercapai jika gerakan bersenjata tidak disokong oleh gerakan sosial, jatuhnya pemerintahan Orde Lama dan dimulainya pemerintahan Orde Baru, bahkan ketika penguasa Orde Baru pun dipaksa harus lengser keprabon, adalah serentetan bukti betapa ampuhnya sebuah gerakan sosial.
Hal itu terjadi karena gerakan sosial yang efektif pada gilirannya mampu menciptakan momentum bagi berubahnya sebuah tatanan; politik, ekonomi, dan sosial budaya. Atau, ketika gerakan sosial itu dilancarkan pada momentum yang tepat, pada gilirannya akan menghasilkan perubahan besar dalam sebuah bangsa.
Gerakan sosial itu bisa lahir karena sebuah kesadaran. Atau, sebaliknya, gerakan sosial itu bertujuan untuk penyadaran.
Namun, di lain sisi, jikalau setiap perubahan itu selalu saja digesa oleh gerakan sosial, itu juga suatu pertanda peri kehidupan berbangsa dan bernegara yang sakit. Ini bisa terjadi bila pihak pemangku kebijakan tidak responsif terhadap kehendak realitas. Hal terakhir ini, tentu saja, tidak kita harapkan. Dan, saya kira, mudah-mudahan, hal itu tidak berlaku untuk masa sekarang.
Jika sudah demikian, bolehkah gerakan sosial tetap lahir di masa sekarang? Tentu saja boleh. Kita juga sadar, masih banyak yang mesti kita benahi pada negara ini agar menjadi lebih baik lagi. Dan lagi pula, menyampaikan pendapat adalah kemerdekaan tiap individu atau kelompok. Kebijakan-kebijakan yang lahir mesti dikawal sebaik-baiknya agar sesuai dengan cita-cita bersama.
Oleh sebab itu, saya yakin, sebuah gerakan sosial yang baik tidak dibangun dan terjadi secara instan. Gerakan sosial yang baik memperhitungkan situasi dan kondisi. Ia mempunyai cita-cita yang mulia untuk kehidupan yang lebih baik. Karena ia dibangun atas kesadaran dan bertujuan untuk penyadaran, maka tidak berarti selamanya gerakan sosial itu bersifat radikal. Dan, nyatalah bedanya gerakan sosial itu dengan gerakan yang dibangun untuk kepentingan sesaat dan segelintir orang.
Dan sebaliknya, saat ini, masyarakat juga mulai cerdas dalam menilai sebuah gerakan. Karena sebuah gerakan pada dasarnya juga merupakan cara menyampaikan kehendak, maka ketika kehendak itu berlawanan dengan kehendak realitas orang banyak, yang didapat justru bukan simpati masyarakat, tapi kebencian masyarakat itu sendiri, antitesis dari gerakan itu.
Oleh sebab itu, menyampaikan pendapat yang berlawanan dengan etika, nilai, dan norma yang dianut masyarakat adalah tidak tepat. Melakukan protes dengan melakukan pengrusakan infrastruktur, sarana, dan prasarana di kala masyarakat menginginkan keharmonisan kehidupan bernegara juga tidak tepat.
Berbeda pendapat, menyampaikan protes atau ketidaksetujuan, adalah sesuatu yang sudah semestinya sama-sama kita posisikan sebagai sesuatu yang harus kita hargai. Perbedaan itu terjadi karena berbedanya kehendak masing-masing individu dan kelompok. Tapi, menyampaikan kehendak haruslah memperhatikan cara dan etika. Etika itu harus berada di atas kehendak. Etika dan nilai itulah yang mengatur kehendak, bukan sebaliknya.
Jika tidak demikian, maka yang terjadi justru sebuah ambisi yang tak terkendali. Ambisi yang tidak terkendali inilah yang memunculkan stress; individu dan sosial.
>>> Read About Khery Sudeska.
Turut menyertai tulisan ini:
- Rasa duka yang mendalam atas berpulangnya Ibu Hasri Ainun Habibie ke Rahmatullah. Ia seorang ibu yang baik dan bijak. Perempuan Indonesia telah kehilangan salah seorang tauladan.
mengamankan yang pertamax….betul-betull bahkan berkehendakpun harus dengan etika….salam
[Reply]
Khery Sudeska reply on May 24th, 2010 9:38 pm:
Setuju banget, sob…
[Reply]
didalam hidup ini semuanya memerlukan Etika, tidak terkecuali dalam berkendak, Ma’af Bang saya ndak membaca postingan ini sampai abis karena kepanjangan menurut saya..he..he..he….
[Reply]
Khery Sudeska reply on May 24th, 2010 9:46 pm:
Itulah masalah yang selalu saya rasakan ketika membahas sebuah persoalan yang bersangkut paut dengan kemanusiaan dan kebangsaan, Bang Rudy…
Jujur, saya tak ingin tulisan ini menjadi panjang. Tapi, kalau tak begitu, saya takut menjadi tak jelas maksudnya. Bila itu terjadi, berarti saya lepas dari tanggung jawab…
[Reply]
Mengamankan keduaxxx…
setuju mas khery..
apapun itu kita harus melihat dari sudut etika..
apalagi nenek moyang kita sudah sangat mewanti2 hal ini..
etika etika dan etika…
namun kenyataannya saat ini banyak sekali yg mengindahkan etika dan kalo pun dituruti adalah krn keterpaksaan..
Gak mau stress mas.. hehehe
[Reply]
delia reply on May 24th, 2010 5:04 pm:
Yahh ternyata yang ketigaxxx…
jd malu
[Reply]
Khery Sudeska reply on May 24th, 2010 9:57 pm:
Kalah cepat sepersekian detik saja dari Bang Rudy ya, Mbak Lia…
Ya, kita berupaya bertahan pada nilai2 yang diamanahkan Tuhan untuk rahmat sekalian alam, dan kemudian yang ditafsirkan manusia atas dasar itu…
[Reply]
delia reply on May 26th, 2010 1:57 am:
Sipppppppppppppp deh mas Khery..
jadi penasaran nih ama empunya blog
Khery Sudeska reply on May 27th, 2010 7:19 pm:
Dari kemarin ceritanya sip-sip aja nih. Sesekali kritik juga dong bila ada pemikiran yang tak bersesuaian…
sepertinya komandan sudah kembali ke markas nih
tulisan-tulisannya mulai lagi menggigit seperti sedia kala
***
sebuah pergerakkan massa, sudah dijadikan semacam simbol kekuatan. ada yang lehir karena murni di dorong oleh nilai-nilai perjuangan. ada pula karena kepentingan kelompok, politik dan tendensi lain yang kadang-kadang bisa di selipkan dibalik gerakan moral.
sepanjang gerakan massif berorientasi pada prubahan tatanan yang lebih baik, mengarah pada upaya pemenuhan kebutuhan publik, saya setuju. keos sekalipun, tidak mengapa. toh ada harga untuk setiap perubahan.
namun setidaknya, gerakan itu di susupi dengan semangat perubahan yang lebih baiklah..
mantap mas Khery..
[Reply]
Khery Sudeska reply on May 24th, 2010 10:11 pm:
Waakakakaka… Emang kemarin komandan itu pergi kemana, Bang?
Saya setuju dengan point yang abang tambahkan. Gerakan sosial haruslah cerdas melihat situasi. Kalaulah formatnya tak matang, kita harus berhadapan dengan resiko yang lebih besar dari hanya sekadar keos saja. Akhirnya, tujuan substansi dari gerakan pun tak tercapai…
Masyarakat kita hari ini mulai jenuh dengan situasi yang penuh kekacauan satu dekade terakhir ini. Di tengah realitas itu, kita mesti pandai memilih format yang tepat agar cita2 mulia itu selaras dan didukung…
[Reply]
aldy reply on May 27th, 2010 11:11 pm:
Mas Fadly, Kayaknya motor balapnya sedang di parkir.
[Reply]
Gak tahu mau berkomentar seperti apalagi. Kita hidup dalam Social Norm, memang seharusnya mengikuti norma dan aturan yang telah ada untuk tujuan kedamaian.
Namun sekarang, bersandarkan keyakinan diri sendiri, jika baik gak masalah. Tapi muncul karena ego yang tinggi, sepertinya sedikit sulit mendapatkan kedamaian. Seperti contohnya Ki Gendeng yang anticina.
[Reply]
Khery Sudeska reply on May 24th, 2010 10:15 pm:
Pada prinsipnya, tampaknya kita sependapat…
[Reply]
Melihat gerakan massa yang belakangan ini sering terjadi suka gregetan saya Mas. Heran, koq knapa seperti itu, kadang dengan alasan mau perubahan yang baik, tetapi pergerakan mereka sendiri dilakukan dengan hal-hal yang justru merugikan kepentingan umum. Bikin bingung orang kampung!!!
[Reply]
Khery Sudeska reply on May 27th, 2010 7:23 pm:
Saya kira, subtansinya saja yang harus tepat, Kang. Keos itu wajar saja menurut saya dalam sebuah gerakan, tapi itu jalan terakhir, bukan dibuat-buat, dan substansinya harus tepat. Bukan malah terlampiaskan kepada objek yang tidak tepat dan merugikan orang banyak. Saya setuju dengan Kakang…
[Reply]
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uuun. Semoga bu Ainun diberikan kemudahan menghadapi ganasnya adzab kubur ya bang. Salam ta’aruf wal ukhuwah
[Reply]
Khery Sudeska reply on May 27th, 2010 7:25 pm:
Soal azab kubur wallahu’alam, Ustadz. Kewajiban kita untuk mendo’akan sesama kaum muslimin. Mudah2an beliau dilindungi Allah…
[Reply]
Semua akan mengalami perubahan mas Khery, semuanya, dan kita mau tidak mau harus mau menghadapi segala kemungkinan yang terburuk.
[Reply]
Khery Sudeska reply on May 27th, 2010 7:28 pm:
Asal jangan meradang dan melampiaskan amarah secara tidak tepat dan membabi buta. Saya kira itu juga tidak tepat di saat masyarakat banyak membutuhkan keharmonisan menuju kemajuan hidup…
[Reply]
Wah…
Suatu pelajaran yg sangat penting dalam hidup kita
[Reply]
Khery Sudeska reply on May 27th, 2010 7:28 pm:
Trims, Mas…
[Reply]
Panjang amat dan lama bacanya. .hehe.
Perubahan yang tidak bisa kita hindari. .karena ibarat roda berputar..kita hanya sesalkan orang2 yang menyampaikan keluh kesah di jalan2 dengan merusak fasum. .sayang dan sangat disayangkan sekali..sudah tidak mengerti etika kah mereka?
[Reply]
Khery Sudeska reply on May 27th, 2010 7:29 pm:
Terlalu panjang ya tulisan ini, Bung Udin…
[Reply]
ketika perubahan harus terjadi, mungkin chaos ikut terjadi juga, entah sengaja atau terpaksa.
dimanapun etika pasti ada, namun ketika perubahan atau kebijakan tak lagi bijak, kita harus bersiap utk yg terburuk.
salam
[Reply]
Khery Sudeska reply on June 4th, 2010 9:22 pm:
Wah, Bunda rupanya cukup tegas juga soal ini. Saya setuju, Bunda. Seperti kata Bang Fadly, selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah perubahan…
[Reply]
bagaimanapun selama ini Indonesia dikenal sebagai bangsa beretika, bisa kah kita pertahankan?
[Reply]
Khery Sudeska reply on June 4th, 2010 9:23 pm:
Mudah2an, Mas. Tugas kita bersama untuk saling mengingatkan dan menjaganya…
[Reply]
Saya ijin manggut-manggut saja Mas Sudeska.
Bingung mau bilang apa. Etika dinegeri ini sepertinya hampir masuk liang kubur.
[Reply]
Khery Sudeska reply on June 4th, 2010 9:24 pm:
Manggut2nya diizinkan, Bang Aldy…
[Reply]
Asal jangan meradang dan melampiaskan amarah secara tidak tepat dan membabi buta. Saya kira itu juga tidak tepat di saat masyarakat banyak membutuhkan keharmonisan menuju kemajuan hidup…
[Reply]
Khery Sudeska reply on June 4th, 2010 9:26 pm:
Setuju…! Btw, blog pribadinya nggak ada nih (Mas/Mbak) Emily?
[Reply]
Está bien. Gracias por tu apreciación …
[Reply]
Antara Privasi Dan Kelakuan Bejat…
Dulu, foto-foto kurang senonoh Ratu Felisha pernah tersebar di dunia maya. Dalam salah satu foto di antara foto-foto itu memperlihatkan bokong artis seksi itu sedang (ma’af) dijilat, meskipun bokong sang artis dalam foto itu masih terbalut celana jeans…
[...] Saya kira, pada tahap ini, pemikiran Murtadha Muthahhari tentang perbedaan kedua jenis aktifitas manusia ini, sudah dapat disimpulkan. Yang mendorong manusia untuk memperoleh kesenangan adalah nalurinya, sedangkan yang mendorong manusia untuk melakukan kepentingannya adalah akal. Kesenangan merangsang hasrat, kepentingan membangkitkan kehendak. [...]
[...] tokoh yang dikultuskan tersebut. Ini akan menyebabkan seseorang kehilangan kemerdekaan berpikir dan berkehendak. Kata Muthahhari lagi, Al-Qur’an menyeru kita agar berpikir independen dan jangan membabi buta [...]
[...] manusia diberi hasrat. Hasrat itulah yang memunculkan kehendak dan mendorong upaya. Bahkan, lebih jauh Rumi mengatakan, “Setiap jengkal elemen alam semesta [...]