Refleksi dan Catatan-Catatan Kecil

Filed under Humanisme, Motivasi

Matinya Karena Angan-Angan

Pernah dengar pepatah kuno ini?

“Mati Belanda karena pangkat, mati Cina karena harta, mati India karena makanan, mati Melayu karena angan-angan.”

Kita ambil bagian terakhir saja, mati Melayu karena angan-angan. Maksud kata ‘Melayu’ dalam pepatah ini adalah masyarakat Indonesia. Maka, dengan demikian, pepatah ini ‘menyentil’ (dengan tujuan memotivasi – pen.) bahwa orang Indonesia itu banyak dilamun oleh angan-angannya saja, sampai kemudian ia mati tanpa pernah apa yang diangan-angankannya itu terwujud.

Benarkah demikian? Tidak bolehkah kita berangan-angan?

Saya tidak sedang mencoba untuk mencari beda apa itu angan-angan, apa itu cita-cita, dan apa itu harapan. Pada dasarnya ketiganya sama, ketiganya adalah kerangka imajiner manusia tentang sesuatu yang ideal yang ingin dialaminya.

Maka, jawaban dari pertanyaan tadi tentu saja boleh. Asalkan angan-angan itu berusaha diwujudkan. Untuk mewujudkannya, hanya perlu dua modal dasar saja;

Pertama, Berani.

Menurut Buya HAMKA, keberanian adalah modal utama hidup seorang manusia di dunia. Berani menunjukkan bahwa ia beriman kepada Tuhan, berpikir positif kepada Tuhan, percaya bahwa Tuhan pasti akan selalu memberikan yang terbaik bagi dirinya jika ia selalu berusaha untuk yang baik-baik pula.

Untuk dapat menjadi berani, maka kita mesti bersedia membesarkan jiwa kita sendiri. Dengan jiwa yang besar, maka pekerjaan yang besar pun akan dipandang kecil. Tidak ada yang susah untuk dikerjakan, karena pangkal kesusahan itu sebenarnya bukan dari luar, tetapi dari dalam jiwa.

Ketika ketakutan datang, maka satu-satunya jalan adalah melawan atau menghadapi sumber ketakutan itu sendiri. Oleh sebab itu, Tuhan pun berpesan, “Jangan engkau duka cita, jangan engkau pengecut, engkau tinggi kalau engkau beriman kepada Allah Ta’ala…”

Kedua, Semangat dan Ketekunan Untuk Mencoba.

Benar, dalam kompetisi kehidupan di dunia, kita sering berhadapan dengan seseorang atau sekelompok orang yang lebih berpengalaman dan lebih ahli dari kita. Hal itu lalu menimbulkan keraguan; “bisakah kita bersaing dengan mereka?”

Bisa! Keahlian bisa dikalahkan dengan semangat dan ketekunan untuk terus mencoba.  Semangat dan ketekunan bahkan bisa mengalahkan kecerdasan.

Kenal Valentino Rossi? Ia adalah juara dunia sembilan kali balapan MotoGP. Apa yang membedakannya dengan para pembalap lainnya? Hal itu tadi, semangat dan ketekunannya. Sebagai manusia ia juga pernah gagal. Tapi, hal itu tidak pernah menjadikannya berputus asa. Ia terus saja berusaha mengatasi keadaan-keadaan yang tak menguntungkan bagi dirinya. Jangan jadikan masalah sebagai alasan untuk diam dan tidak berbuat apa-apa. Justru masalah itulah yang menjadi alasan untuk terus berbuat dan mencari cara untuk mengatasinya.

Maka, di suatu pagi, Nabi pun pernah berpesan kepada seorang pemuda, “Berdo’alah engkau dengan do’a; ‘Yaa Rabb, aku berlindung kepada-MU dari lemah dan malas’…”

Jika pembuka tadi telah kita mulai dengan pepatah Melayu, maka kita tutup juga dengan hal yang sama, “Putuslah tali layang-layang, robek kertas tentang bingkai, hidup jangan mengepalang (tanggung-tanggung), tidak kaya berani pakai”. Ketika keputusan telah ditetapkan, maka “sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang”. Dengan itu, mudah-mudahan kita tidak mati karena angan-angan kita sendiri.

Up-date: Mohon simak juga tambahan dari Kang Erdien soal perbedaan antara Angan-Angan dan Harapan pada lembaran komentar di bawah ini. Klik disini bila ingin langsung membaca komentarnya.

Note: Tumben nih ngasih motivasi. :P Jarang-jarang hal itu dilakukan Khery Sudeska. Motivasi ini bukan untuk sesiapa, untuk saya sendiri. Sengaja saya tuliskan disini agar sewaktu-waktu dapat saya baca dan ingat-ingat kembali. Bila ada pula yang sempat membacanya, semoga saja ada faedahnya buat Tuan-Tuan dan Puan-Puan semua… :)

44 Responses to “Matinya Karena Angan-Angan”

  1. nakjaDimande says:

    whuiihh motivasinya keren niyh Sudes..

    Bundo banget tuh orang melayu yang hidup dalam angan-angan, tapi tak maulah mati karena angan-angan.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 14th, 2010 11:57 pm:

    Tak lah terlalu keren betul, Mande. Kan sudah dibilang, ini hanya sekadar alarm pengingat untukku saja, agar tak mati karena angan-angan itu… :)

    [Reply]

  2. BlogCamp says:

    Hidup adalah perjuangan oleh karena jangan takut untuk mencoba dan mencoba terus. Takut gagal dan pesimis akan mematikan kreativitas.

    Terima kasih atas tipnya.

    Salam hangat dari BlogCamp

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 14th, 2010 11:49 pm:

    Terimakasih sekali, Pakde, sudah semakin menguatkan ruh motivasi ini. Semoga semakin membekas di hati saya…

    [Reply]

  3. Annaura says:

    Live is struggle ya kak. Kedepan perjuangan semakin berat, oleh karena perlu meng-upgrade diri agar tak ketinggalan dengan yang lain.
    Terima kasih atas artikelnya yang menggugah semangat saya.

    Salam manis dari Batam

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 14th, 2010 11:53 pm:

    Selamat datang disini adik2ku dari Annaura. Semoga saja ada sedikit manfaat yang bisa diambil disini. Senang sekali menerima adik2 dari Annaura disini… :)

    [Reply]

  4. Terima kasih mas, sangat bermanfaat untuk saya untuk senantiasa berani dan bersemangat untuk menjalani proses dari tujuan-tujuan yang sudah saya tetapkan.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 14th, 2010 11:54 pm:

    Hehehe… sama-sama, Mas Agung. Ini hanya sekadar catatan kecil saja dari saya…

    [Reply]

  5. Salam kenal, motivasinya bagus… orang jawa bilang mati karena dipangku. Mati karena dipuji. Makanya terlalu banyak dipuji juga berbahaya… thanks ya infonya.
    Oh ya… silakan kalo mau lihat koleksi batik tulis lasem saya….

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 16th, 2010 8:13 am:

    Trims kunjungannya, Mbak… :)
    Saya sudah lihat2 koleksi batiknya barusan. Sangat bagus semuanya. Site-nya saya bookmark dulu, biar kapan2 mo beli bisa langsung ingat tempatnya… :)

    [Reply]

  6. catatan motivasi dari Mas Sudes yang membuatku tersipu2, krn kok ya persis banget dgn diriku.
    terlalu berangan2, dan masih banyak yg belum terwujud.
    sedang sebagian angan2ku selalu kunikmati setiap hari dgn penuh rasa syukur.
    Tips yang sangat menarik,
    intinya, jangan pernah menyerah, walaupun gagal, gitu ya Mas Sudes ?
    salam

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 16th, 2010 8:18 am:

    Alah, Bunda… :D Saya yang justru jadi tersipu2 membaca komen Bunda ini. Saya masih perlu belajar banyak untuk mewujudkan banyak impian saya, Bunda. Yaps, Bunda… Never Give Up mungkin kata yang tepat untuk kita semua…

    [Reply]

  7. fadly muin says:

    Realistis. saya menangkap pesan itu dalam artikel ini. betul mas Khery?

    jadi memang, hidup itu realistis. panca indera menangkap apa yang ada dan dapat dijangkau. angan bisa diibaratkan sebagai obyek masa depan. bisa juga dijangkau, tapi nanti.

    bagaimana caranya, tentu dengan tindakan nyata. tapi apa perlu mematikan angan karena ketidak realistisannya? diperlukan imajinasi dan kekuatan ekspektasi untuk mensinergikan itu mas menurutku.

    manusia memiliki “perasaan” yg tak bisa di definiskan dengan sederhana. maka menyentuhnya dengan angan-angan, cita-cita, harapan dan hal-hal lain yg sifatnya imajiner, akan sangat membantu.

    nah, solusinya menurut saya. tetap hidup dialam realistis, tapi tidak mematikan unsur2 imajener itu..

    nah itu sekedar pendapat mas Khery. (sdh lama tidak diskusi)

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 16th, 2010 9:08 am:

    Karenanya, pro kontra tak pernah berhenti pada sekelompok orang yang memuja sikap realistis dengan kelompok yang mengandalkan kekuatan imajinasi sebagai pangkal inspirasi.

    Saya ambil jalan tengahnya saja, kekuatan imajinasi itu perlu asalkan selalu didorong kepada tindakan nyata untuk mewujudkannya sepenuhnya, atau separuhnya.

    Manusia tanpa kerangka imajiner juga tak dapat saya bayangkan, seakan seonggok daging tanpa hasrat… :D

    [Reply]

  8. angan-angan itu ada yang (+) dan (-).
    Untuk yang (+) angan-angan digambarkan secara jelas dalam benak seseorang sebagai acuan dalam tindakan ke depan.
    Untuk yang (-) angan-angan hanya sebagai halusinasi dan tidak ada relevansinya sama sekali dengan tindakan.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 16th, 2010 9:23 am:

    Mungkin komentar Kang Erdien di bawah ini telah meng-eksplanasi-kannya, Kang… :)

    [Reply]

  9. Erdien says:

    Kalo dalam konsep Arab seperti ini Mas:
    Angan-angan (tamanni) adalah gambaran tentang suatu keinginan yang tidak mungkin terwujud, misalnya seorang berangan-angan mempunya sayap dan bisa terbang sebebas-bebasnya layaknya burung. Itu pasti tidak mungkin kan? Karena itu menyalahi sunnatullah.
    Adapun harapan (tarajju) adalah gambaran tentang suatu keinginan yang mungkin untuk diwujudkan. Misalnya seorang berharap menjadi presiden, apa pun adanya dia saat itu, jika ada upaya yang relevan dan maksimal, harapannya mungkin saja bisa tercapai.
    ===
    Di sinilah letaknya keberanian, kesungguhan, dan ketekunan itu. Keberanian, kesungguhan, dan ketekunan sangat tepat diterapkan untuk mencapai harapan atau cita-cita. Sementara itu, keberanian, kesungguhan, dan ketekunan akan sia-sia saja jika diterapkan untuk sebuah angan-angan.
    ===
    Itu yang saya ketahui selama ini Mas :)

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 16th, 2010 9:18 am:

    Oleh sebab Bahasa Arab itu bahasa yang paling lengkap dan jelas tata kata dan bahasanya – sepengetahuan saya – ditambah lagi pengetahuan Bahasa Arab Kang Erdien jauh sekali lebih baik dari pada saya, maka saya setuju dengan penjelasan dan tambahan ini, Kang. Sekaligus, ini juga koreksi atas tulisan di atas. (Bukankah dalam sebuah blog antara tulisan dan komentar itu saling melengkapi?)

    Trims banget atas perhatian dan tambahannya, Kang… :)

    [Reply]

  10. kawanlama95 says:

    loh bukannya ada di masyarakat kita yang populer. jangan mimpi luh.

    mimpi aja ga boleh. gimana mau angan-anga. iya ga boss

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 16th, 2010 8:47 am:

    Setuju, Kawan… :D

    [Reply]

  11. rawit says:

    thanks untuk siraman motivasinya, sempet tersentil juga setelah beberapa saat ini saya tak berani untuk sekedar berangan-angan. Memang betul, angan-angan dan cita-cita kita itu ibarat bensin bagi sebuah motor. Ayo semangat lagiiii…jiayouu..

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 16th, 2010 7:12 pm:

    Hehehe… Sama-sama, Mbak Intan… :)

    [Reply]

  12. darahbiroe says:

    makasih untuk motivasinya
    saya stujuh dgn yang dikatakan diatas

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 16th, 2010 7:14 pm:

    Sama2, Mas. Beri masukan juga bila ada tambahan pemikiran atau pengalaman…

    [Reply]

  13. antokcupu says:

    smoga cita2 kita smua dapat terwujud
    amien
    makasih utk motivasinya

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 16th, 2010 7:15 pm:

    Amiiin… Sama-sama, Mas…

    [Reply]

  14. hanifilham says:

    mantab nih… hehe, bener2, jika kita sudah jalan, ya sudah, kita jalani saja…

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 16th, 2010 7:17 pm:

    Yaps, Mas Hanif. Mari sama2 kita kuatkan hati kita atas pilihan yang telah dipilih…

    [Reply]

  15. maria says:

    kenapa ya angan2ku lagi jenuh saat ini /penyakit dari dalam , datangnya pelan ,sejak pulang jenguk ponakan yang koma , dirumah sakit ,tolong beri pencerahan mas.. apa lagi masgul aja ya.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 16th, 2010 10:32 pm:

    Mungkin iya, Bu. Ibu sedang masygul saja. Dan hal itu wajar saja terjadi pada saat kita melihat kondisi yang demikian. Saya turut prihatin, Bu. Saya do’akan supaya ponakannya cepat sembuh dan baik2 saja. Amin…

    [Reply]

  16. Rita Susanti says:

    Assalamulaikum wrwb…

    Sudah lama tak berkunjung ke rumah Bang Khery, apa kabar? semoga selalu sehat…

    Saya pernah dengar pepatah kuno Melayu itu Bang, Orang Melayu sukanya berangan, tapi jarang yang jadi “orang” :) . Tapi btw berangan-angan itu menyenangkan loh Bang hehehe…

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 21st, 2010 11:37 am:

    Wa’alaikumsalam W. W.

    Wawww! Berarti kita punya tantangan untuk membuktikan dan membantah bahwa pernyataan itu tidak benar… :D

    [Reply]

  17. Assalaamu’alaikum

    Alhamdulillah, saya sangat terkesan membaca tulisan saudara di atas. cukup bersemangat dan cuba membidik jiwa yang kecil untuk terus maju mencapai apa yang diangan @ diimpi @ diharap datau dicitakan. mempunyai jiwa besar akan menjadikan kita tidak menyerah kalah tanpa bertempur dulu.

    Selain itu, bagi saya untuk berani bemimpi harus percaya diri selali berani dan semangat. Minda harus berubah mnjadi minda juara. hanya yang berfikir secara juara akan meraih kejuaraan yang gilang gemilang.

    Terima kasih mas kerana sudah sharing.
    Salam kenal di kunjungan perdana dari saya di Sarawak, Malaysia.

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on June 21st, 2010 11:42 am:

    Wa’alaikumsalam W. W.

    Akhirnya, saya bersua juga dengan saudara dari seberang sana, Malaysia. Salam kenal juga. Boleh saya memanggil dengan sebutan “Kakak” saja? Semoga saja ada sedkit faedah yang bisa diambil dari tulisan2 di blog saya ini, Kak. Saya senang sekali atas kunjungan Kakak… :)

    [Reply]

  18. [...] berarti juga ada yang salah pada diri kita. Pada kondisi demikian, saatnya bagi kita untuk introspeksi diri tentang sikap, ucapan, dan perbuatan kita selama [...]

  19. [...] keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus [...]

  20. [...] kebahagiaan sesama manusia; aspirasi mereka, standar baik dan buruk mereka, jalan hidup mereka, dan pilihan mereka akan sarana [...]

  21. mandor tempe says:

    Harapan itu ibarat bangun dari tidur. apakah harapan tersebut masih di dalam bayangan atau diteruskan untuk terrcapainya harapan setelah bangun.

    [Reply]

  22. [...] sudah lazim pula, bila kemudian cita-cita yang mulia itu mendapat halangan, sehingga tidak sampai atau belum sampai. Sebagai seorang bujang [...]

  23. [...] juga: Matinya Karena Angan-Angan dan Mengapa Musuh Itu (Harus) [...]

  24. [...] itu, tindakan yang pengecut dan semakin membuat diri kita menjadi tidak berarti. Dalam tulisan Matinya Karena Angan-Angan, pernah saya katakan, bahwa ketika ketakutan datang maka satu-satunya cara adalah menghadapi atau [...]

  25. andesko dinata says:

    artikelnya menarik juga mas sudes tapi saya berharap jangan selalu Melayu jadi contoh yang buruk tapi jadikanlah Melayu pusat contoh yang baik…, baik buruknya Melayu karena Kita juga mas sudes,.. tergantung gimana kita mempromosikannya…, bukan mati melayu karena angan2 tapi Matinya Melayu karena Kurang bersatu…

    [Reply]

    Khery Sudeska reply on August 20th, 2010 2:16 pm:

    Bung Andesko, pribahasa pada awal artikel ini memang sudah ada sejak dahulunya. Dan saya kira pribahasa itu tidak bermaksud untuk memburuk2an Melayu. Jika kita cermati, secara tersirat, pribahasa itu justru merupakan motivasi bagi orang Melayu. Dan, tulisan ini adalah salah satu jalan agar apa yang disebutkan peribahasa itu tidak terjadi.

    Berbicara soal Melayu, hampir 80 % masyarakat Indonesia adalah Melayu. So, apa lagi? :)

    [Reply]

  26. angan2nya terlalu berlebihan

    [Reply]

Leave a Reply