Archive for the ‘Humanisme’ Category

Tentang Kebenaran dan Kebaikan

Empat hari saya terpuruk di sebuah desa di pedalaman dalam sebuah kegiatan survey, selama itu pula saya tak bersentuhan dengan komputer dan internet. Lalu, ketika saya pulang dan melihat blog ini, saya malah bingung mau update apa. :D Saya putuskan saja untuk berjalan-jalan ke toko buku. Saya menuju barisan novel-novel. Disanalah, pada sebuah buku saya temukan kata “kebenaran”, dan pada buku yang lain saya temukan kata “kebaikan”.

Kebenaran asal katanya adalah “benar”. Sedangkan kebaikan asal katanya adalah “baik”. Apakah “benar” itu? Dan apakah “baik” itu? Manakah yang harus lebih dahulu ada dari kedua kondisi ini? Benar dulukah? Atau, baik dulukah? Read the rest of this entry »

Semangat

Pada batasan yang bagaimanakah saya harus mendefenisikan kata semangat ini? Sudahlah, tak perlu diurai lebih jauh. Hadir atau hilangnya semangat dalam diri manusia, sudah cukup untuk memaknainya.

Yang jelas, semangat ini tentu saja masalah rasa, bukan masalah pikiran. Betul tidak? Walau tak menutup kemungkinan, semangat itu lahir dari sebuah proses alur berpikir. Dan, kita pun sudah tak perlu membantah peran semangat ini dalam kehidupan. Tanpa semangat, maka tiada kehidupan. Semakin tinggi semangat seseorang, semakin besar peluang seseorang melakukan sesuatu yang berharga bagi kehidupan.

Pertanyaan yang lebih penting dari itu adalah bagaimana menciptakan semangat? Atau, bagaimana supaya hidup senantiasa bersemangat? Read the rest of this entry »

Mengapa Para Nabi itu Manusia?

Seorang wanita datang menemui Ali,

“Bayiku tiba-tiba berjalan merangkak di atap dekat saluran pipa air, yang tidak bisa kujangkau. Dia tidak mau mendengarkan aku. Aku terus berbicara kepadanya, namun dia tidak memahami bahasaku.

Aku membuat gerakan bahasa tangan. Aku tunjukkan kepadanya susu-susuku, namun dia terus merangkak pergi. Apa yang harus kulakukan? Read the rest of this entry »

Quraish Shihab; Do’a dan Optimisme

Kalau sekiranya anda tanyakan kepada seseorang, “anda optimis?” terhadap sebuah objek kehidupan, maka seketika itu juga jawabannya akan beragam. Ada yang mungkin akan menjawab “saya optimis”, “saya tak terlalu optimis”, atau sama sekali “saya tidak optimis”. Namun, ketika ditanyakan “apa itu optimisme?”, maka tak semua orang bisa merumuskan jawabannya dalam sebuah kalimat. Yang nyata, hanya bisa dirasakan maknanya dengan tepat di dalam hati, tapi tak dapat dirumuskan dalam sebuah alur kalimat.

Sudah jamak dalam kehidupan manusia, bahwa manusia itu punya harapan dan keyakinan. Keselarasan antara sebuah harapan dan keyakinan akan tercapainya harapan tersebut, itulah yang dinamakan dengan optimisme. Read the rest of this entry »

Arus Balik

Silakan lihat dulu video berikut ini!

Read the rest of this entry »

Individualisme Modernitas Palsu

Dulu, Pramoedya Ananta Toer, di suatu malam, menonton pertunjukan wayang di Pulau Buru. Hanya saja, ternyata Pram tak suka pertunjukan itu (demikian Goenawan Mohamad menggambarkannya dalam Catatan Pinggir). Sesuatu yang fiksi bagi Pram adalah sesuatu yang melenakan manusia dari realitas. Dalam sebuah buku, Pram mengejek pertunjukan itu sebagai sesuatu yang menghambat manusia menuju modernitas. Pram, amatlah memuja sesuatu yang bernama modernitas di atas segalanya. Read the rest of this entry »