Refleksi dan Catatan-Catatan Kecil

Posts with the Tag 'Buya HAMKA'

Perjalanan

Belum Bisa Berbuat Banyak

“…dari jembatan besi itu akan kelihatanlah perkawinan keindahan alam dengan teknik manusia. Ke laut nampak kecantikan lautan, ke darat kebesaran Allah, dan ke sebelah kanan kelihatan pula anggar baru, anggar dari pelabuhan yang ketiga di Indonesia, sesudah Tanjung Perak dan Tanjung Priok…” Demikian Buya HAMKA dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck menjelaskan keindahan kota Makassar [...]

Humanisme, Motivasi

Matinya Karena Angan-Angan

Pernah dengar pepatah kuno ini? “Mati Belanda karena pangkat, mati Cina karena harta, mati India karena makanan, mati Melayu karena angan-angan.” Kita ambil bagian terakhir saja, ‘mati Melayu karena angan-angan’. Maksud kata ‘Melayu’ dalam pepatah ini adalah masyarakat Indonesia. Maka, dengan demikian, pepatah ini ‘menyentil’ (dengan tujuan memotivasi – pen.) bahwa orang Indonesia itu banyak [...]

Cinta

Buya HAMKA; Dari Mana Datangnya Cinta?

Fenomena bangsa hari ini, adalah maraknya perselingkuhan, mulai dari artis, pejabat, sampai ke lapisan masyarakat bawah. Prof. Quraish Shihab, dalam sebuah wawancara di televisi, pernah ditanya, “Bagaimana anda melihat seorang suami yang sudah punya istri dan anak, lalu kemudian tertarik dengan perempuan muda yang cantik dan berselingkuh. Cinta yang bagaimanakah ini?” Untuk menjawab fenomena ini, [...]

Cinta, Humanisme

Buya HAMKA; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Entah, dua posting terakhir ini saya asyik saja mengulas novel. Tapi, tak apalah. Ini kan penghujung minggu. Agar suasana sedikit lebih santai. Setelah beberapa hari yang lalu tentang Parijs van Java, kali ini soal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karangan Buya HAMKA. Novel ini (mungkin) hampir tak dikenal oleh anak-anak muda masa sekarang. Saya pun [...]

Ideologi

Sekilas Tentang Atheis

“Tuhan itu tidak ada. Yang ada ialah teknik. Dan itulah Tuhan kita! Sebab, tekniklah yang memberi kesempatan hidup kita.” suara laki-laki itu menggema di ruangan yang tak berapa luas itu. “Tidak!” seorang laki-laki lain, berwajah Mongol, mendebat pendapat orang itu. “Tidak! Teknik itu cuma alat.” Dengan tangkas, sambil tertawa, laki-laki yang didebat menjawab, “Betul kata [...]