Malam itu, saya tidur lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena lelah. Habis pulang shalat Isya dari masjid, saya langsung tertidur. Kemudian, saya terbangun tengah malam, kira-kira pukul dua dinihari. Karena masih mengantuk, saya coba hidupkan TV untuk menghilangkan rasa kantuk. Saya mau tuju channel favorit saya, Discovery atau National Geographic. Tapi, saya terhenti di channel Cinemax. Judul film-nya menarik perhatian saya; “The Last Man On Planet Earth”.
Anda mungkin sudah pernah menontonnya. Lagian, ini mungkin bukan film baru. Hanya saja, tidakkah anda merasa, bahwa judul film itu menyimpan makna yang padat. “Laki-laki Terakhir di Planet Bumi”. Padat akan realitas dan padat akan prediksi. Padat akan realitas, karena memang jumlah wanita hari ini lebih banyak dibandingkan jumlah laki-laki. Padat akan prediksi, karena hal itu bisa saja terjadi di suatu waktu di masa depan.
Oh, tunggu dulu! Saya tidak sedang membicarakan sentimen gender. Bukan, bukan itu maksud saya. Saya justru sedang membicarakan keseimbangan.
Sejarah menunjukkan, bahwa ada kecenderungan masyarakat, bahkan dunia, untuk “menekan” kelahiran anak perempuan dan “menganjurkan” kelahiran anak laki-laki. Ini karena alasan tertentu. Saya tidak perlu ceritakan kenapa dan mengapa begitu. Anda sudah tahu. Dan ini, sebenarnya, sebuah “kejahatan sejarah”.
Menariknya, yang terjadi hari ini, tetap saja yang lebih banyak jumlahnya di dunia ini adalah jumlah perempuan. Saya tidak tahu persis, apakah jumlah perempuan ini lebih banyak akhir-akhir ini saja, atau memang sudah banyak dari dulunya. Terus terang, soal ini saya tidak punya data. Dan bukan ini yang ingin saya fokuskan pada pembicaraan ini.
Kita kembali ke cerita film itu. Kenapa terjadi “kekurangan” laki-laki di film itu? Karena laki-laki “dimusnahkan” oleh perempuan. Perempuan, memandang laki-laki sebagai sumber kekerasan di muka bumi ini. Laki-lakilah sumber kekacauan di dunia. Laki-laki dengan sifatnya yang kasar, dan cenderung ingin mendominasi, telah menyebabkan cita-cita akan tatanan dan peradaban dunia yang damai sukar untuk diwujudkan. Laki-lakilah yang merampok. Laki-lakilah yang memperkosa. Perang-perang besar yang terjadi di dunia adalah ide kaum laki-laki.
Pendek kata, bila ingin sebuah tatanan dunia yang damai, peradaban yang benar-benar beradab, tak pelak lagi, jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah “memusnahkan” kaum laki-laki. Dari sisi ini, terlihat jelas, laki-laki dipandang sebagai subjek realitas, bukan objek realitas.
Saya yakin, hampir semua anda, laki-laki ataupun perempuan, tidak setuju dengan pandangan ini. Karena, pada dasarnya, laki-laki dan perempuan adalah makhluk yang saling membutuhkan. Pada kasus lain, laki-laki dan perempuan, adalah dua subjek yang saling berhubungan terhadap objek tertentu.
Bukankah karena semakin tingginya (maaf) rok perempuan, mempengaruhi tingginya jumlah kejahatan seksual. Bukankah, kadangkala, perempuan sebagai salah satu alasan laki-laki melakukan kejahatan; perampokan, korupsi, penipuan, perkelahian, pembunuhan, dan sebagainya. Dalam konsep Islam, sejarah terjadinya pembunuhan pertama manusia oleh manusia, ikut membenarkan bahwa laki-laki dan perempuan adalah dua subjek yang berhubungan terhadap objek tertentu.
Tapi, sebaliknya, bukankah juga banyak kasus yang menunjukkan, bahwa akibat egoisme dan kasarnya perangai laki-laki, yang menyebabkan terjadinya keretakkan rumah tangga; perceraian, perselingkuhan, dan lain sebagainya. Lalu, dimana sebenarnya letak persoalan ini?
Film itu, secara tersirat, akhirnya juga menjawab bahwa kehadiran laki-laki adalah sebuah kebutuhan bagi perempuan, begitu pula sebaliknya. Laki-laki sangat banyak menjadi sebab dari akibat yang dilakukan perempuan, sebagaimana perempuan juga sangat banyak menjadi sebab dari akibat yang dilakukan laki-laki. Laki-laki dan perempuan adalah sebuah entitas dari sifat kemanusian yang sudah semestinya ada. Tegasnya lagi, ini sudah merupakan takdir Tuhan.
Oleh sebab itu, eksistensi laki-laki dan eksistensi perempuan itu bukanlah sebuah persaingan. Tapi, sebaliknya, eksistensi laki-laki itu melengkapi eksistensi perempuan, sebagaimana eksistensi perempuan itu melengkapi eksistensi laki-laki. Keseimbangan inilah yang mesti dijaga dan dihormati. Tampak klise memang. Tapi inilah yang sering terlupakan. Agama, bahkan sejarah (sebagai takdir Tuhan) banyak mengajarkan hal ini kepada kita.
Perkembangan terakhir, di China, ekses dari kebijakan “keluarga berencana” dengan satu anak, yang pada gilirannya masyarakatnya lebih banyak “mengusahakan” untuk melahirkan anak laki-laki, telah menimbulkan kekhawatiran baru dari pemerintah. Bila ini terus berlanjut, maka akan terjadi kekurangan perempuan di negara itu, yang berakibat terjadinya kekacauan dalam negara karena memperebutkan perempuan.
Akhirnya, pemerintah China melahirkan kebijakan baru. Yakni, apabila sebuah keluarga melahirkan anak perempuan, biaya pendidikannya dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi ditanggung oleh pemerintah. Ini bertujuan mendorong masyarakatnya untuk “berusaha” melahirkan anak perempuan.
Hal ini, semakin menunjukkan bahwa keseimbangan itu perlu. Walaupun pada lain sisi, dari segi persentase jumlah laki-laki dan perempuan di dunia, hal ini akan berakibat semakin menambah banyaknya jumlah perempuan.
Dalam pemahaman Islam, fenomena banyaknya jumlah perempuan ini, sebenarnya tidaklah mengherankan. Karena Nabi pun, beberapa ratus tahun yang lalu, telah mengatakan bahwa hal ini akan terjadi. Banyaknya jumlah perempuan, ketimbang jumlah laki-laki, adalah salah satu tanda dari tanda-tanda semakin dekatnya kiamat. Dan kiamat, bagi orang yang percaya, bukanlah sebuah berita duka. Sebaliknya, kiamat merupakan berita gembira. Karena saat itulah keadilan yang sejati ditegakkan.