Posts Tagged ‘Manusia’

Tentang Sebuah Tulisan

Mungkin, Milan Kundera benar, bahwa “tugas manusia bukanlah untuk menaklukkan masa depan, tapi menciptakan sejumlah kenangan yang dapat disebut dengan manis pada masa mendatang”.

Sudah menjadi takdir, perjalanan sejarah seorang manusia di muka bumi, dibatasi oleh ruang dan waktu. Ruang yang terbatas oleh kemampuan untuk menjangkaunya dan waktu yang terus saja berjalan, tak mengenal kompromi, tak tertaklukkan oleh kemampuan manusia yang nisbi. Hingga, akhirnya ia bertemu dengan kematian. Dengan cara seperti apakah manusia mencoba memperpanjang usia? Read the rest of this entry »

Sidang, Diskusi, Debat, dan Etika Dalam Rapat (Sidang)

Ada sidang atau rapat, ada diskusi, dan ada debat. Apakah bedanya?

Kalau dilihat dari bentuk dan teknis pelaksanaannya, maka ketiganya sangat sulit sekali untuk dibedakan. Bedanya tipis sekali. Sebab, pada dasarnya, ketiganya adalah wadah untuk menyalurkan pendapat. Agar bedanya tampak lebih kentara, maka kita harus melihat perbedaan ketiganya dari tujuannya. Read the rest of this entry »

Maaf, tanpa sengaja, Saya telah Hiatus…

Ini berkaitan dengan realisasi planning di tahun 2010. Akibatnya, ada sekian banyak agenda aktifitas offline yang mesti saya lakoni. Konsentrasi yang terfokus pada sebuah titik, mau tak mau, menyebabkan perhatian pada titik yang lainnya sedikit terabaikan. Salah satunya, ya… blog ini. Inilah kelemahan manusia. Tak selamanya mampu menjaga dan mengatur keseimbangan. :P Read the rest of this entry »

Tunjuk Ajar Melayu

Tunjuk ajar adalah ungkapan-ungkapan bijak yang dikemas dalam pantun atau syair – di lain waktu ia juga bisa berupa gurindam atau hikayat – berisi petuah, pengajaran atau nasehat orang tua kepada anak secara turun-temurun – atau dari orang tua-tua kepada generasi muda – dari generasi ke generasi dalam masyarakat Melayu. Defenisi ini adalah hasil tafsiran saya sendiri terhadap Tunjuk Ajar Melayu ini. Oleh sebab itu, mungkin, belum terlalu tepat benar.

Tunjuk ajar ini, dahulunya, hanya tersimpan dalam minda dan tersebar melalui tutur dari mulut ke mulut (ungkapan). Dan (mungkin) sejak era kepengarangan Raja Ali Haji ada upaya untuk “menyimpan” – dan juga menggubah – hal semacam ini dalam bentuk nukilan atau karya sastra. Read the rest of this entry »

Tentang Kebenaran dan Kebaikan

Empat hari saya terpuruk di sebuah desa di pedalaman dalam sebuah kegiatan survey, selama itu pula saya tak bersentuhan dengan komputer dan internet. Lalu, ketika saya pulang dan melihat blog ini, saya malah bingung mau update apa. :D Saya putuskan saja untuk berjalan-jalan ke toko buku. Saya menuju barisan novel-novel. Disanalah, pada sebuah buku saya temukan kata “kebenaran”, dan pada buku yang lain saya temukan kata “kebaikan”.

Kebenaran asal katanya adalah “benar”. Sedangkan kebaikan asal katanya adalah “baik”. Apakah “benar” itu? Dan apakah “baik” itu? Manakah yang harus lebih dahulu ada dari kedua kondisi ini? Benar dulukah? Atau, baik dulukah? Read the rest of this entry »

Semangat

Pada batasan yang bagaimanakah saya harus mendefenisikan kata semangat ini? Sudahlah, tak perlu diurai lebih jauh. Hadir atau hilangnya semangat dalam diri manusia, sudah cukup untuk memaknainya.

Yang jelas, semangat ini tentu saja masalah rasa, bukan masalah pikiran. Betul tidak? Walau tak menutup kemungkinan, semangat itu lahir dari sebuah proses alur berpikir. Dan, kita pun sudah tak perlu membantah peran semangat ini dalam kehidupan. Tanpa semangat, maka tiada kehidupan. Semakin tinggi semangat seseorang, semakin besar peluang seseorang melakukan sesuatu yang berharga bagi kehidupan.

Pertanyaan yang lebih penting dari itu adalah bagaimana menciptakan semangat? Atau, bagaimana supaya hidup senantiasa bersemangat? Read the rest of this entry »